Selasa 19 November 2019, 19:50 WIB

Romo Benny: Pancasila Mesti Jadi Kekuatan Ideologi Humanis

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Romo Benny: Pancasila Mesti Jadi Kekuatan Ideologi Humanis

MI/Oebai
Anggota BPIP Romo Benny Susetyo menjadi narasumber pada Konferensi Nasional Komunikasi Humanis di Kampus Untar Jakarta, Selasa (19/11).

 

KEMAJUAN teknologi yang gegap gempita di era revolusi industri 4.0 yang banyak menjadi acuan kalangan generasi milenial diharapkan tetap terarah pemanfaatannya yang produktif dan humanis.

Dalam kaitan ini, Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) berupaya mengaktualisasikannya tidak menjadi doktrin semata tetapi dengan membangun imajinasi mimpi, mengaktualisasikan Pancasila dalam tindakan yang konkret.

"Generasi milenial membutuhkan sebuah aplikasi, mereka diharapkan menghasilkan sistem misalnya permainan atau animasi. Mewujudkan sila-sila Pancasila diterjemahkan sesuai dengan kondisi anak milenial yang kontekstual dengan perubahan zaman. Bagaimana Pancasila mampu menjadi sebuah kekuatan ideologi ketiga yaitu humanisme. Sehingga Pancasila harus mampu memberi tawaran nilai-nilai martabat manusia menjadi arus utama, menjadi pendidikan yang membebaskan dan memerdekakan maka kedepan mereka memajukan nilai-nilai kemanusiaan yang universal demi kemajuan zamannya," kata anggota BPIP, Romo Benny Susetyo, di acara Konferensi Nasional Komunikasi Humanis (KNKH) yang digelar Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara (Fikom-Untar) di Jakarta, Selasa (19/11).

Romo Benny mengingatkan persoalan dunia baru era digitalisasi yang mengatasi ruang dan waktu sehingga manusia menjadi alat teknologi terjadi reduksi kemanusiaan, manusia menjadi mekanistis direduksi oleh teknologi yang berbahaya menuju dehumanisasi.

Selanjutnya, manusia dalam ekosistemnya kehilangan rasa kemanusiaannya, manusia menjadi lebih egois mau menang sendiri dan yang paling berbahaya menghancurkan peradaban.

"Nah, berikutnya mencuat kebencian, teknologi yang bisa memalsukan data menjadi alat kejahatan kemanusiaan, teknologi yang seharusnya menjadi alat pemersatu manusia malah menjadi alat untuk menghancurkan kemanusiaan," tegasnya.

Tantangan ke depan, lanjut Benny, dengan membangun komunikasi yang humanis yaitu membangun ruang-ruang dialog sehingga ekspresi dialog lebih kepada perjumpaan, ruang perjumpaan anak-anak bangsa yang berbeda-beda keyakinan, agama, strata sosial, budaya dan lainnya maka kemanusiaan akan makin ditingkatkan melalui solidaritas, kebersamaan dan gotong royong sehingga mewujudkan persaudaraan di antara anak bangsa.

"Kondisi ini yang selama ini hilang, sekarang kita menghadapi masalah besar yaitu intoleransi, kekerasan yang tidak hanya verbal juga kekerasan ekonomi yaitu eksploitasi manusia, manusia jadi budak dan alat saja, tetapi rasa kemanusiaan hilang. Ke depan, bagaimana kita mampu memuliakan manusia sehingga ideologi Pancasila menjadi ideologi bangsa bahwa Pancasila itu sebenarnya kemanusiaan dan keadilan, ini yang hilang di era digital. Karena di era digitalisasi ini manusia dieksploitasi, akibatnya sistem teknologi hanya memperbudak manusia. Manusia merdeka itu yang tidak tergantung teknologi menjadi alat, tapi teknologi menjadi sarana untuk mempersatukan sarana perjumpaan dan memperkuat kebangsaan, nah itu harusnya menjadi agenda ke depan," paparnya.


Baca juga: Rute Pembangunan SDM Harus Miliki Tahapan yang Jelas


Romo Benny mengutarakan, teori komunikasi harus menjawab tantangan yang mampu melakukan edukasi kepada masyarakat agar sadar bahwa teknologi bukan segala-galanya ,tidak menjadikan manusia mekanistis tapi manusia yang sosialis,yang bersosial. Manusia berjumpa dengan teman-temannya secara personal tidak lagi sibuk dengan teknologinya, dengan gawai yang melupakan sentuhan.

"Mesti ada pendidikan kritis dalam menggunakan media sosial atau medsos dan penggunaan gadget atau gawai yang tidak disalahgunakan sebagai kejahatan kemanusiaan," tukasnya.

Dalam kesempatan sama, Rektor Untar, Agustinus Purna Irawan, mengingatkan kalangan ahli komunikasi dan tokoh publik mesti mampu menyampaikan informasi publik kepada khalayak yang sesuai dengan kondisi manusia Indonesia yang beragam suku bangsa, agama dan kedaerahan.

"Terkadang ahli komunikasi menjadi penyebab miskomunikasi. Hal ini menjadi tantangan bagi 250 juta penduduk Indonesia. Manakala terjadi miskomumikasi masalah yang muncul menjadi berat dan gaduh. Maka marilah kita melakukan komunikasi yang humanis yang membahagiakan yang tidak berujung kegaduhan apalagi menjadi anarkis," tegasnya.

Agustinus mengaku sepakat Pancasila sebagai ideologi bangsa yang dapat diterima generasi milenial dihidupkan kembali menjadi mata pelajaran di sekolah dan di kampus.

"Ini untuk menjaga keragaman dan keindonesian kita sebagai bangsa yang amat beragam, suku dan agama yang dipersatukan oleh Pancasila," tegasnya.

Dekan Fikom Untar Riris Loisa menambahkan Indonesia saat ini berada di era digital yang didukung oleh perkembangan teknologi komunikasi. Informasi sangat mudah beredar nyaris tanpa batas ruang dan waktu. Kecepatan arus informasi ini menyebabkan kehidupan masyarakat semakin dinamis dan semarak. Namun, era digital juga membawa berbagai persoalan baru.

Teknologi ini memberi peluang kepada berbagai pihak untuk menyebarkan informasi tanpa menunjukkan identitas sumber yang sesungguhnya. Kondisi ini menciptakan ladang subur bagi tumbuhnya beragam informasi menyimpang seperti berita bohong atau hoaks.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi masyarakat kontemporer, karena ketika diterpa arus informasi yang demikian cepat dan masif, di saat yang bersamaan anggota masyarakat yang berpartisipasi di dalam lalu lintas komunikasi digital harus tetap memiliki kepekaan nurani.

"Hal ini memperlihatkan bahwa kualitas manusia komunikasi menjadi kata kunci era digital yang dihadapi masyarakat kontemporer," kata Riris.

Menurut Riris, kualitas manusia komunikasi merupakan fokus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara (Fikom Untar). Dikatakan, Fikom Untar mengembangkan pendidikan tinggi bidang komunikasi yang didasari nilai humanis, entrepreneurship, profesionalisme, dan integritas.

Kontribusi Fikom Untar di dalam membangun manusia komunikasi yang berkualitas diwujudkan melalui KNKH 2019, suatu forum yang menghimpun berbagai pemikiran mengenai komunikasi masyarakat kontemporer agar dapat menjadi kumpulan manusia komunikasi yang lebih baik. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More