Sabtu 16 November 2019, 09:05 WIB

Sejumlah Daerah Mulai Antisipasi Bencana

Kristiadi | Nusantara
Sejumlah Daerah Mulai Antisipasi Bencana

ANTARA/ALOYSIUS JAROT NUGROHO
Sejumlah pasien dan keluarga berkumpul di area parkir Rumah Sakit Siloam saat terjadi gempa di Manado, Sulawesi Utara, Kamis (14/11) malam.

 

SEJUMLAH daerah tengah mempersiapkan diri untuk menanggulangi bencana alam yang diakibatkan tingginya curah hujan. Selain mengingatkan warga untuk siaga bencana, personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) pun sudah disiagakan.

Pasalnya, Badan ­Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan dalam sepekan ke depan curah hujan dengan intensitas lebat, yang disertai kilat/petir dan angin kencang, masih menjadi ancaman.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis, ­Soekiman, mengatakan petugas di lapangan sudah siaga ­mengantisipasi bencana, terutama pergerakan tanah akibat hujan deras.

“Di Ciamis bagian utara paling banyak terdampak  bencana saat musim hujan, mulai Kecamatan Cihaurbeuti, Panjalu, Panawang-an, Tambaksari, Rancah, Lakbok, Cijeungjing, hingga Banjaranyar,” ujar Soekiman, kemarin.

Ketua Tagana Kabupaten ­Ciamis, Ade Waluya, mengatakan hujan deras disertai angin kencang tersebut telah terjadi beberapa hari dan menyebabkan puluhan rumah mengalami kerusakan.
“Relawan dan Tagana telah siaga di titik rawan longsor, banjir, dan pergerakan tanah,” ujarnya.

Di Provinsi Bangka Belitung (Babel), Kepala BPBD Mikron Antariksa telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh BPBD di tingkat kabupatan/kota untuk memantau pohon-pohon yang ada di daerah masing-masing.

“Jika memang sudah tua dan membahayakan, pohon cepat ditebang,” ujar Mikron.

Kemarin, hujan deras disertai angin kencang yang melanda Kota Sungailiat dan sekitarnya membuat sejumlah pohon dan satu tiang listrik roboh dan menim­pa satu mobil pikap serta satu sepeda motor.

Kendati tidak menimbulkan korban jiwa, pohon dan tiang listrik yang roboh itu mengganggu arus lalu lintas kendaraan di sejumlah lokasi.
Sementara itu, Kepala Seksi ­Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air Dinas PUPR Kota Depok Bachtiar Ardiansyah mengaku sudah menginstruksikan seluruh satgas banjir di setiap kecamatan untuk bekerja sama. Salah satunya dengan mengeruk sungai atau kali.

Untuk pengerukan ­sedimentasi, sebanyak 121 orang yang tersebar di setiap kecamatan telah disiagakan.

“Satgas banjir telah melakukan pengerukan sedimentasi jauh-jauh hari sebelum musim hujan dan memantau proses pengaliran infrastruktur drainase Kota Depok, “ ucapnya.

Siaga satu

Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menetapkan status siaga banjir dan tanah longsor hingga Mei 2020. Keputusan ini berdasarkan rakor tingkat provinsi.

“Per 31 Oktober 2019, status siaga darurat kekeringan sudah berakhir berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat. Status siaga banjir dan tanah longsor di Jawa Barat, termasuk di Kabupaten Cianjur, diberlakukan mulai November 2019 hingga Mei 2020,” terang Sekretaris BPBD Kabupaten Cianjur, Sugeng Supriyatno, kemarin.

Penetapan status siaga banjir dan tanah longsor juga didasari pertimbangan prakiraan yang dikeluarkan BMKG.

“Prakiraan awal musim hujan 2019/2020 mengacu pada curah dan sifat hujan berdasarkan zona musim,” terang Sugeng.

BPBD Cianjur sudah menyiapkan berbagai langkah menghadapi siaga banjir dan tanah longsor, di antaranya meningkatkan upaya pengurangan risiko bencana serta mendorong gerak-an partisipatif masyarakat menanggulangi bencana. (RF/KG/BB/MR/PT/LD/DW/MG/X-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More