Sabtu 16 November 2019, 20:11 WIB

Tidak Ada Pilihan Lain Kecuali Perbaiki Lingkungan Hidup

Supardji Rasban | Nusantara
Tidak Ada Pilihan Lain Kecuali Perbaiki Lingkungan Hidup

ANTARA/Oky Lukmansyah
Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar (tengah) meninjau lokasi persemaian bibit Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di kaki Gunung Slamet, Sabtu

 

MENTERI Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKH) Siti Nurbaya, mengingatkan semua pihak tidak ada pilihan lain harus memperbaiki lingkungan hidup. Sebab analisis dampak perubahan iklim menunjukkan jumlah lahan hutan yang kritis sekurangnya ada 14 juta hektare (Ha).

"Kita harusnya sudah melakukan penanaman pohon kembali sebanyak 800 hektare, namun saat ini baru 23 ribu hektare," ujar Siti, usai meninjau kesiapan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) Tahun 2019 di Petak 49AI Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Pekalongan Barat, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Sabtu (16/11) sore.

Siti mengungkapkan di masa lalu pemerintah hanya menyiapkan dana APBN untuk penanaman kembali pohon sebanyak 23 ribu batang/ Ha. Akan tetapi, sekarang anggaran meningkat sepuluh kali lipat menjadi 230.000 batang/ Ha.

"Ini perintah langsung Pak Presiden kita harus sudah mulai melakukan penanaman pohon kembali secara besar-besaran," ujarnya.

Siti menuturkan untuk bisa mewujudkan penanaman pohon kembali menjadi kenyataan harus mulai diperhatikan dari mulai penyemaiannya. 

"Karena itu saya datang ke sini bersama teman-teman kementerian ingin memberikan informasi apakah pembibitan atau menyemaian bibit pohonnya sudah dilakukan dengan baik apa belum," tuturnya.

Baca juga: Menteri LHK Gelar Rapat untuk Percepat Implementasi Program
     
Dia menerangkan kalau nanti hasil persemainnya baik akan dilanjutkan dengan penanaman pohon secara besar-besaran. 

"Kita menargetkan penanaman kembali nanti  sampai di atas 1 juta batang bibit pohon," terang Siti.
     
Di luar program tersebut, tambah Siti, pihaknya sudah 2 sampai 3 tahun mengajak masyarakat untuk menanam 25 pohon seumur hidup. Sejak mulai SD, SMP, SMA sampai kemudian menikah. 

"Yang bibit pohonnya sudah kita siapkan di badan-badan persemaian," jelasnya.

Dia merinci saat ini ada 14 juta Ha lahan yang mengalami kritis yakni di 15 daerah aliran sungai antara lain Sungai Citarum, Ciliwung, Cimanuk, Bengawan Solo, Brantas dan Sungai Serayu.
     
"Termasuk di Sulawesi Selatan, Bima dan Bengkulu yang kemarin banjirnya gede," katanya.

Menurut Siti sekaranag kalau ada bencana-bencana pihaknya langsung
turun ke lapangan untuk melihat apa penyebabnya. Apa memang kondisi fisik, apakah ada orang di atasnya atau ada illegal loging.
     
"Yang paling banyak penyebab terjadinya kerusakan-kerusakan lahan
karena adanya praktek-praktek penanaman yang tidak sesuai aturan. Misalnya menanam yang seharusnya sejajar dengan kontur tanah tapi lurus sehingga ketika ada hujan tanahnya terus jatuh atau longsor," pungkasnya. (A-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More