Kamis 14 November 2019, 19:09 WIB

BBM Langka, Pengusaha Kandangkan Bus

Kristiadi | Nusantara
BBM Langka, Pengusaha Kandangkan Bus

MTVN/Yohanes Manasye
Ilustrasi

 

SEJUMLAH  pengusaha bus Kabupaten Ciamis, Jawa Barat (Jabar) terpaksa kandangkan kendaraan, terkait kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) wilayah Priangan Timur hampir sepekan terakhir.

Manajer Personalia Gapuraning Rahayu, Ekky Brata Kusuma mengatakan, pembatasan solar subsidi yang dilakukan Pertamina di wilayah Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran, Garut, Kota Tasikmalaya dan Banjar, sangat membebani masyarakat hingga para pengusaha bus terpaksa harus memarkirkan sebagian kendaraan ke dalam gerasi seiring sering kehabisan solar di tengah perjalanan.

"Kami sebagai pengusaha otobus (PO) Ciamis tentu mengeluhkan kejadian tersebut, apalagi selama ini sudah adanya pembatasan jatah subsidi di setiap SPBU. Daripada mengalami kerugian dan gulung tikar, pengusaha memilih menghentikan operasi sebagian armada dan kendaraan lain terpaksa harus dikandangkan," katanya.

Ekky mengungkapkan, selama beberapa hari ini sangat sulit mencari solar subsidi di setiap SPBU sampai bus melakukan penyisiran dan mencari ke jalan nasional mulai Pamalayan, Cihaurbeuti, Ciamis, Tasikmalaya menuju arah Bandung. Namun, pembelian hanya dijatah 50-100 liter dari pengisian semula rata-rata 200 liter untuk ukuran bus.

"Kami sebagai pengusaha bus AKDP sangat keberatan, jika harus menggunakan solar non subsidi dan tarif harus adanya penyesuaian. Sedangkan, kondisi penumpang sendiri tentu semakin sepi tapi kendaraan yang beroperasi hanya sebagian jalan daripada harus gulung tikar lebih baik bus lainnya dikandangkan," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Organda Garut, Yudi Nurcahyadi mengatakan, anggotanya banyak yang mengeluhkan karena sulit mendapatkan Bahan Bakar Minyak solar subsidi hingga dari mereka harus mencari ke wilayah Kabupaten Bandung.

"Saya sudah koordinasi dengan Organda se Jabar mempertanyakan kelangkaan solar di Priangan Timur dan untuk daerah lain ternyata masih tersedia. Namun, permasalahan yang terjadi harus segera diatasi supaya tidak ada masyarakat yang dirugikan,'' tegasnya sembari menyebutkan, dalam waktu dekat akan menggelar rapat bersama Hiswana Migas di Kota Tasikmalaya terkait persoalan batasan kuota dari 16 ribu kilo liter menjadi 8 ribu kilo liter. (OL-11)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More