Selasa 19 November 2019, 20:37 WIB

Isu Resesi Global, Ini Rekomendasi Kadin

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Isu Resesi Global, Ini Rekomendasi Kadin

AFP/Johannes Eiisele
Suasana kelesuan di pasar modal AS

 

WAKIL Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani merekomendasikan pelaku usaha untuk melakukan kajian mendalam ihwal perdagangan dan investasi.

Rekomendasi itu diberikan berdasarkan laporan Global Economic Prospects Juni 2019 yang menyebutkan melambatnya laju ekonomi global diakibatkan oleh lesunya perdagangan internasional.

Proyeksi pertumbuhan PDB global ditaksir hanya mencapai 2,6%. Angka itu merupakan pertumbuhan terendah dalam satu dekade terakhir atau sejak krisis keuangan global pada tahun 2008.

Untuk mendorong perdagangan dan investasi, kata Shinta, diperlukan reformasi institusi publik dan swasta mencakup promosi, market intelegent, pengumpulan data dan informasi hambatan non-tarif, pengumpulan data usaha, business matching dan pendampingan.

Shinta menegaskan, pemanfaatan peluang yang diberikan oleh pemerintah melalui Free Trade Agreement (FTA) dan perjanjian antara Indonesia dengan mitra dagang merupakan sebuah keniscayaan.

Baca juga : Indonesia Bisa Kuasai Pasar Ikan di Meksiko

"FTA belum sepenuhnya dipahami dan dapat dimanfaatkan secara baik oleh pengusaha Indonesia. Untuk penguatan daya saing pengusaha Indonesia dalam pasar bebas," kata Shinta melalui keterangan resmi, Selasa (19/11).

Oleh karenanya, Kadin merekomendasikan agar dilakukan feasibility study secara lengkap meliputi data market, demand dan analisis dampak terkait negosiasi FTA.

Hal itu diperlukan agar pemerintah dapat menetapkan posisi runding dan prioritas yang berdampak positif bagi Indonesia. Selain itu, konsultasi publik dan swasta juga perlu dilakukan secara konsisten, berkelanjutan dan sistematis.

"Kami juga merekomendasikan pemerintah untuk melakukan pengawasan pemenuhan komitmen FTA oleh negara mitra dan memberikan fasilitasi kepada pengusaha Indonesia yang mengalami kendala dalam pemanfaatan FTA di negara mitra," ungkap Shinta.

Lebih jauh, ia mengungkapkan, sejalan dengan memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Kadin telah membentuk satuan tugas Peningkatan Perdagangan dan Investasi.

Baca juga : Kadin: Produktivitas Pangan harus Digenjot

Satuan tugas itu bertugas untuk memetakan sembilan aspek penting menyoal masalah ekspor dan investasi.

Sembilan aspek tersebut yakni reformasi logistik, sumber daya manusia dan produktivitas tenaga kerja, perpajakan, insentif dan investasi dua arah, peluang ekspor barang Indonesia di pasar dunia, international marketing dan ekspor UKM, standarisasi dan sertifikasi.

Kemudian pemanfaatan perjanjian perdagangan bebas dan reformasi kebijakan dan terakhir reformasi institusi publik dan swasta.

"Sehubungan dengan peluang ekspor barang Indonesia di pasar dunia, pemerintah perlu melakukan mapping produk-produk unggulan dan potensial Indonesia, serta memberikan fasilitasi dan insentif kepada pelaku usaha yang akan melakukan ekspor, melakukan kerja sama dengan pemerintah negara lain dalam hal harmonisasi regulasi teknis dan standar, juga pengakuan terhadap lembaga-lembaga yang melakukan pengujian, sertifikasi, inspeksi, dan akreditasi di Indonesia," pungkas Shinta. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More