Rabu 20 November 2019, 21:45 WIB

Film Paguruan 4.0 Juarai Eagle Awards Documentary 2019

Fathurrozak | Weekend
Film Paguruan 4.0 Juarai Eagle Awards Documentary 2019

MI/ Fathurrozak
Film Paguruan 4.0 Juarai Eagle Awards Documentary 2019.

FILM yang mengangkat realita para guru di Tabalong, Kalimantan Selatan dalam menghadapi era 4.0 ini memberikan tontonan yang menyorot dinamika manusia secara dekat. Dalam film, terlihat bagaimana para guru tua tampak kesulitan dalam mengakses teknologi. Kontras dengan para guru muda, yang tidak menemukan kesulitan dalam mengakses teknologi sebagai penunjang pengajaran mereka.

Paguruan 4.0 mengalahkan empat finalis lain, yakni Torang Ma Ampung (juara 2), Jejak Sinyal di Kaki Egano (juara 3), Emas Hitam, dan Asa Dusun Sri Pengantin. Sebelumnya proses seleksi dilakukan sangat ketat, salah satunya tahap penjurian wawancara oleh Aryo Danusiri, Sha Ine Febriyanti, dan Tjandra Wibowo. Setelah melakukan proses produksi dan editing, kelima film itu kembali dinilai oleh juri yang melibatkan Anggy Umbara, Sha Ine Febriyanti, dan Yandy Laurens untuk memperebutkan 3 posisi terbaik.

"Ketiga film ini, ketika kami menonton, bahwa kami lupa ini adalah film. Seolah kami diajak ke tempat melihat kesulitan itu, memotret dimensi manusia, rasanya walau baru 20 menitan menonton, kami sudah kenal dekat. Dan Paguruan 4.0 layak menjadi juara pertama. Selain membingkai sisi humor, sutradaranya juga memiliki statement yang jelas," ungkap Yandy saat penganugerahan di CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, (20/11).

Eagle Institut dalam penyelenggaraan tahun ini bekerja sama dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kominfo RI, bertema Bakti Indonesia. Kelima wilayah yang diangkat dalam dokumenter oleh kelima finalis juga tengah menjadi fokus BAKTI untuk bisa mendapat akses internet.

Sutradara Paguruan 4.0 Abdi Firdaus, menyebutkan bahwa film yang ia buat sebagai cara untuk menunjukkan bahwa meski saat ini internet dan industri 4.0 kerap kali digaungkan, toh justru seringakli internet menimbulkan permasalahan baru. Dalam hal ini, para guru yang tidak berusia muda harus adaptif dengan kehadiran internet. Baik untuk mengurusi kurikulum maupun data siswa.

"Sebelumnya proposal ini sudah kami ajukan pada 2017. Namun, saat itu tidak lolos. Dan pada tahun ini kembali kami ajukan, dengan sebelumnya lebih memperdalam riset dan data," kata Lyanta Laras Putri. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More