Minggu 17 November 2019, 21:34 WIB

Resiko Kesehatan Rokok Elektrik dan Konvensional Sama

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Resiko Kesehatan Rokok Elektrik dan Konvensional Sama

Antara/Nova Wahyudi
Ilustrasi pengguna rokok elektrik

 

ROKOK elektrik punya bahaya yang sama dengan rokok konvensional. Karena itu, bertambahnya jumlah pengguna rokok elektrik tidak serta-merta membuktikan menurunnya jumlah perokok di Indonesia.

"Vape tidak lebih ringan dari rokok, sama saja bahayanya dengan rokok. (Kandungan) nikotin ada, aerosol yang menyebabkan kanker dan lainnya ada semua, jadi kalau dari bahaya gangguan kesehatan sama saja," tutur ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih kepada Media Indonesia, Minggu (17/11).

Daeng mengatakan, berdasarkan kajian para stakeholder kesehatan, kandungan nikotin dan aerosol pada rokok elektrik dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang cukup tinggi seperti kelainan jantung, resiko stroke, dan kanker.

Hal itu sama seperti resiko yang ditimbulkan rokok konvensional. Pihaknya pun merekomendasikan pada pemerintah agar melarang konsumsi rokok elektrik maupun rokok konvensional.

Karena itu, pemerintah perlu berupaya agar produk-produk tersebut tidak dapat dijangkau anak muda dan rakyat biasa, contohnya dengan menaikkan cukai.

Baca juga : Pemerintah Terus Godok Regulasi Larangan Rokok Elektrik

"Kalau berdasarkan kajian dari rekan-rekan stakeholder kesehatan, sebaiknya dihindari karena itu mengganggu kesehatan," imbuhnya.

Daeng menambahkan, pemerintah seharusnya sudah memiliki roadmap untuk membandingkan besaran pendapatan secara ekonomi dari rokok konvensional maupun elektrik dengan pengeluaran dari segi kesehatan yang diakibatkan oleh kedua produk tersebut.

Seperti diketahui, BPJS Kesehatan melaporkan dana sebesar Rp5,9 triliun digunakan untuk pengobatan akibat rokok.

"Bisa jadi itu salah satu faktor menyebabkan BPJS defisit, oleh karena itu harus dipikirkan betul apakah memang seimbang antara persoalan ekonomi dan persoalan kesehatan," tandasnya. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More