Jumat 15 November 2019, 12:00 WIB

Kini, Masyarakat Rote tak Lagi Khawatir dengan BBM

Palce Amalo | Nusantara
Kini, Masyarakat Rote tak Lagi Khawatir dengan BBM

MI/Palce Amalo
Pekerja menaikan drum berisi bahan bakar minyak (BBM) ke perahu di Pelabuhan Rakyat Namosain, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT)

 

PULUHAN tahun, masyarakat Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, menikmati harga bahan bakar minyak (BBM) yang tidak adil dibandingkan daerah lain.

Sebelumnya, harga premium dan solar di pulau terselatan NKRI itu seragam yakni Rp20 ribu. Bahan bakar kendaraan bermotor itu dikemas dalam botol ukuran satu liter. Harga BBM sebesar itu pun terjadi jika perahu pengangkut BBM tidak berlayar lantaran cuaca buruk di perairan.

"Jika perahu pengangkut BBM tidak berlayar dari Kupang ke Rote akan terjadi kelangkaan di Rote dan harga akan naik," kata Camat Pantai Baru, Rote Ndao, Fons Chris Saek, Jumat (15/11).

Fons mengatakan selama ini pasokan BBM yakni premium, solar dan minyak tanah untuk kebutuhan masyarakat Rote didatangkan dari Kupang mengunakan perahu nelayan. BBM dikemas dalam drum berukuran 200 liter dari Pelabuhan Rakyat Namosain, Kota Kupang.

Jika terjadi kelangkaan BBM, menurut Fons, aktivitas masyarakat terganggu. Harga bahan kebutuhan pokok juga ikut naik.

"Ongkos angkutan naik, ongkos rental mobil naik sampai Rp150 ribu dari Rp100 ribu," ujarnya.

Kondisi seperti itu biasa terjadi di Rote. Para pedagang bensin maupun solar eceran memanfaatkan peluang kelangkaan BBM dengan menaikkan harga lebih tinggi dari harga normal Rp10 ribu per liter. Namun, di ibu kota kecamatan, harga premium dan solar hanya naik sampai Rp15 ribu per liter.

"Sekarang tidak ada lagi kelangkaan BBM di Rote dan saya pastikan perekonomian akan bertumbuh dengan baik," tutur Fons Chris Saek.

Baca juga: BBM Langka, Pengusaha Kandangkan Bus

Saat ini, harga BBM di daerah itu sama seperti harga di daerah lain setelah pemerintah membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Desa Edalode yang berjarak sekitar dua kilometer dari Olafuliaha'a, ibu kota Pantai Baru.

Dengan dibangunnya SPBU tersebut, masyarakat Rote sudah menikmati harga BBM lebih murah yakni Rp6.450 per liter untuk premium dan Rp5.150 per liter untuk solar. SPBU Kompak merupakan bagian dari 170 titik penyalur BBM satu harga di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Tujuannya memberikan rasa keadilan dalam penyediaan energi terutama bahan bakar minyak.

Selain itu, pembangunan SPBU di wilayah 3T merupakan komitmen Pertamina mendukung program pemerintah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Fons menambahkan, SPBU Kompak Desa Edalode beroperasi sejak 19 Juli 2019 memiliki tiga tangki pendam yakni premium 40 kiloliter (kl), solar 20 kl dan Pertalite 20 kl.

SPBU Kompak menjamin kebutuhan bahan bakar masyarakat sebesar 4.000 liter premium dan 2.000 liter solar dalam sehari. Sementara rata-rata konsumsi BBM di Rote per bulan untuk premium sebesar 450 kl dan solar 150 kl. Dengan beroperasinya SPBU tersebut, Rote telah memiliki dua SPBU, satu telah dibangun di Kelurahan Metina, Kecamatan Lobalain.

Sesuai data BPH Migas sejak 2017-2019, program akselerasi BBM satu harga telah menjangkau sekitar 580.893 keluarga yang tersebar 170 titik seluruh Indonesia mulai dari dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua. Sebanyak 75 titik di antaranya terdapat di wilayah Indonesia Timur, terdiri dari 17 titik di Maluku, 33 titik di Papua dan 25 titik di Nusa Tenggara termasuk SPBU di Desa Odalode.

Peresmian SPBU Kompak terakhir di wilayah Nusa Tenggara yakni 11 Oktober di Omesuri, Kabupaten Lembata, saat Menteri ESDM masih dijabat Ignasius Jonan.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan penyaluran BBM di Indonesia Timur mengunakan beragam moda transportasi. Di darat, menggunakan mobil tangki yang harus melalui medan cukup berat. Untuk laut, menggunakan kapal dengan tantangan ombak dan cuaca ekstrem serta perahu dan sampan untuk pengangkutan BBM melalui jalur sungai.

"Khusus wilayah yang sulit dijangkau, Pertamina menyiapkan pesawat khusus pengangkut BBM jenis ATR dengan kapasitas 4.000 liter. Semua cara kita lakukan, agar BBM bisa terdistribusi hingga wilayah ujung Indonesia," ungkap Fajriyah.(OL-5)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More