Selasa 19 November 2019, 10:14 WIB

Gara-Gara Tapioka, Kelurahan Kenanga Terbusuk Se Bangka Belitung

Rendy Ferdiansyah | Nusantara
Gara-Gara Tapioka, Kelurahan Kenanga Terbusuk Se Bangka Belitung

MI/Rendy Ferdiansyah
Spanduk bertuliskan kelurahan Kenanga terbusuk se Babel dipasang warga setempat sebagai bentuk protes bau busuk di sekitar pabrik tapioka.

 

BUPATI Bangka Mulkan tak mempermasalahkan Kelurahan Kenanga Kecamatan Sungailiat, dicap sebagai kelurahan terbusuk se Provinsi Bangka Belitung. Muncul istilah kelurahan terbusuk setelah ada spanduk yang dipasang di tepi jalan bertuliskan Kelurahan Kenanga sebagai kelurahan terbusuk tingkat provinsi. Di Kelurahan Kenanga terdapat pabrik tapioka milik PT Bangka Asindo Agri. Limbahnya menimbulkan bau tidak sedap.

"Protes dengan tulisan begitu, ya masih wajar, sepanjang warga tidak melakukan perbuatan anarkis," kata Mulkan usai meninjau langsung limbah Pabrik Tapioka PT Bangka Asindo Agri di Kelurahan Kenanga, Selasa (19/11/2019).

Bupati tidak akan menurunkan dua spanduk yang bertuliskan Selamat Datang di Kelurahan Kenanga terbusuk se-Babel tersebut.

"Biar saja, kita tidak merasa malu, atas tulisan selamat datang di kelurahan terbusuk se-Babel," ujarnya.

Mulkan mengakui saat meninjau pabrik tercium bau busuk. Ia pun meminta dinas lingkungan hidup mengkaji kembali ipal milik pabrik tersebut.

"Masyarakat bersabar dulu, kita berusaha agar pihak perusahaan dapat menghilangkah bau busuk limbahnya," ungkap dia.

Meski bupati sudah meninjau pabrik tersebut, pemkab belum mengeluarkan penutupan pabrik.

"Kami minta supaya mereka memperbaiki kembali ipal," tambahnya.
 
Sementara, Ketua DPRD Kabupaten Bangka Mendra Kurniawan meminta masyarakat bersabar agar suasana tetap kondusif. Alasannya iklim invetasi dan iklim ekonomi  harus dijaga, begitu pula kondisi masyarakat.

"Kita minta dinas terkait kawal, meminimkan bau yang kurang enak di hidung masyarakat. Berikan waktu, mungkin ini pengaruh dari kemarau, pihak pengelolaan agar segera lakukan perbaikan," saran Mendra Kurniawan.

Pada kesempatan berbeda, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangka, Meinalina menerangkan bau busuk bisa muncul karena produksi tapioka over load sehingga pengelolaan limbah tapioka tidak maksimal.
 
"Di dalam dokumen mereka, harusnya produksi setiap hari 100 ton, tapi ini lebih. Alasannya saat ini sedang panen singkong. Akibatnya ipal tidak mampu mengolah limbah dan memicu bau busuk," terang Meinalina.

Kepala Lingkungan Kelurahan Kenanga, Suryadi mengungkapkan bahwa aroma busuk limbah tapioka terjadi setiap hari dari pagi sampai malam hari. Warga mengaku terganggu karena setiap hari mencium bau busuk dari pabrik yang berdiri sejak empat tahun lalu dan lokasinya tidak jauh dari permukiman.

Warga sudah mengadu ke DPRD dan pemerintah kabupaten tapi tidak mendapatkan respons positif.

"Beberapa bulan lalu sempat hilang baunya, tapi sekarang muncul lagi. Kami minta agar perusahaan menghentikan operasional selama tiga minggu ini," ujarnya.

Humas PT PT Bangka Asindo Agri, Sulaiman menjelaskan bau busuk ini bukan karena produksi over load dan ipal tidak berfungsi.

Ia mengaku aroma busuk yang dikeluarkan dari limbah tapioka bukan karena overload produksi tetapi melainkan collaps bakteri asam ke bakteri metan.

"Karena bakteri ini kolep, makanya bau limbah seperti comberan sehingga tercium warga busuk," ujarnya.

baca juga: Korban Kebakaran Dapat Bantuan Bupati

Bahkan perusahaan sudah menghentikan operasional selama tiga minggu ini.

"Sebelum dikeluhkan masyarakat kita sudah hampir 3 minggu ini berhenti total, sudah berapa besar kerugian kita, penghentian ini akan dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan," tambah Sulaiman. (OL-3)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More