Jumat 15 November 2019, 00:00 WIB

Trump Lebih Peduli Penyelidikan Biden

Melalusa Susthira K | Internasional
Trump Lebih Peduli Penyelidikan Biden

. (Photo by Andrew CABALLERO-REYNOLDS / AFP)
Diplomat top AS di Ukraina William Taylor memberikan kesaksian selama Komite Intelijen Rumah di Capitol Hill di Washington, DC

 

DUA diplomat utama Amerika Serikat (AS) menyampaikan kesaksiannya terkait skandal Ukraina dalam penyelidikan pemakzulan Presiden AS Donald Trump. Setelah kesaksian sebelumnya disampaikan secara tertutup, kini penyelidikan pemakzulan Trump memasuki babak baru karena sidang berlangsung terbuka dan disiarkan televisi untuk pertama kalinya.

Diplomat AS di Ukraina, William Taylor, memberikan kesaksiannya di depan Komite Intelijen DPR AS. Taylor membawa informasi baru terkait upaya Trump menekan Ukraina agar menyelidiki pesaing potensialnya dari Demokrat dalam Pilpres 2020, Joe Biden.

Taylor bersaksi, ia diberitahu Trump dirinya lebih peduli soal penyelidikan Joe Biden dan putranya, Hunter Biden, yang menjadi dewan direksi perusahaan gas raksasa Ukraina.

Hal itu diketahui Taylor dari seorang anggota stafnya yang mendengar panggilan telepon antara Trump dan Duta Besar AS untuk Uni Eropa Gordon Sondland. Setelah panggilan usai, staf Taylor bertanya kepada Sondland terkait pandangan Trump atas Ukraina. "Presiden Trump lebih peduli tentang penyelidikan Biden," ujar Taylor menyampaikan apa yang diutarakan oleh Dubes Sondland.

Taylor menyebut Trump menciptakan alur yang tidak biasa dengan menugaskan pengacara pribadinya, Rudy Giuliani, mendesak penyelidikan Biden.

"Sondland memang berbicara kepada saya untuk sesaat dan saya mengatakan tidak quid pro quo dalam keadaan apa pun," tutur Trump.

Menguatkan dugaan

Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Alexandria Ocasio-Cortez, menyebut kesaksian baru Taylor tersebut dapat semakin menguatkan dugaan Trump telah menyalahgunakan kekuasaannya dengan menggunakan bantuan militer AS sebagai quid pro quo (kompensasi balas jasa) agar Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bersedia menyelidiki keterkaitan Biden dan putranya di perusahaan gas Ukraina, Burisma.

"(Trump) sendiri membuat dan mengambil bagian dalam beberapa panggilan telepon ini dan itu benar-benar menambah tingkat yang jauh lebih mencemaskan atas keterkaitannya dalam menggunakan kekuatan pemerintah untuk mewujudkan penyelidikan yang bermotivasi politik," ujar Alexandria kepada CNN.

Saksi lainnya yang hadir, yakni Deputi Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Eropa dan Eurasi, George Kent, mengatakan seharusnya AS tidak meminta negara-negara lain untuk terlibat dalam penyelidikan terkait lawan-lawan politik mereka. Tindakan selektif tersebut, sambung Kent, mengacaukan aturan hukum.

Partai Republik berusaha memotong kesaksian para saksi dengan berfokus pada peran Hunter Biden dalam dewan direksi Burisma yang disebut mendapat bayaran hingga US$50 ribu per bulan. Mereka menekankan Ukraina tidak pernah melakukan penyelidikan terkait Biden. "Dia tidak melakukan hal-hal yang dikatakan Partai Demokrat bahwa dia dipaksa dan dipaksa serta diancam akan melakukannya," pungkas anggota Kongres dari Partai Republik, John Ratcliffe.

Saat sidang pemakzulan Trump yang disiarkan terbuka, Trump justru mengatakan dirinya tidak akan menonton sidang yang disiarkan di televisi itu karena terlalu sibuk.

"Itu ialah drama, hoaks. Saya terlalu sibuk. Namun, saya yakin akan mendapatkan laporan mengenai itu," imbuh Trump, Rabu (13/11). (AFP/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More