Rabu 13 November 2019, 20:10 WIB

Pemerintah Diminta Dorong Kembali Penggunaan Bahasa Indonesia

mediaindonesia.com | Humaniora
Pemerintah Diminta Dorong Kembali Penggunaan Bahasa Indonesia

MI/Susanto
Penggunaan bahasa Indonesia diharap kembali digalakkan.

 

PADA Selasa (5/11) lalu, Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar Kongres dan Seminar Internasional FDGI IV yang membahas peran bahasa Indonesia.

Dakam kongres yang dihadiri 154 guru besar dan 31 delegasi dari perguruan tinggi baik negeri dan swasta, dibahas dan dideklarasikan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah internasional.

Kongres pun melakukan deklarasi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional dengan menyatakan, “Kami ilmuwan Nusantara bersepakat dan berjanji untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah internasional.”

Dengan memiliki populasi terbesar keempat di dunia, bahasa Indonesia memberikan pengaruh yang banyak terhadap khazanah kebahasaan internasional. Sehingga, Indonesia mempunyai potensi untuk menginternasionalkan bahasanya.\

"Ini adalah prakarsa luar biasa. Sebagai pencinta bahasa Indonesia, saya mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih banyak kepada Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI) dan delegasi Dewan Guru Besar serta pakar internasional," ujar dosen Institut Agama Islam Al-Ghurabaa Jakarta, Edi Sugianto dalam keterangannya, Rabu (13/11).

Menurut Edi, sebagaimana hasil diskusi pleno, terdapat beberapa alasan bahwa bahasa Indonesia layak menjadi bahasa ilmiah internasional. Pertama, hingga saat ini, bahasa Indonesia telah diajarkan di 45 negara. Kedua, telah memiliki kosa kata lebih dari 100.000 dan istilah keilmuan di berbagai disiplin ilmu.

“Ketiga, jutaan orang di berbagai negara, utamanya ASEAN telah memahami bahasa Indonesia dengan cukup baik,” kata Edi.

Di samping itu, terdapat juga sejumlah negara yang mendukung bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa internasional, antara lain Vietnam, Thailand, Australia, Kanada, Rusia, dan Amerika, dan lain-lain. Sedikitnya ada 219 lembaga di 74 negara, di dalam negeri dan luar negeri.

"Anehnya, animo masyarakat dunia untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional kedua, ketiga, atau pun keempat adalah kontradiktif dengan semangat masyarakat Indonesia sendiri,” ujarnya.

“Jangankan yang awam, selevel akademisi dan pengamat yang sering tampil di televisi pun lebih gemar mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing, padahal tidak semua pendengar mengerti penjelasannya," ucap Edi.

Ironisnya lagi, menurut Edi, akhir-akhir ini anak-anak milenial lebih menggandrungi istilah-istilah asing ketimbang bahasa Indonesia yang baik dan benar. Di antara penyebabnya adalah pembelajaran bahasa Indonesia yang membosankan.

“Dengan demikian, para pendidik perlu memperhatikan aspek metodologi pembelajaran bahasa Indonesia, sehingga menjadi menyenangkan,” tegas Edi.

Menduniakan bahasa Indonesia, kata Edi, semestinya dimulai dari diri sendiri, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pemerintah juga harus menggalakkan kembali ajakan mengindonesiakan bahasa Indonesia.

Selain itu, Edi berharap perlunya pula peran dari insan pers. Bahasa Indonesia dikenal secara luas tidak lepas peran media massa. Media bukan sekadar alat komunikasi dan informasi, namun juga mengusung misi pendidikan dan pencerdasan secara kolosal.

"Pelaku media wajib meneladankan penggunaan bahasa Indonesia yang benar dan menarik. Menguasai keterampilan berbahasa dan mematuhi kode etika jurnalistik merupakan tolak ukur media yang keren. Sebab, media massa memengaruhi pola pikir dan perilaku publik secara masif," pungkasnya. (OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More