Sabtu 16 November 2019, 23:40 WIB

Retrospeksi di Balik Wayang Daun

Gas/M-4 | Weekend
Retrospeksi di Balik Wayang Daun

MI/GALIH AGUS SAPUTRA
Retrospeksi Andhi Wahyudi atas arca Dwarapala (kiri). Pengunjung melihat karya Andhi Wahyudi atas retrospeksinya di situs purbakala.

TELAPAK tangan itu tampak meraba-raba bagian atas daun. Sementara itu, ada juga rumah gadang yang dilukis di atas daun jati berbentuk oval. Tak jauh darinya, bertengger daun talas kering, yang dewasa ini dikenal sebagai tumbuhan herbal penghasil umbi di daerah tropis dengan kondisi tanah lembap di kawasan Asia Tenggara.

“Aku adalah Dwarapala Candi Singhasari, arca sang penjaga pintu gerbang. Jagalah aku, sebagaimana aku menjagamu selalu,” begitulah keterangan tertulis di dekat daun Talas yang ternyata adalah Wayang Daun Drawapala berukuran 60 x 53 cm itu.

Tiga objek di atas ialah retrospeksi Penemu Wayang Daun, Andhi Wahyudi atas sejumlah situs cagar budaya yang ada di Indonesia. Seusai berjalan-jalan di berbagai daerah, ia mengaku resah melihat praktik vandalisme yang dalam kasus tertentu kerap tidak memperhatikan asal-usulnya. Banyak orang abai terhadap keberadaan sekaligus nilai situs cagar budaya hingga pada akhirnya mereka rusak begitu saja.

“Jadi di suatu tempat yang saya kunjungi di daerah Kalimantan itu, saya menemukan adanya ­vandalisme. Mereka menggunakan cat dan segala macam sehingga merusak situs tersebut. Ini sebenarnya lukisan di gua. Ada banyak jejak tangan-tangan di sana, tapi habis dicat sama orang-orang yang kurang bertanggung jawab. Maka dari itu, lalu saya lukis ulang di daun ini agar daun ini dapat menjadi media promosi cagar budaya kita yang sudah rusak atau hilang,” tutur Andhi saat ditemui Media Indonesia, di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (9/10).

Andhi ialah salah satu perupa Indonesia yang beberapa waktu lalu turut membuka pameran di Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019. Baginya, lukisan ialah semacam retrospeksi atas segala sesuatu yang ditinggalkan para leluhur. Maka dari itu pula, dewasa ini ia kerap pergi ke berbagai daerah atau kota untuk melestarikan bagaimana kondisi situs cagar budaya yang dijumpainya.

Selain melukis ulang jejak tangan purbakala di Kalimantan, Andhi juga sempat berkunjung ke Jawa Timur untuk menyaksikan peninggalan Kerajaan Singosari. Ada beberapa patung di sana yang rusak dengan kasus yang sama, atau sebagaimana vandalisme yang terjadi pada arca Dwarapala.

Selain itu, Andi juga sempat melukis rumah gadang. Problemnya, menurut Andhi, dewasa ini banyak sekali orang yang tidak dapat membangun rumah adat tersebut karena kendala materi. Bukannya orang-orang tidak sanggup membangun atau tidak memiliki biaya, melainkan kebanyakan niat pembangunan terhambat karena bahan-bahannya susah didapat.

“Banyak hutan yang sudah hilang karena perluasan lahan. Maka dari itu juga imbasnya ke produk kebudayaan, yaitu salah satunya rumah gadang,” tutur Andhi, mengenang kesempatannya melukis wayang daun dengan konten Rumah Adat Minangkabau tersebut.

Pemantapan

Andhi mengaku bertemu dengan wayang daun sejak tiga tahun lalu. Kala itu, ia hanya menuruti hasrat melukis di atas daun. Namun demikian, proses kreatif itu sudah terpikirkan olehnya sejak kurang lebih delapan tahun lalu lamanya. Sejurus waktu, ia lantas bertemu dengan konsep yang lebih mapan, hingga pada akhirnya dieksekusilah karya berupa wayang daun tersebut.

Sebelum membuat wayang daun dengan konten situs purbakala, Andhi mengaku mantap dengan proses berkaryanya setelah membuat seri wayang daun Presiden. Ia melukis tujuh presiden yang pernah menjadi junjungan orang-orang Indonesia, mulai era Presiden Soekarno hingga Presiden Joko Widodo.

“Akhirnya saya jadi sedikit percaya diri. Pikir saya begitu sebab secara fisik, ciri untuk menjadi wayang itu juga saya temukan di sini. Harus ada tangkai dan segala macam, lalu kebetulan ini memang tangkainya tidak saya rekayasa. Benar-benar asli dari daunnya,” imbuh Andhi.

Serial wayang daun presiden selanjutnya, menurut Andhi, akan menjadi karya yang cukup monumental bagi dirinya sendiri. Melalui karya itu, ia mengawali perjalanannya di dunia seni. Dia mendalami perspektif politik dari sejumlah orang yang pernah memegang tampuk kekuasaan tertinggi di negeri ini. Meski begitu, ia enggan jika harus memperdebatkan pemikiran tokoh satu sama lain. Bagi Andhi, ­kesalahan merupakan hal yang manusiawi, yang dapat dipahami ­sebagai upaya perbaikan pada hari ini.

Proses kreatif Andhi saat ini turut diAndhi ingin proses pembuatan wayang daun tidak berhenti begitu saja. Pada sentuhan terakhir ia harus melakukan langkah coating (membuat lapisan) dengan bahan pernis agar daun terhindar dari air maupun kelembapan udara. Masalah basah menjadi persoalan yang cukup serius karena ia dapat menyebabkan busuk dan kehancuran. Sementara itu, minat Andhi untuk melestarikan berbagai macam hal termasuk daun itu sendiri sudah menguat sejak hasrat. (Gas/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More