Senin 18 November 2019, 08:35 WIB

Lempung Antar Pranoto Jadi Profesor

Ferdinand | Nusantara
Lempung Antar Pranoto Jadi Profesor

MI/Ferdinand
Pranoto meraih gelar guru besar bidang kimia lingkungan air di FMIPA UNS berkat risetnya tentang lempung untuk membersihkan air.

 

PENGALAMAN mandi di kali dan dikeramasi menggunakan tanah lempung oleh sang kakek semasa kecil begitu membekas diingatan Pranoto. Tidak dinyana berpuluh tahun kemudian, lempung pula yang mengantarkannya menjadi seorang profesor. Pronoto yang kini mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) dikukuhkan sebagai guru besar bidang kimia lingkungan air dalam sidang senat terbuka Auditorium GPH Haryo Mataram, Senin (18/11/2019).

Bersama Pranoto, dikukuhkan pula koleganya dari FKIP, Munawir Yusuf dan Fakultas Teknik, Syamsul Hadi. Munawir dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu manajemen pendidikan inklusif, sementara Syamsul Hadi sebagai guru besar ilmu teknik mesin. Jabatan fungsional tertinggi bagi dosen itu diraih Pranoto setelah sembilan tahun meneliti lempung. Pengalaman masa kecil ditambah pengalamannya hidup di desa memantik rasa penasaran dan semangat untuk mengungkap khasiatnya.

"Lempung atau alofan itu ajaib, karena memiliki karakter bisa menjadi penyerap alami terhadap zat berbahaya yang terdapat di air," katanya dalam jumpa wartawan menjelang pengukuhan, Sabtu (16/11/2019).  

Agar daya serap optimal, lempung diaktivasi secara fisik, mekanik, dan kimia. Hal itu untuk membuka pori-pori lempung alam dari pengotor dan meningkatkan luas permukaan spesifiknya.

Lempung yang telah diaktivasi menunjukkan kemampuan sebagai penyerap logam berat, zat warna dan bahan berbahaya beracun (B3), didorong oleh serapan yang lebih dari 90 % kontaminan. Konsentrasi optimum untuk aktivasi karena pada konsentrasi tersebut alofan mampu menyerap logam kromium (Cr) sebesar 0,050 mg/g dan persentase penyerapan sebesar 99,63%.

Logam besi (Fe) sebesar 0,250 mg/g dan persentase penyerapan sebesar 99,81%, logam timbal (Pb) sebesar 2,818 mg/g dan persentase penyerapan sebesar 70,43%, logam mangan sebesar 0,192 mg/g dan persentase penyerapan sebesar 89,5%, logam tembaga (Cu) sebesar 0,188 mg/g dan persentase penyerapan sebesar 93,93%, dan logam kadmium (Cd) sebesar 0,116 mg/g dan persentase penyerapan sebesar 98,96%

Pada prinsipnya semua lempung memiliki kemampuan untuk menjadi absorben alam, karena mengandung silika dan alumina. Namun, berdasarkan hasil penelitian Pranoto daya serap tertinggi ada pada lempung yang berasal dari tanah vulkanik dari gunung yang sudah tidak aktif. Seperti di Gunung Lawu, Papandayan, Arjuna, Slamet, Wilis, Sindoro dan Sumbing.

Pranoto mendedikasikan hasil penelitiannya ini untuk membantu masyarakat mengatasi persoalan ketersediaan air bersih. Alofan aktif bisa diaplikasikan pada teknologi pengolahan air sungai menjadi air bersih.

baca juga: Dampak Letusan tidak akan Sebesar pada 2010

Melihat kebutuhan air bersih di perkotaan, mengambil air permukaan sebagai bahan baku dari air sungai diharapkan akan mencukupi kebutuhan masyarakat. Dengan demikian diharapkan dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat perkotaan sebagai metode alternatif pengelolaan air sungai menjadi air minum.

"Ini bisa membuat air bersih. Air kotor yang dilewatkan alofan aktif bisa menjadi air bersih yang memenuhi baku mutu. Harapan saya sanitasi Kota Surakarta bisa memanfaatkannya, apalagi di sini banyak industri," katanya. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More