Jumat 15 November 2019, 06:00 WIB

Gawat Darurat Resistensi Antibiotik

Atalya Puspa | Humaniora
Gawat Darurat Resistensi Antibiotik

MI/Abdus Syukur
KONSUMSI ANTIBIOTIK SEMBARANGAN TIMBULKAN PENYAKIT

 

RESISTENSI antibiotik atau antimicrobal resistence (AMR) akibat penggunaan yang tidak tepat dan berlebihan menjadi permasalahan yang paling mengancam populasi dunia. Tiap tahun, AMR memakan 25 ribu jiwa di Eropa, 23 ribu di Amerika Serikat, 38 ribu di Thailand, dan 58 ribu bayi di India. Tanpa pengendalian global, AMR diperkirakan menjadi pembunuh nomor 1 di dunia yang memakan 50 juta jiwa, terbanyak di kawasan Asia.

Dokter Anak Purnamawati Sujud menegaskan, antibiotik merupakan sumber daya yang tidak terbarukan, dan saat ini persediaannya sudah menipis. Semakin banyak bakteri yang menjadi kebal dan tidak lagi mempan dengan atibiotik yang tersedia.

"Kita harus mengendalikan antibiotik. Ini menjadi masalah sangat serius yang dihadapi seluruh dunia. Orang yang kebal antibiotik disebut superbugs. Orang yang terinfeksi superbugs susah disembuhkan, memakan biaya mahal, dan bahkan bisa menyebabkan kematian," kata Purnamawati di FX Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (14/11). Akibatnya, beban infeksi akan semakin berat untuk ditanggung, dan layanan kesehatan pun akan sangat mahal dengan hasil yang tidak efektif.

Resistensi antibiotik berawal dari pemberian antibiotik pada penyakit yang disebabkan virus, seperti batuk pilek, influenza, dan diare tanpa darah. Padahal, antibiotik harusnya hanya dibe-rikan pada pasien yang terserang penyakit akibat bakteri seperti pneumonia, TBC, gonorrhoea, salmonellosis, dan TBC.

"Makin sering konsumsi antibiotik, makin banyak bakteri yang resisten karena bakteri juga punya kemampuan untuk adaptasi agar bertahan," imbuhnya.

Purnamawati menambahkan, belum ada obat lain yang mampu menangkal bakteri seperti antibiotik. Karena itu, penggunaan antibiotik perlu dilakukan secara tepat agar tidak menimbulkan becana pada kehidupan manusia di kemudian hari.

Pasalnya, meski regulasi mengenai penggunaan serta penyebaran antibiotik telah diatur Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, namun di lapangan, antibiotik mudah didapat tanpa resep dokter sehingga perlu pengawasan lebih ketat.

Pengaruh daging

Dalam kesempatan yang sama, dokter hewan Wayan Wiryawan mengungkapkan daging berperan dalam penyebaran bakteri resisten karena pengaruh antibiotik growth promoter (AGP) pada hewan ternak. Penggunaan AGP menghasilkan bakteri yang resisten pada tubuh hewan.

"Ada bukti yang menunjukkan, daging dapat mengakibatkan orang menderita penyakit akibat bakteri yang resisten, terutama jika penyakit tersebut memang ditularkan melalui makanan. Seperti infeksi bakteri patogen salmonela, dan penyakit yang ditimbulkan akibat resisten bakteri colistin," terang Wayan.

Pemerintah, ujar Wayan, telah berupaya menghadirkan produk hewani tanpa AGP melalui prinsip good farming practice. "AGP dilarang, dan ada sertifikasi nomor kontrol veteriner (NKV) tentang syarat sanitasi yang higienis. Namun, sertifikasi ini masih di peternakan di perkotaan, belum menjangkau peternakan di desa," jelas Wayan. (H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More