Sabtu 16 November 2019, 16:10 WIB

Pikir-Pikir Dulu sebelum Nge-Charge Ponsel di USB Port

Henri Siagian | Teknologi
Pikir-Pikir Dulu sebelum Nge-Charge Ponsel di USB Port

MI/Ramdani
Ilustrasi mengisi daya listrik ponsel di USB port.

DI era kekinian, gadget --khususnya telepon seluler (ponsel)-- menjadi hal yang melekat dari tubuh bagi sebagian orang. Sehingga, ketersediaan daya ponsel menjadi suatu keniscayaan.

Akan tetapi, seiring penggunaan ponsel tentu akan mengurangi daya yang sudah tersimpan saat meninggalkan tempat tinggal masing-masing. Sehingga, kalangan yang sudah tidak bisa terlepas dari gadget akan mencari sumber listrik di area publik. Tujuannya tidak lain men-charge ponsel mereka.

Kalaupun tidak stopkontak, atau yang biasa disebut colokan, di sejumlah daerah publik kini tersedia fasilitas untuk mengisi daya listrik berupa USB port. Kabel tinggal dilepas dari steker hingga menyisakan kabel data. Setelah itu dimasukkan ke stopkontak, daya ponsel akan di-charge lagi.

Baca juga: Kecanduan Gadget, Belasan Orang Dirawat di RSJ Bogor

Akan tetapi, pengisian daya menggunakan USB Port bisa memunculkan persoalan keamanan. Ternyata, USB Port bisa memberi keleluasaan bagi kalangan hacker untuk membajak isi ponsel kita.

"Prinsip memang seperti itu, meski tidak tak semudah itu dan tidak di semua USB Port. Terkhusus, di USB Port yang memiliki internet protocol (IP) network," ujar pemerhati teknologi informasi (TI) ITB Basuki Suhardiman saat berbincang dengan mediaindonesia.com, Sabtu (16/11).

Meski tidak seluruh USB Port rawan disalahgunakan, Basuki mengakui publik kesulitan untuk mengetahui USB Port yang memiliki IP network.

Biasanya, sambung Basuki, pengisian daya menggunakan USB Port akan meminta kesediaan memberi akses oleh pengguna gawai. "Kan ada notifikasi apakah akah allow (mengizinkan) atau deny (menolak). Kalau kita mengklik deny, memang aman. Tapi, tetap ada peluang lain," ujar Basuki.

Lalu, data apa saja yang terancam bila kita menggunakan USB Port yang disalahgunakan? Menurut Basuki, praktis seluruh data bisa terancam.

Mulai dari data perbankan, email, jual beli online, dan lain-lain. Meskipun, seluruh data tersebut sudah dilengkapi oleh password.

"Masalahnya, pengguna gawai biasanya akan menulis password setiap menggunakan. Apalagi, kalau yang masih menggunakan enkripsi yang standar jadi bisa terbuka. Beberapa kan masih menggunakan password berupa enam karakter," ucap dia.

Tetapi, dia berharap publik tidak menjadi paranoia. Karena, menurut Basuki, internet banking ataupun yang memiliki aplikasi basanya telah memiliki standar keamanan jauh lebi tinggi. "Prinsipnya aman, hanya saja teknologi kan berkembang," ucapnya.

Lalu, bagaimana supaya lebih menjamin keamanan data pengguna? Basuki menyarankan pengguna gawai memastikan ketersediaan daya ponsel sebelum meninggalkan tempat tinggal atau lokasi privat masing-masing. Kalaupun harus mengisi daya di areal publik, sebaiknya menggunakan charger dengan steker biasa.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More