Selasa 19 November 2019, 11:40 WIB

Volume Ekspor Oleokimia Bertumbuh, Secara Nilai Melemah

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Volume Ekspor Oleokimia Bertumbuh, Secara Nilai Melemah

ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
Pekerja mengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit hasil panen di Tangkit Baru, Muaro Jambi, yang merupakan bahan baku oleokimia

 

EKSPOR oleokimia, salah satu produk hilir dari minyak sawit, diproyeksikan akan menyentuh 3 juta ton atau senilai US$1,9 miliar sepanjang tahun ini.

Secara volume, target tersebut ditetapkan lebih tinggi dari realisasi penjualan di 2018 yang hanya sebesar 2,7 juta ton. Namun, dari sisi nilai, target tahun ini lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai US$2,3 miliar.

"Ini tidak terlepas dari pelemahan harga komoditas minyak sawit dan turunannya dalam setahun terakhir. Kami berupaya menggenjot volumenya agar nilai yang diraih tidak terlalu turun signifikan," ujar Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat di Jakarta, Selasa (19/11).

Di dalam negeri, ia mengatakan permintaan produk oleokimia juga tertekan karena beberapa persoalan, salah satunya adalah tingginya tarif tiket pesawat.

Baca juga: Sinar Mas Cepsa Mulai Operasikan Pabrik Oleokimia Senilai Rp4,77 Triliun

Rapolo menjelaskan produk-produk jadi oleokimia adalah barang-barang yang sangat akrab dan bisa ditemui sehari-hari serta banyak dipakai saat bepergian seperti sabun, sampo dan pasta gigi.

"Kalau tarif pesawat murah, industri pariwisata menggeliat, hunian hotel menjadi tinggi. Itu secara linear mempengaruhi permintaan oleokimia. Tapi jika sebaliknya, permintaan pasti akan ikut turun," terang Rapolo.

Oleokimia merupakan salah satu produk hilir kelapa sawit yang diolah dari inti sawit dan menghasilkan minyak inti sawit (crude palm kernel oil/CPKO).

Dalam prosesnya, oleokimia perlu melalui empat tahap pengolahan industri hingga bisa dimanfaatkan sebagai produk biosurfaktan atau bahan baku detergen, sabun dan sampo serta biolubrikan sebagai bahan baku pelumas. Produk oleokimia juga banyak dipakai di industri baja dan otomotif.

Saat ini, kapasitas terpasang industri tersebut di dalam negeri mencapai 5,4 juta ton per tahun, dengan kapasitas produksi terpakai sekitar 75% dari jumlah tersebut.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More