Sabtu 16 November 2019, 09:45 WIB

Perjuangan Kejaksaan Agung Berbuah Hasil Maksimal

Golda Eksa | Politik dan Hukum
Perjuangan Kejaksaan Agung Berbuah Hasil Maksimal

MI/ADAM DWI
Jaksa Agung ST Burhanuddin (kanan) memperlihatkan barang bukti hasil eksekusi saat jumpa pers di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, kemarin.

 

PERJUANGAN tak kenal Kejaksaan Agung di era Jaksa Agung HM Prasetyo (2014-2019) membuahkan hasil. Kejagung pun menerima uang dari Kokos Jiang alias Kokos Leo Lim sebanyak Rp477 miliar yang didapat dari hasil korupsi. Uang itu disetor ke kas negara untuk memulihkan kerugian negara.

Jaksa Agung ST Burhanuddin menunjukkan uang tunai Rp100 miliar dari Rp477 miliar sebagai uang pengganti yang dibayarkan terpidana Kokos Jiang. Uang dengan nilai total Rp477.359.539.000 kemudian disetor ke kas negara.

“Bahwa uang pengganti itu telah disetor ke kas negara oleh jaksa eksekutor melalui sistem informasi PNBP online atau simponi Kejaksaan Tinggi Jakarta Selatan dengan kode billing 820191113923508. Itu yang hari ini kami lakukan,” kata Burhanuddin.

Kokos ialah Direktur Utama PT Tansri Madjid Energi (PT TME). Ia mengatur sedemikian rupa agar operasi pengusahaan penambangan batu bara di Muaraenim, Sumatra Selatan, jatuh kepadanya.

Kokos melakukan serangkai-an perbuatan, yaitu tidak mela-kukan desk study dan kajian teknis, melakukan pengikatan kerja sama jual-beli batu bara yang masih berupa cadangan, serta membuat kerja sama tidak sesuai spesifikasi batu bara yang ditawarkan.

Atas perbuatannya itu, negara merugi hingga Rp477 miliar. Jaksa yang mengendus patgulipat tersebut kemudian menyidik dan mendudukkan Kokos di kursi pesakitan.

“Perkara atas nama terpidana Kokos Jiang alias Kokos Leo Lim diawali proses penyidik­annya oleh tim Penyidik Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dengan surat perintah penyidikan nomor: 241/O.1/Fd. 1/02/2018 tanggal 2 Februari 2018, yang selanjutnya perkara dilimpahkan ke pengadilan tindak pidana korupsi dengan surat pelimpahan perkara Acara­ Pemeriksaan Biasa nomor B-03/APB/SEL/Ft.1/01/2019 tanggal 16 Januari 2019,” kata Kasi Penkum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Nirwan Nawawi.

Awalnya, Kokos divonis bebas oleh Pengadilan Tipikor Jakarta. Jaksa tidak terima dan mengajukan kasasi.

Pada 17 Oktober 2019, MA memvonis Kokos Jiang karena terbukti melakukan tindak pidana. Kokos dihukum 4 tahun penjara dan Rp200 juta dengan pidana tambahan membayar uang pengganti Rp477 miliar.

Kokos kemudian ditangkap di rumahnya di Jalan TB Simatupang, 71 Ciracas, Jakarta Timur, 11 November 2019.

Sampai Mojokerto

Seperti diketahui, uang Rp477 miliar itu dikembalikan tunai dalam bentuk pecahan Rp100 ribu.

Nah, uang pecahan Rp100 ribu panjangnya sekitar 151 mm. Uang Rp477 miliar bila dipecah dalam pecahan Rp100 ribu memiliki 4.770.000 lembar.
Apabila disusun secara berjajar, 151 mm x 4.770.000 lembar= 720.270.000 mm atau setara dengan 720 km.

Sejauh apa 720 km? Bila uang itu dijejer panjang, akan setara dengan Tol Cawang-Mojokerto yang memiliki panjang 731 km.
Tak hanya itu, jika ditumpuk, uang Rp477 miliar lebih tinggi dari Menara Eiffel.

Menara kebanggan Prancis itu memiliki tinggi 324 meter, sedangkan uang Rp477 miliar itu kalau ditumpuk bisa seting­gi 477 meter dengan rincian sebagai berikut. Rp10.000.000 = 1 gepok = 1 cm.

Rp100.000.000= 10 gepok= 10 cm dan Rp1.000.000.000= 100 gepok= 100 cm =1 meter. Jadi, kalau ditotal Rp477.000.000.000= 47.700 gepok= 47.700 cm= 477 meter.

Jika dibandingkan dengan Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, yaitu setinggi 451 meter, uang Kokos pun masih lebih tinggi. (Ant/P-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More