Selasa 19 November 2019, 06:20 WIB

Mengenalkan Pertanian di Sekolah

Kuntoro Boga Andri Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian | Opini
Mengenalkan Pertanian di Sekolah

Dok.MI/Tiyok
Opini

SALAH satu tantangan yang dihadapi sektor pertanian Indonesia ialah regenerasi petani. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Agustus 2019, penduduk yang bekerja pada sektor ini turun menjadi 34,58 juta orang atau hanya 27,33% dari total lapangan kerja utama. Jika dibandingkan dengan Agustus 2018 yang angkanya masih 35,70 juta orang, angka tersebut turun menjadi 1,12 juta orang (1,46%) dalam setahun.

Kondisi ini karena bertani bukan merupakan pekerjaan bergengsi bagi kaum milenial. Rendahnya minat anak muda terjun ke sektor pertanian juga tecermin dari kajian Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) yang bekerja sama dengan Pusat Kajian Strategis Kebijakan Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2015. Studi ini menyimpulkan hanya 54% anak petani komoditas tanaman pangan yang mau meneruskan pekerjaan orangtuanya, sisanya 46%, menolak melanjutkan profesi tersebut. Pada petani hortikultura, persentasenya lebih tinggi lagi, yaitu 63% menolak menjadi petani dan hanya 36,7% yang bersedia bertani seperti orangtua mereka.

Bertolak dari temuan tersebut, mempersiapkan regenerasi petani dan meningkatkan minat kaum milenial terhadap dunia pertanian menjadi hal yang mendasar. Sangat penting memastikan bahwa sektor pertanian menarik bagi mereka. Pertanian tidak lagi identik dengan kemiskinan, terbelakang, dan kotor. Bertani bisa menjadi profesi yang bergengsi, menguntungkan, dan modern.

Dalam upaya menarik minat anak muda terhadap pertanian, langkah fundamental perlu dilakukan untuk memastikan sektor ini menjanjikan sebagai sebuah profesi bisa menjadi hobi bagi kaum urban dan trendi sebagai gaya hidup modern. Di samping itu, promosi dan proses edukasi perlu diinisiasi sejak dini melalui aktivitas pertanian di sekolah berupa kurikulum kecakapan hidup (life skill) atau pembelajaran ekstrakurikuler pertanian di sekolah. Selain sebagai upaya memperkenalkan aktivitas pertanian sejak dini, langkah ini penting untuk menanamkan kecintaan terhadap tanaman dan manfaat mengonsumsi produk pertanian yang sehat dan bergizi.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada saat memberikan sambutan dalam peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, awal November lalu, menyampaikan komitmen program Pertanian Masuk Sekolah (PMS). "Potensi agraris Indonesia yang besar harus dimanfaatkan maksimal oleh SDM yang mumpuni," tegas Mentan. Dengan program PMS, anak-anak sejak dini ditumbuhkan kecintaan terhadap tanaman dan lingkungan, serta paham manfaat dan peran pertanian. Promosi dilakukan pada unit terkecil keluarga dan sekolah, untuk memanfaatkan lahan pekarangan atau halaman untuk memproduksi pangan.

Implementasi

Ide memasukkan pertanian atau berkebun dan beternak sebagai muatan lokal dalam pendidikan formal sebetulnya bukan sesuatu yang baru dan bahkan tidak rumit. Apalagi sejumlah sekolah sudah mulai mempraktikkan konsep kebun sekolah. Sebut saja sekolah-sekolah yang menggunakan pendekatan alam dalam kegiatan belajarnya sekaligus pembinaan karakter anak. Konsep sekolah yang dikenal dengan sebutan 'sekolah alam' ini memiliki program kebun sekolah yang mengikutsertakan para muridnya dalam kegiatan berkebun. Bukan hanya sekolah alam, bila ditelisik, konsep ini juga sudah dipraktikkan beberapa sekolah perkotaan dalam program Adiwiyata. Dalam program ini ditekankan pendidikan lingkungan hidup kepada siswa di sekolah melalui penciptaan lingkungan sekolah yang sehat dan pemanfaatan halaman sekolah, termasuk untuk kegiatan pertanian.

Dalam konsep kebun sekolah, dilakukan pembelajaran kegiatan pertanian, bahkan dimulai sebelum tanam. Siswa diperkenalkan berbagai jenis sayur atau tanaman yang akan dibudidayakan, termasuk manfaat dan nilai ekonomisnya. Berikutnya siswa diberi penjelasan cara budidaya, cara ploting lahan, serta pengendalian hama dan penyakit tanaman. Kemudian, selain merawat pertumbuhan, siswa juga diajarkan cara membuat pupuk organik dari berbagai jenis limbah dan cara pembibitan. Diharapkan aktivitas dilakukan secara menyenangkan untuk memberi kecintaan siswa terhadap kegiatan ini. Selain itu, siswa dapat mereplikasinya di rumah.

Manfaat lain dari kegiatan ini, siswa dibiasakan mengonsumsi berbagai jenis sayuran dari hasil panen di sekolah. Perlu diadakan kegiatan rutin 'satu hari makan sehat dengan sayuran sehat dari kebun sekolah'. Kegiatan yang dilakukan secara rutin ini diharapkan membiasakan para murid mengonsumsi dan suka sayuran. Promosi mengonsumsi sayuran juga memiliki alasan sangat kuat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) PBB menyarankan konsumsi sayur dan buah setidaknya sebesar 400 gram per hari untuk mencegah penyakit. Konsumsi sayuran minimal yang diperlukan untuk diet seimbang ialah sebesar 200 gram/kapita per hari.

Tingkat konsumsi sayur penduduk Indonesia masih di bawah standar kecukupan. Sebagai perbandingan, negara-negara tetangga tingkat konsumsi sayur dan buahnya lebih tinggi dari Indonesia. Seperti Singapura, yang mengonsumsi 120 kg/kapita per tahun, kemudian Tiongkok mengonsumsi 270 kg/kapita per tahun, dan Kamboja 109 kg/kapita per tahun. Konsumsi sayuran per kapita penduduk Indonesia hanya 40,35 kg/tahun, sedangkan konsumsi buah hanya 34,55 kg/tahun. Tentu promosi dan pengetahuan manfaat untuk lebih banyak makan sayur dan buah perlu dilakukan sejak dini, termasuk melalui program PMS ini.

Konsep kebun sekolah yang sudah berjalan di sejumlah sekolah tentunya akan menjadi modal untuk mengimplementasikan program PMS. Rencananya, pelaksanaan kegiatan PMS akan dijadikan sebagai salah satu komponen kegiatan family farming yang menjadi program prioritas Menteri Pertanian untuk enam bulan pertama Kabinet Indonesia Maju 2020-2024. Sebagai tahap awal, kegiatan PMS akan dilaksanakan di 68 sekolah pada 34 provinsi.

Program PMS ini, ke depan tentu tidak hanya berfokus pada budidaya sayuran dan buah, tapi juga komoditas-komoditas pertanian lain, seperti pangan dan peternakan. Dengan pendekatan ini, para siswa akan dilatih membudidayakan tananam padi dan umbi-umbian, juga beternak unggas dan kelinci. Bahkan bukan tidak mungkin, ke depannya sekolah bersama siswa dapat memelihara ternak ruminansia kecil, yakni domba dan kambing atau sapi dan hewan ternak lainnya, seperti yang dilaksanakan di banyak sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di negara-negara bagian Amerika Serikat.

Tentunya, implementasi program PMS ini tidak bisa jika hanya mengandalkan inisiasi Kementerian Pertanian. Dalam prosesnya, program ini perlu dikoordinasikan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta pemerintah daerah. Koordinasi dengan pemerintah daerah dibutuhkan dalam melakukan survei awal untuk mengetahui tingkat pengetahuan guru dan siswa tentang dunia pertanian, training on trainee (TOT) kepada guru, penyusunan kurikulum, praktik dan pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More