Senin 18 November 2019, 00:00 WIB

Penyidikan Tabrak Grab Wheels Janggal

Putri Anisa Yuliani | Megapolitan
Penyidikan Tabrak Grab Wheels Janggal

Ilustrasi
Penyidikan Tabrak Grab Wheels Janggal

 

KORBAN kecelakaan maut antara mobil Toyota Camry dan enam pengendara skuter listrik Grab Wheels di Senayan, Jakarta Pusat, menyebut penyidikan kasus ini oleh Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya sangat janggal.

Bagus, 18, korban selamat, mengung­kapkan tidak ada pertolongan sedikit pun dari tersangka seusai tabrakan terjadi. Bahkan pengemudi Camry, yang belakangan diketahui bernama Dhanni Hariyona, tidak sejentik pun membuka jendela atau turun dari mobil. “Pelaku sama sekali tidak menolong kami,” kata Bagus yang ditemui saat aksi tabur bunga di Jalan Pintu 1, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (16/11).

Bagus, yang hadir masih menggunakan dua tongkat penyangga untuk berjalan itu, mengatakan bahwa ia terlempar dan jatuh di atas kaca depan mobil hingga tersangkut. Saat itu dirinya berhasil terlepas dan terjatuh karena pelaku tancap gas melarikan diri.
“Saya itu lepas bukan karena pelaku tolong, tetapi dia jalankan mobilnya sedikit mundur kemudian maju dan saya lepas sampai jatuh,” tegasnya.

Lebih janggal lagi, Bagus menilai ada empat unit CCTV di tempat kejadian, tetapi tidak satu pun merekam kejadian tabrakan dengan alasan kartu memori penuh. “Ini benar-benar janggal. Ada apa di balik ini,” ujarnya.

Wanda, 18, salah satu korban luka ringan, mengungkapkan ia kaget dengan keterangan kepolisian di media. “Saya lihat di berita polisi bilang bahwa pelaku sempat turun dan menelepon ambulans. Itu salah. Saya ada di tempat kejadian dari tabrakan cukup lama. Dia sama sekali tidak turun dari mobil. Buka jendela saja enggak. Kita bantu teman-teman sendiri. Kita ke RS tidak pakai ambulans, tetapi pakai mobil orang lain. Kita usaha menye­top mobil-mobil yang lewat cukup lama,” tandasnya.

Ia pun cukup menyayangkan keputusan kepolisian yang tidak menahan tersangka dengan alasan kooperatif serta tidak ada upaya menghilangkan barang bukti.

“Ya, memang tidak ada yang perlu dihilangkan. Kan mobil yang dipakai untuk berkendara sampai menabrak kami sudah ditahan di Satlantas. Sudah tidak ada yang perlu dia hilang­kan. Jadi alasannya tidak masuk akal. Seharusnya dia ditahan. Terlebih seusai kejadian tidak ada iktikad menolong,” ungkap Wanda.

Pagi kemarin, keluarga dan teman-teman dari korban tabrak lari yang menimpa pengendara GrabWheels melakukan aksi di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, saat hari bebas kendaraan bermotor berlangsung.

Keluarga dan rekan yang menggunakan baju serbahitam membawa poster serta spanduk berisikan tuntutan transparansi dan keadilan terhadap kasus penabrakan yang terjadi Minggu (10/11) dini hari itu. Aksi tabur bunga dilakukan tepat di lokasi kejadian perkara di Jalan Pintu Satu Senayan tepat di Pintu 3 GBK.

Dua orang meninggal dunia akibat penabrakan itu, yakni Wisnu, 18 dan Ammar, 18.

Dhanni, yang diketahui berkendara dalam kondisi mabuk, telah ditetapkan sebagai tersangka, tetapi tidak ditahan dengan wajib lapor.

“Kami tidak menuntut ganti rugi atau apa pun. Kami hanya menuntut agar ada keadilan dan transparansi terhadap kasus ini,” ungkap Alan, keluarga korban tewas.

Alan menyebut, dengan tidak ditahannya tersangka, hal itu bisa membenarkan dugaan adanya beking­an orang penting di balik kasus itu. “Pelaku berkendara dalam keadaan mabuk dan itu sangat membahayakan terbukti sudah menimbulkan korban,” ungkapnya.

Alan pun mengajak masyarakat luas untuk sama-sama mengawal kasus ini agar hukum ditegakkan.
Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya Komisaris Fahri Siregar menyebut salah seorang saksi petugas keamanan menyebut Dhanni langsung menghentikan mobilnya dan membantu para korban.  

“Jadi, dari TKP itu setelah dia menabrak, dia shocked, terus dia tidak bisa menginjak rem. Dia berhenti di pintu 5 karena ada massa, terus baru dievakuasi satpam. Setelah itu, polisi datang dan mengevakuasi dia,” terangnya.

Mengenai polisi tidak menahan Dhanni, Fahri menyebut penyidik menilai bahwa tidak perlu dilakukan penahanan karena penyidik menilai bahwa tersangka kooperatif.

“(Pelaku) tidak akan melarikan diri dan tidak akan menghilangkan barang bukti. Jadi, itu pertimbangan dari penyidik sehingga saya garis bawahi bahwa tidak dilakukan penahanan itu karena penyidik punya pertimbangan-pertimbangan yang tadi saya sampaikan,” terangnya. (Fer/J-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More