Jumat 15 November 2019, 22:55 WIB

Chaidir Arif Mochtar: Deteksi Kanker Prostat dengan Robot Monalis

Gas/M-4 | Weekend
Chaidir Arif Mochtar: Deteksi Kanker Prostat dengan Robot Monalis

MI/SUMARYANTO BRONTO
Dokter Chaidir Arif Mochtar SpU(K), MD, PhD

SELAIN stem cell, dewasa ini RSCM juga telah melakukan inovasi untuk meningkatkan upaya deteksi dini pada kanker prostat. Metode baru yang mereka kembangkan ialah biopsy prostate transperineal robotic. Penggunaan robot yang bernama Isr’obot Mona Lisa itu diklaim mempercepat deteksi kanker prostat dengan pemodelan tiga dimensi.

Dokter Chaidir Arif Mochtar SpU(K), MD, PhD ialah salah satu dokter spesialis urologi yang pada kesempatan ini turut diundang Kick Andy. Sosoknya tidak asing lagi dengan robot Isr’obot Mona Lisa, yakni ia sendiri ialah lulusan pendidikan kedokteran Universitas Indonesia pada 1987. Setelah itu, ia juga melanjutkan pendidikan spesialis urologi di almamater pada 1998.

Pada 2006, Chaidir lantas menyelesaikan pendidikan S-3 di Academic Medical Center University of Amsterdam. Ia memiliki segudang pengalaman menangani prostat, yang selanjutnya turut mengemban tugas sebagai Kepala Program Studi Urologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dengan hadirnya metode robotik terbaru itu, operasi prostat selain diklaim dapat berlangsung lebih cepat, juga dapat meminimalkan luka bedah dan risiko infeksi.

“Dengan manual, kita hanya melakukan bedah berdasarkan panduan gambar ultrasonografi. Nah, regio prostat tersebut di teknik ultrasonografi belum ada yang bisa menentukan di sinilah letak kanker prostatnya. Dengan teknik robotik, maka kita melakukan dual imaging, yang satu MRI, sebelum dilakukan ­biopsy dilakukan MRI terlebih dahulu, yang mana dalam MRI tersebut sekarang kita sudah bisa melakukan penduga­an, penggambaran, dan lokalisasi daerah yang kemungkinan ada sel-sel kanker prostat. Kemudian saat dilakukan biopsy (pengambilan sampel–red), gambaran MRI dan USG itu dilakukan penggabungan (merge) melalui Monalisa tadi sehingga lebih akurat,” tutur Chaidir.

Meski begitu, Chaidir mengatakan bahwa hal yang patut diperhatikan untuk mencegah kanker prostat sebenarnya terletak pada modifikasi gaya hidup. Seseorang harus memperhatikan dietnya dan sebisa mungkin mengontrol konsumsi daging. Selain itu, menurut Chaidir, kanker prostat juga bisa disebabkan genetik atau keturunan. Maka dari itu, seseorang harus rajin melakukan cek kesehatan, bahkan dianjurkan untuk melakukannya lebih awal. Jika pada umumnya hal itu dilakukan pada usia 50 tahun, pencegahan dini bisa dilakukan dengan cek kesehatan pada usia 40 tahun. (Gas/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More