Selasa 19 November 2019, 10:10 WIB

Presiden Jokowi Disebut Praktikkan Logika Pancasila

Abdillah Muhammad Marzuqi | Politik dan Hukum
Presiden Jokowi Disebut Praktikkan Logika Pancasila

ANTARA FOTO/Dodo Karundeng
Ketua Program Studi Ilmu Filsafat STF Driyarkara, Setyo Wibowo

 

KETUA Program Studi Ilmu Filsafat STF Driyarkara, Setyo Wibowo, mengungkapkan bahwa Pancasila merupakan buah pemikiran yang luhur. "Pancasila itu luar biasa," terang alumnus Universitas Sorbonne (Paris I) itu.

Ia mengungkapkan bahwa selama berinteraksi dengan banyak orang dari negara lain, ia mendapati bahwa Pancasila merupakan kekhasan pemikiran Indonesia. "Orang luar negeri melihat cara berpikir orang Indonesia memang beda. itu tampak di Pancasila," tambahnya saat ditemui seusai peluncuran dan diskusi Buku Filsafat (di) Indonesia, di Jakarta, kemarin.

Salah satu contoh nyata ialah masuknya Prabowo Subianto dalam kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Padahal, sebelumnya Prabowo berhadapan dengan Jokowi dalam Pilpres 2019. Menurutnya, cara berpikir Presiden Jokowi yang merangkul lawan tidak masuk logika pemikiran Barat.

"Contoh paling konkret ketika Jokowi merangkul Prabowo. Itu kan kalau logika barat gak masuk. Pemilu, kalah ya kalah, menang ya menang," ujarnya.

Menurutnya sikap Presiden Jokowi itu dilatarbelakangi pemikiran khas sebagai manusia yang besar dan dididik dengan kultur Jawa. "Jokowi itu orang Jawa, dia merangkul. Itu yang orang barat bingung," tandasnya.

Pemikiran itu yang membedakan dengan cara pikir manusia yang hidup di belahan bumi lain bahwa berlawanan tidak harus bertentangan. "Tapi, inilah khas Jawa, ini memang ada sebuah pola pikir yang memang beda dengan orang Barat. Berlawanan tidak harus bertentangan."

 

Hasil simposium

Buku itu diterbitkan atas kerja sama STF Driyarkara, Institut Prestasi Nusantara (IPN), dan Penerbit Kompas. Buku Filsafat (di) Indonesia terdiri atas empat judul buku, yakni Filsafat (di) Indonesia; Politik dan Hukum, Filsafat (di) Indonesia; Kebijaksanaan Lokal, Filsafat (di) Indonesia; Pelangi Nusantara, dan Filsafat (di) Indonesia; Manusia dan Budaya Indonesia.

Empat buku itu merupakan hasil dari Simposium Internasional Filsafat Indonesia 2014 di STF Driyarkara. Saat itu tajuk utama yang dibahas ialah keberadaan filsafat Indonesia.

"Jadi buku ini merupakan hasil simposium. Ada banyak pemikir Indonesia, berbagai macam bidang. Kita juga mengundang orang dari luar negeri untuk membicarakan mengenai ada atau tidaknya filsafat Indonesia. Hasil yang kita telurkan di situ, kita menengarai ciri-ciri cara berfikir khas Indonesia," terang kepala editor buku Setyo Wibowo.

Keberadaan filsafat Indonesia memang menjadi perdebatan. Satu sisi menganggap ada, sisi lain masih terdapat pendapat bahwa tidak ada filsafat Indonesia. Oleh karena itu judul buku tersebut menyelipkan kata 'di'. "Minimal saya sendiri, ya ini masih dalam pergulatan. Makanya lebih amannya diberi judul Filsafat (di) Indonesia," urainya.

Meski demikian, Setyo mengakui bahwa selama ini memang banyak pemikir hebat dari Indonesia. Mereka memiliki kekhasan dan corak tersendiri yang membedakan dengan pemikir negara lain. Meski demikian, belum cukup untuk dikatakan sebagai filsafat Indonesia.

"Selama ini tentu ada pemikir-pemikir khas Indonesia, saya tidak mengingkari itu. Seperti Suryomentaram, Pakubuwono, Empu Kanwa, Empu Sedah, dan Soekarno dengan Pancasila-nya. Tetapi, sebagai filsafat akademis, yang kita kenal ya harus diakui susah," tandas pria yang akrab disapa Romo Setyo.

Berbeda dengan Setyo, Jaya Suprana lebih setuju dengan istilah 'filsafat Indonesia'. Ia berpendapat bahwa Indonesia punya hak untuk memiliki filsafat selayaknya bangsa lain. "Yang jelas saya lebih setuju istilah filsafat Indonesia, karena bangsa Indonesia punya hak untuk memiliki filsafat," ucapnya. (P-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More