Rabu 20 November 2019, 21:43 WIB

Hoaks Diprediksi tidak Surut di Pilpres 2024

M. Iqbal Al Machmudi | Politik dan Hukum
Hoaks Diprediksi tidak Surut di Pilpres 2024

Antara
Denonstrasi menolak hoaks

 

STAF Ahli Kominfo Hendri Subaktio mengingatkan jika hoaks tidak ditangkal dari sekarang, dampaknya akan terasa pada Pilpres 2024.

"Kalau di 2024 Pilpres masih kaya 2019, hoaks makin banyak. Mereka simpatisan yang belum selesai. Mengerikan jika berkolaborasi dengan politik praktis dan menggunakan kelompok itu (buzzer) jadi politik identitas itu semakin komplek. Terlebih teknologi menjadikan kita konten produser," kata Hendri di kawasan Pramuka, Jakarta Pusat, Rabu (20/11).


Hoaks, jelasnya, dianggap sudah menjadi bagian dari politik yang dapat mendongkrak elektabilitas atau mengalahkan rival.

"Hoaks ini sudah menjadi bagian jalur politik, politik ekonomi. Mereka dibayar menyebarkan hoaks, dengan menggunakan buzzer. Tapi hasil penelitian, buzzer itu politik dan massa melawan pemerintah. Kalau dari penelitian Oxford itu pemerintah gak ada saya lihat punya buzzer," ujar Hendri.

Penyebar hoaks saat ini diindikasikan berasal dari kelompok yang memang pada dasarnya membenci pemerintah maupun secara personal Presiden Joko Widodo.

"Mereka masih ingin ganggu pemerintahan. Mungkin memang musuh dari negara, transnasional yang merasa terpinggirkan oleh pemerintah Jokowi. Dan orang yang terlanjur benci dengan Jokowi. Mereka benci pemimpinnya sudah bersatu," tandasnya.

Untuk menangkal penyebaran hoaks tersebut,jelasnya, diperlukan hal sederhana yaitu kemawasa menanggapi berita, terutama dari berasal dari sosial media yang rentan validasinya.

"Fenomena ini jadi serius, sosial media itu sudah dilihat sebagai perang. Jika anda ingin menang kompetisi manapun maka pahami sosial media," tururnya. (OL-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More