Selasa 19 November 2019, 18:40 WIB

Mentan Syahrul Tinjau Rumah Prosesing Sarang Walet di Salatiga

mediaindonesia.com | Ekonomi
Mentan Syahrul Tinjau Rumah Prosesing Sarang Walet di Salatiga

DOK KEMENTAN
Mentan Syahrul Yasin Limpo (ketiga dari kanan) memperlihatkan produk dari sarang burung walet.

 

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengunjungi Instalasi Karantina Hewan atau rumah prosesing sarang walet di kawasan Salatiga, Jawa Tengah, Selasa (19/11). Dalam kunjungan ini, Mentan meninjau berbagai proses produksi walet hingga disiapkan menjadi produk ekspor.

"Setelah meninjau ini, strategi Kementan adalah meningkatkan ekspor yang ada menjadi 3 kali lipat. Tentu saya juga berharap selama 5 tahun ini kita akan bicara grafik atau gerakan ekspor dengan mempersiapkan hulu dan hilir untuk kesejahteraan," ujar Syahrul, Selasa sore.

Menurut dia, Kementan akan menyiapkan kelompok pengelola rumah walet sebagai pihak yang berperan di hulu. Selanjutnya menyiapkan pabrik sebagai kelompok yang berperan di hilir.

"Oleh karena itu saya berharap kepada seluruh jajaran di Kementerian Pertanian untuk terus mendorong SBW (sarang burung walet) sebagai komoditas penting dan dipersiapkan ekspor dengan kemasan yang sangat baik," katanya.

Berdasarkan data sertifikasi ekspor perkarantinaan IQFAST, Karantina wilayah kerja Semarang mencatat adanya 47,4 ton SBW dengan nilai transaksi Rp17,6 miliar berhasil melapak di pasar ekspor mancanegara selama Januari hingga Oktober 2019. Sementara secara nasional, volume ekspor SBW menvapai 640,7 ton atau senilai Rp2,2 triliun.

"Selain potensi yang besar, industri sarang burung walet juga menyerap banyak tenaga kerja. Untuk itu, Barantan (Badan Karantina Pertanian) harus melayani, mengawal dan menjaga betul," katanya.

Kepala Barantan, Ali Jamil menjelaskan, bahwa Kementan selama ini terus mendorong produksi walet melalui rumah pemrosesan walet yang sudah teregistrasi. Dalam proses itu, pemerintah sendiri tidak mengenakan biaya atau nol rupiah (Rp0).

"Penguatan laboratorium penguji karantina pertanian yang terakreditasi terus dilakukan agar eksportir dapat lebih mudah. Yang paling penting, output produk sarang burung walet Indonesia harus tertelusur. Jadi nanti tidak ada lagi negara tujuan yang meragukan kualitas produk sarang burung walet dari Indonesia," katanya. "Sehingga tidak perlu lagi negara tujuan meregistrasi secara langsung rumah walet maupun tempat prosesing walet kita, imbuh Kabarantan," tambahnya.

Di samping itu, Kementan melalui Barantan juga menyiapkan sistem permohonan secara online dengan waktu yang diperlukan hanya 8 hari kerja. Padahal sebelumnya proses permohonan inu mencapai tiga hingga empat bulan.

"Untuk para eksportir, kalian sahabat petani walet. Jangan ekspor dalam kondisi mentah. Minimal harus diolah, dalam bentuk setengah jadi bahkan produk siap konsumsi. Agar banyak yang menjadi sejahtera dengan nilai tambah," tutupnya. (RO/OL-10)

Baca Juga

Ist

Kemenperin Dampingi Sektor Manufaktur Menuju Industri 4.0

👤Syarief Oebaidillah 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 22:20 WIB
Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus dampingi sektor manufaktur menuju industri...
Ist

Optimalkan Portofilio, PGN Kejar Pengembangan Bisnis Global LNG

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 22:06 WIB
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai Subholding Gas PT Pertamina (Persero) berupaya untuk meningkatkan kapabilitas dalam pengelolaan...
Dok. Blibi

Pendampingan UMKM Masuk Ekonomi Digital Makin Masif

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 14 Agustus 2020, 21:30 WIB
Baru 13 persen atau sekitar 8 juta pelaku UMKM yang memanfaatkan platform digital dalam proses...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya