Selasa 19 November 2019, 14:06 WIB

Kopi Abah Capar Usaha Warga Desa Terpencil

Supardji Rasban | Nusantara
Kopi Abah Capar Usaha Warga Desa Terpencil

MI/Supardji Rasban
Warga Desa Capar, Kecamatan Salem, Brebes membuka usaha kopi melalui BUMDes.

 

UPAYA pemerintah mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang anggarannya diambilkan dari dana bantuan desa disambut antusias di banyak daerah di pelosok Tanah Air. Seperti yang dilakukan BUMDes Capar, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Saat ini BUMDes Capar tengah mengembangkan produksi kopi bernama kopi Abah Capar.
     
Berada dekat puncak gunung di wilayah barat daya Kabupaten Brebes berbatasan dengan Kabupaten Kuningan Jawa Barat, Desa Capar merupakan desa terpencil memiliki lahan subur yang menghasilkan kopi.

Kopi produksi Desa Capar yang diberi nama Kopi Abah Capar tersebut memiliki berbagai varian yang bisa ditawarkan bagi para penikmat kopi. Tokoh pemuda Desa Capar Edi Santoso yang sekaligus menjadi manajer BUMDes Capar menuturkan ide memproduksi kopi Abah Capar berawal dari rasa keprihatinan warga di desanya. Banyak pohon kopi tumbuh di wilayah itu namun tidak bisa dikelola dengan baik oleh masyarakat setempat.

"Melalui Bumdes barulah pohon kopi yang banyak ditanam warga dapat dikelola menjadi kopi robusta dengan berbagai varian," ujar Edy, Senin (18/11/2019).

Edy bercerita awal pembuatan kopi dari mulai memetik biji kopi yang tumbuh di kawasan hutan kemudian dijemur selama dua minggu sampai benar benar biji kopi mengering.
Barulah biji kopi dimasukkan dalam mesin untuk disangrai sampai berwarna kehitaman. Setelah proses sangrai selama lima belas menit barulah biji kopi tersebut digiling untuk menjadi bubuk.
     
"Setelah jadi bubuk kemudian dikemas dalam bungkusan dengan berbagai varian," ucap Edy.

Kepala Desa Capar, Kusminta menjelaskan di desanya ada sekitar 200 hektare (ha) lahan yang ditanami kopi karena mayoritas masyarakatnya yang memang menjadi petani kopi. Menurut Kusminta 200 orang atau 80% warga Desa Capar bekerja di ladang-ladang tanaman kopi.

"Setiap musim panen bisa menghasilkan 50 ton biji kopi, dan 20 ton di antaranya dikelola langsung oleh BUMDes Capar," terangnya.
     
Pemkab Brebes mendukung sekaligus mengapresiasi perkembangan kopi di Desa Capar. Bahkan di dataran tinggi Kecamatan Salem tidak hanya Desa Capar yang menghasilkan kopi.

"Ada juga desa penghasil kopi lainnya di antaranya Desa Kadu Manis, Citimbang, Windu Asri, Windu Sakti, Gandoang serta Desa Pasir Panang," tutur Camat Salem, Nur Ari HY.

Kopi dari Desa Capar tersebut memiliki berbagai varian rasa kopi yang bisa menjadi pilihan bagi para penikmat kopi. Dari mulai varian rasa kopi pahit, medium dengan rasa sedang pahit serta spesialis mix yang dipadukan dengan gula aren serta kopi giling kasar.
     
"Masing masing kopi harganya bervariasi setiap kemasannya dari mulai Rp20 ribu hingga Rp25 ribu," kata Nur Ari.

baca juga: Lokalisasi GBL di Perbatasan Semarang-Kendal Ditutup
     
Menurut Nur Ari di Desa Capar juga ada kopi spesial yakni kopi luwak liar yang persediannya hanya terbatas 10 kilogram per tahunnya. Kopi Luwak liar tersebut memiliki cita rasa buah buahan yang satu kemasan berisi 10 gram dibandrol Rp35.000.

baca juga: Kantor Bawaslu Jabar Tidak Ramah Disabilitas
     
"Di Desa Capar juga ada kopi lanang atau kopi jantan yang dipercaya berkhasiat untuk stamina lelaki yang setiap kemasannya dijual 250
ribu rupiah," pungkasnya. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More