Sabtu 16 November 2019, 15:10 WIB

Maju Pilpres, Rajapaksa Berusaha Pertahankan Kekuasaan

Melalusa Susthira K | Internasional
Maju Pilpres, Rajapaksa Berusaha Pertahankan Kekuasaan

AFP
Kandidat Presiden Gotabaya Rajapaksa memberikan suaranya dalam Pilpres Sri Lanka, Sabtu (16/11).

 

WARGA Sri Lanka memberikan suaranya untuk memilih kepala negara barunya dalam pemilihan presiden yang digelar hari ini. Pemilihan Presiden Sri Lanka 2019 diwarnai tekad klan Rajapaksa untuk kembali berkuasa di Sri Lanka.

Adalah Gotabaya Rajapaksa, 70, sebagai kandidat dari partai Sri Lanka Podujana Peramuna (SLPP) yang maju dalam pilpres kali ini. Gotabaya Rajapaksa merupakan adik kandung dari mantan Presiden Sri Lanka Mahinda Rajapaksa. Gotabaya menjanjikan pembangunan dan keamanan setelah serangan oleh kelompok ekstremis di Sri Lanka tahun ini mengakibatkan 269 orang tewas.

Sebelumnya, Gotabaya merupakan mantan Menteri Pertahanan Sri Lanka selama masa kepresidenan Mahinda Rajapaksa yang menjabat dari 2005 hingga 2015. Gotabya secara efektif memimpin pasukan keamanan, bahkan diduga mengawasi 'regu kematian' yang memberangus lawan politik, jurnalis, dan lainnya ke dalam van putih dan beberapa di antaranya hilang.

Namun, pensiunan letnan kolonel yang dijuluki 'terminator' oleh keluarganya sendiri, membantah semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Banyak warga minoritas Sri Lanka yang khawatir jika Gotabaya kembali berkuasa di Sri Lanka dan menduduki jabatan presiden.

"Jika Gotabaya Rajapaksa kembali, budaya van putih akan kembali. Tidak ada yang bisa menentangnya. Tidak ada, tidak juga kami," ujar seorang warga Kolombo, Alfonso kepada AFP.


Baca juga: Satu Tahun Gerakan Rompi Kuning Prancis, Massa Turun ke Jalan


Sedangkan lawan utamanya ialah Sajith Premadasa, 52, dari Partai Persatuan Nasional (UNP). Sajith Premadasa merupakan putra mantan Presiden ke-3 Sri Lanka Ranasinghe Premadasa yang tewas terbunuh. Sajith juga mendorong keamanan dan pembangunan, serta berkomitmen pada hak-hak perempuan seperti pemberian pembalut wanita gratis bagi perempuan-perempuan dari kalangan menengah ke bawah.

Pejabat Pemilu Sri Lanka menyebut sekitar 85 ribu petugas polisi dikerahkan untuk memastikan jalannya pemungutan suara berjalan aman. Meskipun keamanan ketat telah diberlakukan, terjadi beberapa insiden di sebagian wilayah Sri Lanka menyangkut gelaran pilpres hari ini.

Di barat laut Sri Lanka terjadi insiden penyerang pelemparan batu ke arah bus-bus yang mengangkut warga minoritas dengan batu, membakar ban di jalan, dan memasang barikade jalan yang kemudian dibersihkan oleh polisi. Sementara di kota Jaffna yang didominasi Tamil, polisi dan tentara dikurung di tengah ketegangan penduduk setempat yang mengeluhkan hambatan militer jelang pemungutan suara.

Hanya kurang dari 16 juta warga Sri Lanka yang memenuhi syarat untuk menjadi pemilih tetap dalam Pilpres 2019. Mereka akan memberikan suaranya di atas kertas dari total 35 calon presiden yang bersaing, termasuk dua biksu Buddha dan seorang capres wanita. Hasilnya pemilihan segera akan dapat diketahui pada Minggu (17/11) besok.

Adapun minoritas Tamil dan muslim di Sri Lanka dipandang sangat penting untuk menentukan pemenang pemilihan presiden di Sri Lanka kali ini. Sebelum pemungutan suara dimulai, tampak warga Sri Lanka mengantri di luar gedung sekolah ataupun gedung-gedung publik lainnya yang menampung 12.600 tempat pemungutan suara (TPS) dan akan ditutup pukul 11.30 waktu setempat. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More