Minggu 17 November 2019, 07:10 WIB

Trump Berikan Grasi kepada Dua Perwira Angkatan Darat Amerika

Melalusa Susthira K | Internasional
Trump Berikan Grasi kepada Dua Perwira Angkatan Darat Amerika

AFP/Brendan Smialowski
Presiden AS Donald Trump.

 

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan grasi atau pengampunan terhadap dua anggota pasukan khusus Angkatan Darat AS yang dituduh melakukan kejahatan perang di ­Afghanistan. Grasi Trump tersebut seolah ­mengabaikan peringatan bahwa tindakan itu akan menjadi penyalahgunaan kekuasaan yang diberikan kepadanya berdasarkan Konstitusi AS.

Tindakan Trump itu menghentikan hukuman pembunuhan tingkat dua terhadap Letnan Satu Angkatan Darat AS, Clint Lorance, yang telah menjalani masa hukuman selama 6 tahun dari masa hukuman total 19 tahun.

Lorance terbukti bersalah karena memerintahkan tentara di peletonnya untuk menembak tiga pria Afghanistan tak bersenjata dengan sepeda motor yang mengakibatkan dua di antaranya meninggal pada 2012 lalu.

“Banyak orang Amerika telah meminta grasi eksekutif untuk ­Lorance, termasuk 124.000 orang yang telah menandatangani petisi ke Gedung Putih, serta beberapa anggota Kong­res,” terang pernyataan Gedung Putih yang dirilis Jumat (16/11) kemarin.

Trump juga memberikan grasi kepada alumnus Akademi Militer AS, Matt Golsteyn, yang ­merupakan mantan anggota Pasukan ­Khusus Angkatan Darat AS. Golsteyn didakwa melakukan ­pembunuhan ­berencana dalam penembak­an ­berujung kematian seorang pembuat bom Taliban di selatan ­Afghanistan (2010).

“Atas permintaan banyak orang, saya akan meninjau kembali kasus pahlawan militer AS Mayor Matt Golsteyn, yang didakwa membunuh,” tulis Trump dalam Twitter-nya, Sabtu (16/11).

Trump juga membalikkan penurunan pangkat anggota pasukan khusus AL, Edward Gallagher. Gallagher sebelumnya didakwa 15 tahun penjara setelah menikam hingga mati seorang tahanan ­remaja Islamic State (IS) di Irak.

“Tidak ada kata-kata yang cukup untuk mengung­kapkan betapa ­bersyukurnya keluarga saya dan saya kepada presiden kami, ­Donald J Trump, atas intervensi dan ­keputusan luar biasanya,” terang Gallagher.

Pemberian grasi Trump itu menuai protes dari sejumlah pihak. Seorang pensiunan Laksamana Angkatan Laut AS, James Stavridis, menentang keras rencana pemberian grasi yang pertama kali ­diungkapkan Trump pada Mei lalu.

“Membiarkan mereka pergi akan merusak militer,” tulis Stavridis di majalah Time.

Mantan perwira intelijen AL AS, Pete Buttigieg, menyebut pemberian grasi oleh Trump merupakan suatu penghinaan.

“Pengampunan seperti itu akan menjadi penghinaan terhadap ­gagasan ketertiban dan kedisiplinan yang berlaku serta penghinaan ­gagasan penegakan hukum,” tukas Buttigieg. (AFP/Uca/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More