Kamis 14 November 2019, 15:15 WIB

Koleksi Wignyo dan Linda untuk Bangkitnya Busana Muslim NTB

Bintang Krisanti | Weekend
Koleksi Wignyo dan Linda untuk Bangkitnya Busana Muslim NTB

Dok. Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia NTB/ Dekranasda NTB
Koleksi desainer Linda Hamidy Grander yang menggunakan tenun khas NTB.

SUDAH beberapa tahun ini beberapa desainer Tanah Air menggaungkan misi Indonesia menjadi kiblat mode busana muslim dunia. Seolah tidak mau ketinggalan, di Nusa Tenggara Barat (NTB) hadir semangat untuk membangun sentra industri busana muslim.

Inilah yang terlihat dari program “NTB Goes to Moslem Fashion Industry" yang dibuat oleh Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia NTB dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTB. Program ini berbentuk peragaan busana, dimana karya yang ditampilkan merupakan hasil dari program pelatihan sebelumnya.

Program pelatihan itu juga dijalankan KPw BI, namun menggandeng desainer Wignyo Rahadi. Mereka membuat dua program pelatihan, yakni Program Fashion Product Incubator (FPI) dan Fashion Design Incubator (FDI).

Program FPI ditujukan untuk melatih dan meningkatkan keahlian para pengrajin busana/penjahit di NTB khususnya para lulusan SMK agar dapat menjadi penjahit yang mandiri. Program FDI dihadirkan untuk melatih para perancang busana/desainer di NTB agar dapat mengeksplorasi kreativitas dan membuat desain.

Dalam peragaan busana yang bertempat di Pelataran Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center NTB pada awal November 2019, bukan hanya Wignyo yang ambil bagian melainkan juga Linda Hamidy Grander.

Dalam rilis yang diterima Media Indonesia, dijelaskan jika Linda Hamidy Grander menampilkan koleksi busana tenun bertajuk “Life in Black and White”. Linda mengungkapkan jika koleksi tersebut menunjukan bahwa kain tradisional pun dapat menjadi pakaian yang terlihat mewah dan berkelas internasional. Daya tarik kain Pringgasela dan Sukarare menjadi pilihan utama karya Linda dengan menggunakan kombinasi bahan-bahan polos dan bermotif.

Wignyo Rahadi juga menggunakan tenun Pringgasela. Ia membuat tema “Tropical Vibes” untuk koleksinya. Koleksi ini terinspirasi dari keindahan warna alami pulau tropis dipadukan secara harmonis dengan warna alami tenun Pringgasela, seperti coklat muda, coklat tua, hijau, dan lime green yang dituangkan dalam desain berupa longdress, outer, blouse, dan celana panjang.

“kolaborasi ini mendorong pengembangan pemakaian kain tenun NTB yang tak hanya digunakan sebagai kain, namun juga sebagai busana muslim siap pakai dengan ragam pilihan desain dan standar kualitas yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan pangsa pasar domestik, nasional, hingga internasional,” pungkas Wignyo. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More