Jumat 15 November 2019, 06:30 WIB

Tekan Stunting dengan Program Inovasi dan Konsumsi Kelor

(Akhmad Safuan/H-1) | Humaniora
Tekan Stunting dengan Program Inovasi dan Konsumsi Kelor

MI/Akhmad Safuan
Blora Berhasil Tekan Angka Stunting

 

MINGGU itu masih pagi. Keriuhan terdengar dari para ibu bersama anak-anak balita mereka yang berkumpul di Posyandu Desa Ngawenombo, Kecamatan Kunduran, Blora, Jawa Tengah. Hadir istri kepala desa dan petugas kesehatan dari puskesmas setempat.

Kegiatan seperti penimbangan balita, penyuluhan, dan pemberian obat/vitamin serta makanan bergizi secara gratis menjadi pemandangan di 371 desa dan 34 kelurahan di 16 kecamatan, Kabupaten Blora, setiap pekan. Kegiatan rutin tersebut ternyata mampu menekan tingginya angka stunting (tengkes) di Blora yang pernah mencapai 55,1% ketika Bupati Djoko Nugroho baru saja menjabat pada 2010.

Berbagai upaya pun ditempuh, dengan mengerahkan kepala desa/lurah, camat, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) terutama Dinas Kesehatan Blora untuk bersama-sama mengeroyok permasalahan stunting yang mengkhawatirkan itu. Program inovasi juga dikembangkan untuk memerangi stunting seperti menumbuhkan kesadaran warga untuk ber-KB, menekan angka perkawinan usia dini, serta memacu program gizi sejak anak di dalam kandungan hingga usia sekolah.

"Berkat kerja keras semua pihak, akhirnya stunting dapat ditekan. Angkanya terus turun dan tahun ini tersisa 8,2%. Kita terus akan tekan hingga nol persen," kata Djoko.

Inovasi lain yang dilakukan ialah meningkatkan gizi penderita stunting. Salah satunya melalui program budi daya tanaman kelor. Berkat program itu pula, Blora kini dikenal di dunia internasional dan banyak didatangi tamu asing untuk mengadakan penelitian maupun pembudidayaan di negara mereka.

Tanaman kelor (Moringa oleifera) dipilih karena dianggap memiliki kandungan gizi tinggi dan diyakini bisa untuk menekan angka stunting. Bahkan Blora kini mempunyai taman kelor seluas 3 hektare yang akan terus dikembangkan.

Kepala Dinas Kesehatan Blora Lilik Hernanto mengatakan daun kelor cukup ampuh untuk memerangi stunting. Para ibu di Blora pun diminta memperbanyak konsumsi kelor dan sayuran termasuk untuk diberikan kepada anak mereka.

Kampung konservasi kelor di Desa Ngawenombo dikembangkan petani hortikultura, Dudi Krisnadi, yang telah lama bergelut di bidang tanaman kelor. "Kelor Blora mengandung 18 asam amino yang dibutuhkan untuk membangun tubuh agar sehat dan bugar," katanya. Bahkan daun kelor kini dia kembangkan untuk diolah menjadi tepung sehingga mudah dikonsumsi.

"Untuk memacu minat mengonsumsi daun kelor terutama anak-anak penderita stunting, di Blora setiap tahun diadakan festival kelor," imbuh Bupati. Berkat kerja keras dan inovasi, Kabupaten Blora kini menjadi sorotan nasional atas keberhasilan menekan angka stunting. Blora juga sudah dicatat berada di peringkat pertama provinsi atas upaya mereka menurunkan angka anak stunting dalam waktu singkat. Pada 2018 prevalensi stunting di Blora pada angka 32% atau turun dari 55,1% pada Riskesdas 2013. Lalu dari hasil timbangan Februari dan Agustus 2019 angka stunting turun drastis, hanya 8,2%. (Akhmad Safuan/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More