Kamis 14 November 2019, 07:23 WIB

Kekeringan Ekstrem, BPPT Buat Hujan Buatan di Hulu DAS Brantas

Bagus Suryo | Nusantara
Kekeringan Ekstrem, BPPT Buat Hujan Buatan di Hulu DAS Brantas

MI/Bagus Suryo
Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto mengecek pesawat dan bahan untuk TMC di Hulu DAS Brantas.

 

PENERAPAN Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan mulai dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas di Malang, Jawa Timur selama 20 hari ke depan. Hujan butan mendesak lantaran kekeringan semakin parah membuat waduk Sutami kritis.

Waduk terbesar di Jatim itu nyaris mengering setelah wilayah Malang Raya meliputi Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu dilanda kekeringan ekstrem. Selain di DAS Brantas, TMC juga dilakukan di DAS Citarum sejak 25 Oktober hingga 18 November 2019. Dan upaya serupa mengatasi kabut asap di Sumatra Selatan, TMC sudah dilakukan sejak September lalu sampai 20 November.

"Kondisi waduk sudah cukup kering mengingat musim kemarau 2019 cukup panjang, bahkan di wilayah Malang sudah tercatat daerah dengan kekeringan ekstrem, dengan hari tanpa hujan lebih dari 60 hari,"tegas Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BPPT) Tri Handoko Seto kepada wartawan di Malang, Rabu (13/11/2019).

Ia mengatakan TMC di DAS Brantas hulu merupakan kelima kalinya setelah sebelumnya dilaksanakan TMC pada 1998, 2007, 2012, dan 2013. Sejauh ini air baku di waduk Sutami menyusut drastis sehingga mengganggu pasokan untuk minum, pertanian, industri dan PLTA.

"Melaksanakan teknologi modifikasi cuaca untuk meningkatkan inflow DAS Brantas selama 20 hari ke depan," katanya.

Ia optimistis keberhasilan TMC akan efektif karena melihat potensi awan yang berpotensi memudahkan turun hujan.

"Awannya ada, tapi teman-teman harus jeli agar saat kita semai bisa hujan," tuturnya.

Adapun kegiatan ini dilakukan setelah menjalin kontrak dengan Perum Jasa Tirta (PJT) 1 untuk 30 jam terbang dengan bahan 800 kg NaCl tiap sekali terbang. Setelah upaya hujan buatan ini diharapkan bisa turun hujan dan menambah air baku minimal di waduk sekitar 30%, maksimal 50% sampai 70% dari volume tampungan waduk.

"Biaya TMC kontraknya dengan negara. PJT 1 bayar di negara, kontrak Rp3 miliar. Pengajuannya 3 bulan lalu. Awalnya kemarau panjang, elevasi waduk menurun," imbuhnya.

baca juga: Puluhan Rumah di Banyuasin Hancur Dihantam Angin Puting Beliung

Selain hujan buatan di hulu DAS Brantas, Malang, BPPT sudah melakukan TMC di DAS Citarum sejak 25 Oktober. Ia memperkirakan upaya menambah air baku Citarum melalui hujan akan berakhir pada 18 November. Sedangkan untuk pemadaman kebakaran hutan dan lahan masih berlanjut di Sumatra Selatan karena masih ada titik api dan kabut asap. Adapun kabut asap di Kalimantan sudah padam total sehingga TMC dihentikan

"TMC di Citarum sampai 18 November. Pemadaman api di Kalimantan dan Sumatra sudah selesai kecuali Sumatra Selatan di rencanakan sampai 20 November selesai sejak TMC September lalu," pungkasnya.(OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More