Rabu 20 November 2019, 03:05 WIB

Upaya Flanagan Menjaga Warisan Kubrick dan King

Galih Agus Saputra | Weekend
Upaya Flanagan Menjaga Warisan Kubrick dan King

IMDb/Doctor Sleep (2019)
Aktor Ewan McGregor sebagai Dan Torance dalam film Doctor Sleep (2019).

Setelah berhasil melarikan diri bersama ibunya dari Overlook Hotel, Dan Torrance alias Danny kini tumbuh dewasa. Namun begitu, ia kini tengah menghadapi persoalan lain mulai dari putus asa, kehidupan yang keras, termasuk alkoholisme akut. Kurang lebih, seperti itulah gambaran yang diberikan oleh sutradara Mike Flanagan pada menit-menit awal film Doctor Sleep (2019).

Banyak orang mungkin mafhum, Doctor Sleep (2019) ialah sekuel dari film horor legendaris, The Shinning (1980). Kedua film tersebut diadaptasi dari novel-novel karya Stephen King dengan judul yang sama terbitan 2013 dan 1977.

Doctor Sleep boleh dibilang tidak terlalu mencolok di box office. Namun begitu, ia sangat menarik untuk diulas dan patut diapresiasi sebagai salah satu film dengan fantasi horor psikologi yang cukup baik di tahun ini.

Perlu diakui, Flanagan yang sebelumnya menyutradari The Haunting of Hill House (2018), sesungguhnya memiliki tugas cukup berat dalam menggarap Doctor Sleep. Selain harus dapat merebut hati para penggemar novel King, ia juga butuh siasat dan kerja keras untuk menjaga kesinambungan narasi dengan yang telah dibangun sutradara Stanley Kubrick dalam The Shining.

Tetapi, Flanagan tampaknya cukup cerdik dalam mengelaborasi masalah sosial dan psikologis yang dialami Danny. Sosok Danny dewasa dalam film ini diperankan aktor Ewan McGregor. Setelah sekian tahun mengacuhkan kemampuan psikologis --yang dalam film disebut shining-- ia kini ditarik kembali ke dalam dunia yang penuh pemandangan astral, bahkan bertemu juga dengan seorang gadis remaja berkemampuan sama, Arba Stone (diperankan Kyliegh Curran).

Perjumpaan itu menjadi kisah lanjutan, sekaligus awal petualangan Danny bersama Arba, kembali ke Overlook Hotel, tempat ayah Danny, Jack Torrance --karakter utama di film The Shining-- menjadi gila dan tewas.  Dan, semakin seru pula kita menghadapi pasukan Simpul Sejati (True Knot) yang dipimpin Rose (Rebecca Ferguson).

Melihat rangkaian konflik di antara para tokoh itu, dapat dikatakan bahwa Flanagan ialah seorang sutradara yang cukup sabar dan detil dalam mengarap film.

Alur cerita yang disuguhkannya menunjukkan kesinambungan yang cukup mengesankan, bahkan penokohannya pun juga cukup apik karena di satu sisi menonjolkan trauma, di sisi lain menunjukkan adanya visi yang cukup mengundang decak kagum pemirsa.

Tak kalah menarik, narasi itu lantas disuguhkan Flanagan dengan cukup halus, tenang, dan tak meledak-ledak ala kejutan (jump scares) seperti banyak film horor kekinian.

Siapa pun yang melihat Doctor Sleep (2019) barang kali akan bertanya-tanya, apakah ia film horor atau drama psikologis?

Dalam beberapa kasus tertentu, ia memang berurusan dengan The Shining (1980). Namun begitu ia juga menunjukkan atmosfer berbeda. Bukan plot lama yang hendak dibangun Flanagan, melainkan cara lain untuk merekonsiliasi visi Kubrick maupun King dalam novel kelanjutannya. Bukan rahasia lagi bahwa King membenci film The Shining, yang ia anggap, bukan saja melenceng dari novel, tapi juga misoginis.

Namun begitu, kisah ini memang sedikit mengambang pada klimaksnya. Pertempuran Danny-Arba melawan Rose berakhir di Overlook Hotel dan memunculkan mahluk-mahluk astral yang dipenjarakan Danny dalam istana pikirannya. Setelah itu, keberadaan Danny tak diketahui lagi hingga muncul kembali di rumah bersama Arba.

Bagian tersebut, pada kesempatan selanjutnya, sesungguhnya dapat dimaknai sebagai sikap dan penghormatan Flanagan atas warisan cerita yang digarap sebelumnya oleh Kubrick dan King sehingga menjadi akhir cerita yang tak terduga-duga. Selain itu, ia juga memunculkan pertanyaan atas kemungkinan film sekuel.

Doctor Sleep (2019) sungguh membuat penontonnya lupa jika mereka telah duduk termangu di bioskop selama kurang lebih dua setengah jam. Alur yang disajikan sungguh nikmat, dan pada akhirnya turut membuat film yang dirilis di Indonesia sejak 6 November 2019 itu menjadi salah satu kisah fantasi psikologis yang cukup baik di antara film serupa lainnya, seperti Beautiful Mind (2001) yang dibintangi Russell Crowe, atau Inception (2010) yang dibintangi Leonardo DiCaprio. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More