Sabtu 16 November 2019, 12:50 WIB

Satu Tahun Gerakan Rompi Kuning Prancis, Massa Turun ke Jalan

Melalusa Susthira K | Internasional
Satu Tahun Gerakan Rompi Kuning Prancis, Massa Turun ke Jalan

AFP/SYLVAIN THOMAS
Aksi demonstrasi warga yang mengenakan rompi kuning di Prancis pada 23 Februari 2019.

 

PARA pengunjuk rasa gerakan Rompi Kuning (gilets jaunes) Prancis berencana untuk kembali turun ke jalan pada akhir pekan ini. Aksi mereka kali untuk memperingati tahun pertama lahirnya gerakan Rompi Kuning. Selain itu, aksi mereka juga bertujuan menunjukkan kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron akan kekuatan mereka yang masih patut diperhitungkan.

Pada Sabtu dan Minggu besok, diperkirakan sekitar 200 pengunjuk rasa akan turun ke jalan, dengan beberapa ribu di antaranya akan berkumpul di ibu kota Prancis, Paris. Perkiraan ini mencakup beberapa ratus pengunjuk rasa radikal ekstrem kanan dan kiri yang kerap menjadi dalang dari sejumlah aksi unjuk rasa yang berujung pada kekerasan.

Para pejabat setempat mengatakan besarnya skala aksi unjuk akhir pekan besok masih belum dapat dipastikan. Namun, Wakil Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mencatat animo yang lebih nyata terkait unjuk rasa besok daripada minggu-minggu sebelumnya. Polisi, sambungnya, akan merencanakan penyebarannya sesuai dengan itu.

Sumber keamanan Prancis memperkirakan akan menghadapi akhir pekan yang sulit, sembari mencatat bahwa pengunjuk rasa melakukkan mobilisasi di menit-menit terakhir untuk mengejutkan polisi.

"Akan ada mobilisasi yang signifikan, tetapi tidak pada skala yang kami lihat pada Desember dan Januari lalu di level nasional," ujar sumber keamanan Prancis yang enggan disebutkan namanya.


Baca juga: Provinsi Xinjiang Edukasi Bahaya Terorisme lewat Pameran


Jumlah pengunjuk rasa dan tingkat kekerasan telah berkurang signifikan dalam beberapa bulan terakhir dari puncak aksi gerakan Rompi Kuning yang dimulai pada 17 November 2018. Pada puncak aksinya, gerakan Rompi Kuning berhasil menghimpun hingga 300 ribu massa dalam aksi unjuk rasa besar-besaran di Paris.

Tokoh yang paling menonjol dalam gerakan Rompi Kuning tak menampik turunnya jumlah pengunjuk rasa yang berpartisipasi, namun ia menyebut pihak berwenang belum menanggapi dengan memadai apa yang menjadi tuntutan mereka.

"Sangat disayangkan tidak ada respon politik, tetapi juga mendapati bahwa kita sedikit kekurangan energi dalam hal mobilisasi," terang Priscillia Ludosky kepada situs berita Regards.

Gerakan Rompi Kuning merupakan tantangan terbesar bagi Macron sejak ia menjabat sebagai Presiden Prancis pada 2017 lalu dengan membawa janji-janji perubahan besar. Gerakan Rompi Kuning, menuduh Macron tidak memahami masalah-masalah yang dihadapi rakyat Prancis saat ia memulai program besarnya yang bertujuan memodernisasi Prancis.

Dalam sebuah sosialisasi yang dilakukan di Facebook, massa diserukan melakukan unjuk rasa di Champs-Elysees, yang pada Maret lalu diwarnai dengan aksi penjarahan oleh pengunjuk rasa. Unjuk rasa juga diperkirakan akan berlangsung di kota-kota Prancis lainnya, termasuk Bordeaux, Lille, dan Toulouse yang kerap dibanjiri massa aksi. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More