Rabu 20 November 2019, 07:20 WIB

Mencegah Anak Gagal Tumbuh

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Mencegah Anak Gagal Tumbuh

Kemenkes/Who/NRC/Rkp/Dok.Mi/Seno
Stunting pada anak

 

DUA sosok mungil tertidur pulas di sisi samping Amira, 32, malam itu. Si sulung, Kiki, 5, tidur memeluk lengan kanan Amira, sedangkan sang adik Novan, 2, memeluk lengan kirinya.

Amira beringsut turun dari tempat tidur dan menempatkan sebuah guling di antara mereka. Lekat-lekat, Amira memperhatikan kedua buah hatinya itu. Tinggi dan besar badan Novan sudah menyamai sang kakak. Padahal, keduanya terpaut usia tiga tahun.

"Kiki dan Novan sama-sama ASI eksklusif 2 tahun. Namun, saat diukur sekitar umur 2 tahun, lingkaran kepala Kiki jauh di bawah angka normal karena kekurangan gizi. Dokter bilang, tubuh anak saya itu tidak tumbuh seperti seharusnya," ujar Amira, kemarin.

Amira mengisahkan, saat berusia 1 tahun, si sulung Kiki susah makan dan pemilih makanan (picky eater). Ia tidak menyukai nasi. Karena itu, Amira mengakalinya dengan memberikan makaroni panggang. Untuk memakan sayur dan buah, Kiki juga susah sekali dibujuknya. Hanya sesekali Amira berhasil menyuapkan buah ke mulut Kiki.

Karyawati bank pemerintah itu pun berbesar hati ketika dokter mengatakan kalau Kiki masih berpeluang tumbuh hingga usianya 7 tahun. "Jadi, saya sempat beli suplemen ekstrak sayur dan buah buat membantu asupan gizinya. Saya juga berikan dia terapi jus, mencoba mengenalkannya pada aneka makanan, sampai mengajaknya berenang," imbuhnya.

Tidak hanya Kiki, masih banyak lagi anak di Indonesia yang mengalami kasus serupa. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018, angka prevalensi stunting tercatat tinggi sebesar 30,8%, di atas rekomendasi WHO sebesar 20%. Angka itu cukup mengkhawatirkan karena ada 3 dari 10 anak di Indonesia yang stunting.

Kekerdilan terjadi ketika anak di usia 0-5 tahun gagal tumbuh maksimal atau kondisi tinggi badan seseorang jauh lebih pendek jika dibandingkan dengan tinggi badan orang seusianya. Tidak hanya gagal tumbuh, stunting juga berakibat serius pada perkembangan otak dan metabolisme tubuh.

Dokter spesialis gizi dari RS Bethsaida Maria Inggrid menjelaskan, gangguan perkembangan otak di masa balita sangat mempengaruhi kemampuan kognitif. Sementara itu, terhambatnya pertumbuhan juga berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh dan kapasitas fungsional.

"Penyebab tidak langsung stunting berupa aksesibilitas ke makanan, pola asuh dalam rumah, air minum, sanitasi, akses ke layanan kesehatan. Sementara itu, penyebab langsungnya, yaitu masalah asupan gizi dan kesehatan," kata Maria, tadi malam.

Menurutnya, seorang anak dapat didiagnosis terkena stunting setelah anak itu lahir, kemudian saat diukur bentuk fisiknya (tinggi dan berat) tidak sesuai standar. "(Bisa didiagnosis) dari sesudah lahir karena status gizi anak kan bisa kita ukur sampai usia 2 tahun," tuturnya.

Tiga fase penting

Apakah ada kesempatan untuk mengubah kondisi stunting pada anak? Maria menyatakan, untuk anak berusia di bawah 2 tahun yang sudah telanjur terkena stunting dapat ditangani dengan memberikan asupan nutrisi yang cukup, seperti vitamin, mineral, dan protein.

"Jika ditangani dengan cepat dan tepat, kondisi pertumbuhan anak tersebut dapat membaik meski tidak seoptimal anak yang tidak mengalami stunting," imbuhnya.

Setidaknya, tiga fase penting yang perlu diperhatikan para orangtua untuk mencegah stunting, yakni status gizi ibu sebelum hamil, saat hamil, dan setelah anak lahir. Perempuan dewasa disarankan menjaga asupan gizinya, bahkan sejak sebelum menikah guna menekan jumlah stunting.

Tak hanya itu, Deputi Bidang Jasa Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mego Pinandito menambahkan, pola hidup remaja masa kini yang kurang sehat seperti sering mengonsumsi makanan cepat saji/junk food serta melakukan diet ketat juga dapat memicu stunting.

Sementara itu, ahli gizi dari Universitas Tanjungpura Pontianak, Rahmania, mengingatkan orangtua untuk memberi contoh makan bervariasi dan bergizi pada anak. Itu karena bagaimanapun anak meniru pola orangtua, termasuk selera makannya.

Salah satu sumber makanan bergizi tinggi yang bisa dijadikan asupan dalam mengantasi stunting ialah dengan memperbanyak konsumsi daun kelor yang mengandung puluhan asam amino.

Ia menambahkan, kasus kekerdilan tidak ditentukan mapan atau tidaknya orangtua si anak. Jika orangtua yang mapan sibuk dengan pekerjaannya dan si anak dijaga nenek atau menggunakan jasa asisten rumah tangga atau lainnya."Belum lagi ada anak suka ngemil dan karena ngemil ia kenyang." (Ant/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More