Kamis 14 November 2019, 17:21 WIB

Demi Proyek Kereta Cepat, Lima Ruang Kelas SMPN Dirobohkan

Depii Gunawan | Nusantara
Demi Proyek Kereta Cepat, Lima Ruang Kelas SMPN Dirobohkan

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/aww.
Dua siswa membawa kursi di kelas SMPN 1 Ngamprah yang terdampak proyek kereta cepat Jakarta-Bandung di Padalarang, Kabupaten Bandung

 

SEBANYAK lima ruang kelas di SMPN 1 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat akan dirobohkan untuk kepentingan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Agar proses belajar mengajar tidak sampai terhambat, Dinas Pendidikan (Disdik) setempat memastikan akan segera membangun ruang kelas baru untuk mengganti ruang kelas yang akan dirobohkan.

"Lima ruang kelas yang terdampak direncanakan akan diganti dengan bangunan baru pada minggu depan," terang Kepala Bidang SMP pada Disdik Bandung Barat, Dadang A Sapardan, hari ini.

Dia menyatakan, saat ini pihaknya tengah menyiapkan sejumlah administrasi yang harus disertakan untuk penggantian bangunan kelas yang dirobohkan.

"Insyallah minggu depan bangunannya mulai dikerjakan. Mudah-mudahan bisa langsung kontruksi, karena rencana anggaran biaya (RAB) sudah beres, kita tinggal menyiapkan kelengkapan administrasinya," ungkap Dadang.

Dadang mengungkapkan, pembangunan ruang sekolah akan dikerjakan oleh PT Wika. Menurutnya, pihak kontraktor akan membangun dengan konsep dua tingkat, lima ruang di lantai dasar akan digunakan untuk ruang perkantoran, sedangkan lima ruangan atas untuk kegiatan belajar mengajar.

Dia mengaku, sedikit kendala yang kini dihadapi adalah ketiadaan akses jalan siswa menuju ke sekolah. Satu-satunya jalan keluar masuk siswa menuju SMPN 1 Ngamprah hanya melalui area proyek.

"Itu masalahnya, enggak ada lagi akses jalan ke sekolah. Kita juga belum punya rencana membuka akses jalan baru," tutur Dadang.

Selama musim kemarau, para siswa terpaksa harus menghirup debu dari proyek kereta cepat. Sedangkan di musim hujan, akses jalan menjadi berlumpur. Pihak sekolah sudah membuat permohonan agar dilakukan pemeriksaan kesehatan rutin dan suplai makanan bergizi untuk siswanya.

"Sekolah mengkhawatirkan kesehatan siswa dengan adanya proyek tersebut, tetapi sudah ada MoU dengan KCIC. Setiap seminggu sekali, siswa akan diberikan susu dan sereal, termasuk pengadaan masker," jelasnya. (OL-11)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More