Rabu 20 November 2019, 14:15 WIB

Astronom Merekam Suara Nyanyian Seram dari Bumi

Suryani Wandari | Weekend
Astronom Merekam Suara Nyanyian Seram dari Bumi

AFP
Proyeksi citra bumi.

PARA astronom telah merekam untuk pertama kalinya 'nyanyian' perang yang menakutkan yang dinyanyikan oleh medan magnet bumi ketika ditabrak oleh badai partikel bermuatan yang dikirim dari Matahari.

Nyanyian bumi itu merupakan versi sonik dari pertunjukan cahaya aurora yang menakjubkan yang dapat dilihat di dekat kutub ketika partikel bermuatan, proton dan elektron yang kemudian berinteraksi dengan atmosfer bumi.

Dilansir dari Dailymail, lagu ini diidentifikasi setelah tim mengirim empat pesawat ruang angkasa melalui 'foreshock' atau wilayah medan magnet Bumi yang menghadap Matahari dan merupakan bagian pertama yang terkena dampak oleh badai matahari yang masuk.

Lagu itu dibuat terdengar oleh para ahli dari Badan Antariksa Eropa (ESA), yang menganalisis gelombang magnetik yang dihasilkan saat 'angin matahari' ini menghantam Bumi. Mereka mengubah hasilnya menjadi frekuensi yang dapat didengar, menghasilkan suara yang tidak biasa. Mereka menggambarkannya lebih seperti efek suara dari film fiksi ilmiah.

Biasanya, aliran konstan partikel bermuatan yang membentuk angin matahari menyebabkan foreshock yang memancarkan gelombang magnetik sederhana. Ketika diubah menjadi gelombang audio, aliran konstan itu terdengar seperti not tunggal, not rendah.

Namun, ketika badai matahari menghantam bumi, goncangan medan magnet menyebabkan adanya musik dengan nada yang lebih kompleks. "Ini seperti badai mengubah penyetelan foreshock," kata penulis makalah dan fisikawan ruang angkasa Lucile Turc dari University of Helsinki di Finlandia.

Data untuk penelitian ini dikumpulkan oleh misi Cluster II ESA, yang menempatkan empat pesawat ruang angkasa yang identik, terbang dalam formasi, di magnetosfer Bumi. Alat yang mereka gunakan sering disebut sebagai probe.

Diluncurkan pada tahun 2000, probe telah menganalisis medan magnet bumi yang luas selama hampir dua dekade. Medan magnet bertindak seperti 'gelembung' yang tak terlihat, melindungi kehidupan di Bumi dari aliran partikel bermuatan khususnya elektron dan proton  yang meledak terus menerus dari Matahari.

Empat pesawat ruang angkasa Cluster II terus-menerus mengorbit Bumi, berulang melalui guncangan. Pada bagian awal misi mereka, dari tahun 2001 hingga 2005, penyelidikan terbang melalui enam tabrakan antara foreshock dan badai matahari, merekam gelombang yang dihasilkan.

Memahami cuaca luar angkasa menjadi semakin penting bagi masyarakat karena dampak buruk badai matahari pada elektronik dan teknologi
sensitif baik di darat maupun di luar angkasa.

"Ini adalah contoh yang bagus tentang bagaimana Cluster terus memperluas pengetahuan kita tentang hubungan Matahari-Bumi, bahkan bertahun-tahun setelah data asli diperoleh," tambah penulis Philippe Escoubet dari European Space Research and Technology Center. "Hasilnya membawa kita lebih dalam ke detail interaksi magnetik mendasar yang terjadi di seluruh alam semesta," lanjutnya. Temuan lengkap dari penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More