Minggu 17 November 2019, 02:00 WIB

Kuda Sembrani

Eka Maryono | Weekend
Kuda Sembrani

MI/Caksono
Ilustrasi

Sejak Mak Onah bercerita tentang kuda sembrani, Ragil mencarinya ke setiap sudut kota. Malam ini, entah hari ke berapa dia mencari. Biasanya, ia ditemani Ranu. Namun, adiknya itu demam sejak kemarin. Panasnya makin meninggi meski sudah diberi obat dan kompres jarang lepas dari dahi.

Sejujurnya, Ragil merasa sepi. Biasanya Ranu tak henti bicara di sepanjang pencarian mereka hingga terkadang Ragil kesal dan menyuruhnya pulang. Namun, Ranu tak pernah mau disuruh pulang karena seperti kakaknya, dia ingin bertemu kuda sembrani.

“Mak, kuda sembrani itu seperti apa?” tanya Ragil memotong cerita Mak Onah, ratusan malam silam.

“Dia kuda yang sangat gagah. Badannya besar. Bulunya tebal dan putih bersinar. Sayapnya lebar. Kau lihat tangan Emak? Panjangnya lima kali lipat tangan ini,” jawab Mak Onah.

“Dengan sayap itu dia bisa terbang kan, Mak?”

“Dia bisa membawamu terbang ke mana saja. Kalau perlu sampai ke bintang. Dari sanalah dia berasal.”

Ragil menatap bintang, sementara kakinya terus melangkah. Ada banyak bintang di langit sana. Andai dia tahu bintang yang mana, pasti pencariannya akan lebih mudah. Yang perlu dia lakukan cuma menatap bintang itu, menunggu dengan sabar sampai kuda sembrani muncul, lalu dia akan mengejar ke mana pun kuda itu pergi.

“Sembrani bukan sembarang kuda,” kata Mak Onah, “Dia bisa mengabulkan apa saja yang kalian minta.”

“Seperti lampu wasiat ya, Mak?”

“Ya, tapi tanpa Aladin dan lampunya. Cuma kuda dan sayapnya yang indah.”

Dua belas tahun sejak Ragil terlahir, dia tidak pernah memahami keindahan. Dunianya hanya sebatas gundukan sampah, tempat dia biasa memulung. Ragil dan Ranu sangat menyayangi Mak Onah seperti nenek sendiri. Sebaliknya, perempuan kurus itu mengasihi mereka dan selalu menemani keduanya melewati malam dengan cerita.

Mak Onah memang pandai berkisah. Sebutkan semua dongeng yang ada di dunia, Mak Onah pasti tahu. Entah dari mana kebisaan itu bermula. Mak Onah tidak pernah sekolah. Namun, dia paham betul riwayat Thumbelina, Tinkerbell, Hanzel dan Gretel, Putri Salju, hingga Cinderella. Dia juga tahu Bawang Merah itu jahat, tidak seperti Bawang Putih yang baik hati dan cantik jelita.

Ragil dan Ranu senang mendengar cerita-cerita Mak Onah, tapi tak ada bahagia paling mereka rasa, kecuali saat Mak Onah memukul kepala Moris dengan gagang sapu. Moris tidak pernah menyayangi Mak Onah, tapi dia menghormatinya. Mak Onah pernah merawat Moris saat masih bocah bertelanjang dada.

“Hei Mochtar! Sekali lagi kau paksa anak ini meminta-minta, kupatahkan lehermu!” teriak Mak Onah.

Ragil dan Ranu tertawa. Lucu mendengar Moris diteriaki dengan nama aslinya. Lebih lucu ketimbang melihatnya dipukul gagang sapu sampai jidatnya terantuk pintu saat menghindari amukan Mak Onah.

Kini Ragil masih menatap bintang-bintang. Andai dia tahu bintang yang mana. Andai Mak Onah masih ada untuk ditanya. Andai dia bisa memeluk Mak Onah sekali lagi dan berucap terima kasih karena sudi membagi sayang pada yatim piatu seperti dirinya. Dia pun ingat pesan terakhir Mak Onah, beratus malam silam.

“Kalau kalian berharap sesuatu, berpalinglah pada bintang. Katakan keinginanmu. Kuda sembrani akan datang membantu.”

Ragil mengucapkan harapan untuk ke sekian kali. Dia berharap kuda sembrani muncul dari balik bintang dan menakuti Moris seperti dulu Mak Onah lakukan. Dia bosan melihat adiknya dipaksa mengemis dan dipukuli kalau pulang membawa sedikit uang. Dia juga bosan dipaksa memulung sampah, sementara Moris merampas hasilnya.

Malam demi malam Ragil menunggu. Malam demi malam Ragil mencari. Namun, kuda sembrani terus sembunyi. Dia mulai berpikir kuda sembrani tidak peduli pada nasib orang miskin atau mungkin cerita Mak Onah cuma khayalan, bukankah Mak Onah sendiri mati dalam kemiskinan? Kalau benar kuda sembrani ada, kenapa tidak minta tolong kepadanya?

Ragil buru-buru menepis keraguan itu. Dia yakin kuda sembrani benar ada. Emaknya tidak mungkin bohong. Barangkali kuda itu masih sibuk membantu orang lain. Dia ingat dulu ketika sakit panas, Mak Onah membawanya ke puskesmas. Sejak pagi mereka datang supaya dapat nomor antrean paling pertama, tapi berjam-jam kemudian barulah dokter tiba. Mungkin kuda sembrani seperti dokter yang menguji kesabaran pasien dalam menunggu.

Mengingat sakitnya dulu bikin dia teringat pada Ranu. Kemarin Ranu mengeluh sakit ketika Moris nyelonong ke dalam gubuk peninggalan Mak Onah sambil marah-marah.

“Heh! Ngemis sana cari uang! Jangan pura-pura sakit!”

Moris menarik Ranu dengan kasar dari atas kasur lusuh dan mendorongnya keluar.

“Jangan Bang!”

Tamparan keras seketika membungkam mulut Ragil. Pedih menjalari mukanya seperti matahari merayapi pagi. Matahari itu pula yang jadi alarm baginya untuk mulai memulung sampah. Tamparan pasti kembali dia terima bila mereka tidak lekas mendaki gunung sampah di luar sana.

Malamnya, Ranu pulang dengan wajah lesu serta pucat. Tubuhnya panas. Ragil mengompres dahinya berulang kali. Beban hatinya sedikit berkurang ketika Moris datang membawa sebotol obat panas kedaluwarsa.

“Beri dia obat ini biar cepat sembuh. Kalian tidak berguna kalau sakit. Jangan harap aku mau kasih makan kalau kalian tidak bisa kerja.” Nada bicara Moris terdengar datar. Baru kali itu dia bicara pada mereka dengan suara pelan. Barangkali dia merasa bersalah. Mungkin cuma sedih karena baru putus cinta.   

Malam kemarin adalah malam pertama Ranu tidak mencari kuda sembrani. Ragil meninggalkannya sendiri. Berkilometer jalan ditempuh Ragil seraya menatap bintang-bintang, sebelum akhirnya pulang dengan rasa kecewa, seperti biasa. Dia menghela napas saat mendorong pintu.

Dulu bayang Mak Onah selalu menyambut kedatangannya, kini hanya Ranu yang meringkuk di balik selembar kain tipis. Handuk kecil yang sudah kering dan kaku melorot ke samping leher. Ragil membilas handuk itu ke dalam baskom, meletakkannya di dahi Ranu, lalu membetulkan posisi tidurnya agar handuk yang baru dibasahi air itu tidak melorot lagi. Dielusnya rambut Ranu perlahan. Dia berusaha keras menahan desakan air mata.

Pagi besoknya panas Ranu semakin tinggi. Ragil ingin membawa Ranu ke puskesmas, seperti dirinya dulu bersama Mak Onah, tetapi Moris melarang. “Minum dulu obat panas itu,” bujuk Moris. “Kalau hari ini kerjamu bagus, besok kau boleh bawa dia ke dokter.”

Sejak Mak Onah bercerita tentang kuda sembrani, Ragil mencarinya ke setiap sudut kota. Malam ini, entah hari ke berapa dia mencari. Kini dia sampai di belakang stasiun kereta. Dari peron terdengar pengumuman kereta terakhir sebentar tiba. Ragil melongok ke arah peron dari balik pagar besi. Derit kereta api bercampur sirene pelintasan di kejauhan berpadu. Beberapa penumpang turun, beberapa naik. Sisanya membatu dalam gerbong yang hampir melompong.

Mereka, para penumpang kereta yang tersisa, sungguh beruntung. Setidaknya, mereka melaju bersama kuda besi yang siap mengantar sampai ke tujuan akhir meski keberuntungan itu tidak membuat mereka terlihat bahagia. Wajah mereka dingin nyaris tanpa ekspresi. Tidak ada di antara mereka saling menyapa dan berbincang dalam kehangatan. Tiap-tiap penumpang sibuk dengan pikiran dan kantuk sendiri sebelum tenggelam dalam dingin gerbong kereta.

Kereta api terakhir telah berlalu. Malam semakin larut. Ragil tahu harus secepatnya menemukan apa yang dia cari. Kuda sembrani bisa membawa dia dan adiknya ke mana saja mereka suka, jauh dari cengkeraman Moris, bila perlu terbang sampai ke bintang. Ragil kembali menatap bintang-bintang. Andai dia tahu bintang yang mana. Andai Mak Onah masih ada untuk ditanya...

***

Ragil pelan-pelan membuka pintu. Dia tidak ingin membangunkan Ranu. Fajar sebentar lagi tiba. Dia perlu istirahat sejenak karena 2 jam lagi harus mengorek-ngorek tumpukan sampah. Dalam gelap, Ranu meringkuk di balik helai kain. Seperti malam kemarin, handuk kecil yang sudah kering dan kaku juga melorot ke samping lehernya. Ragil mengambil handuk itu lalu membilasnya dengan air dalam baskom. Seperti juga malam kemarin, Ragil membetulkan posisi tidur Ranu. Namun, sesuatu terasa lain, tubuh Ranu sudah membeku.

Ragil sesenggukan membelai rambut Ranu perlahan. Dia pun merenung cukup lama. Kalau saja kuda sembrani benar-benar ada, kalau saja Mak Onah tidak membohonginya dengan cerita, waktu tersisa yang berharga pasti dia habiskan bersama Ranu. Harusnya dia menemani Ranu, bukan malah meninggalkan dia untuk mati dalam sepi. Ragil sungguh menyesal. Betapa sia-sia dia percaya bualan yang diasongkan Mak Onah. Kini, dia tahu tidak ada kuda sembrani. Mak Onah benar-benar berdusta. Dia benci kuda sembrani. Dia benci Mak Onah. Tangis Ragil pun pecah.

Jauh di atas sana, seorang bocah lelaki menunggang kuda putih bersayap indah melintas di antara bintang-bintang. Mereka sedang menuju bintang terjauh yang tak mungkin dijangkau mata manusia. (M-2)
***

Eka Maryono, lahir di Jakarta, 2 Maret 1974. Pendidikan terakhirnya ditempuh di jurusan Sastra Jepang, Universitas Nasional (1991-1997). Kini aktif di komunitas Studi Sastra Jakarta.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More