Rabu 20 November 2019, 08:15 WIB

Hasil Kebun Petani Jawa Tengah Mendunia

HT/DW/N-2 | Nusantara
Hasil Kebun Petani Jawa Tengah Mendunia

ANTARA/ALOYSIUS JAROT NUGROHO
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melihat produksi sarang burung walet di PT Waleta Asia Jaya, Tingkir, Salatiga, Jawa Tengah, kemarin

 

DI Indonesia mungkin belum banyak orang yang tahu manfaat biji kapuk atau kapas. Namun, di Jawa Tengah, hasil pertanian yang dulu banyak dibuang itu bisa diproses menjadi minyak kapuk atau biodiesel.

Kemarin, bersama dengan pro-duk lain seperti edamame, bungkil, sarang walet, cengkih, kopi, dan biji pinang, minyak kapuk mulai diekspor ke Belanda, Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat, dan Iran. Apresiasi atas kerja keras warga Jawa Tengah itu diberikan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dengan datang ke Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, dan melepas ekspor tersebut.

"Hari ini sangat membanggakan. Dari Jawa Tengah, kita ekspor produk pertanian hampir ke seluruh dunia. Dalam persiapan sangat singkat, Pak Ganjar mampu menjadi contoh peningkatan ekspor di Indonesia. Saya berharap daerah lain dapat melakukan hal yang sama," kata Syahrul sambil melirik bangga ke arah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Dia menambahkan, ekspor hasil pertanian harus digenjot. Komoditas pertanian Indonesia harus menjadi komoditas yang diperdagangkan secara internasional.

Ganjar pun mengaku banyak potensi pertanian Jateng yang belum dikelola dengan baik. Padahal, banyak hal yang biasanya dianggap sepele ternyata laku di pasar ekspor.

"Misalnya daun sirsak kering, tokek, ular, bunga melati, ternyata itu bisa diekspor. Maka kita coba dorong terus agar potensi ini tergarap baik," tambahnya.

Potensi pertanian Jawa Tengah, lanjut dia, cukup besar. Bahkan banyak di antara potensi itu sudah moncer di pasar internasional.

Namun, selain cerita sukses, upaya daerah menggiatkan eks-por masih diwarnai masalah. Di Palembang, Sumatra Selatan, misalnya, sebanyak 25 kontainer berisi kelapa utuh bertumpuk di Pelabuhan Boom Baru. Kelapa yang seharusnya diekspor ke Thailand itu ditolak pemesannya karena soal kualitas.

"Sudah tumbuh tunas. Kami menderita kerugian sekitar Rp2,5 miliar karena ekspor tidak bisa dilaksanakan," ujar Muhammad Rajief Nasir, Direktur PT Sentral Argo Indonesia, pemilik barang.

Jumlah kelapa yang hendak diekspor itu mencapai 625 ribu butir. Tidak semua kelapa sudah bertunas saat tiba di negara tujuan, tapi seluruhnya direekspor ke Palembang.

Padahal, ia mengaku sebelum dikirim ke Thailand sudah melakukan pengawasan kualitas kelapa utuh. Ini kejadian pertama.

Rajief berharap pemerintah dapat membantu eksportir untuk melakukan kesepakatan dengan pemerintah Thailand terkait dengan regulasi kualitas kelapa ekspor. (HT/DW/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More