Rabu 13 November 2019, 21:56 WIB

ISEF Kuatkan Ambisi Indonesia Jadi Pusat keuangan Syariah

Ihfa Firdausya | Ekonomi
ISEF Kuatkan Ambisi Indonesia Jadi Pusat keuangan Syariah

Antara/hafidz Mubarak A
Suasana penyelenggaraan ISEF 2019

 

PENYELENGGARAAN festival ekonomi dan keuangan syariah berskala internasional yang bertajuk "Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF)" ke-6 di Jakarta (12-16 November) menjadi platform dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia Dadang Mulyawan saat jumpa pers di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (13/11).

Bank Indonesia sebagai salah satu stakeholder dalam penyelenggaraan event tersebut hendak mensinergikan komponen-komponen dalam upaya pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

"Baik yang sifatnya produksi, research, activity, dan lainnya, semua kita coba gabungkan," ujar Dadang.

Menurutnya, ada beberapa pilar yang ingin dikuatkan melalui ISEF 2019 ini.

Baca juga ; Digitalisasi Bisa Percepat Penetrasi Ekonomi Syariah

Pertama adalah memperkuat pilar halal value chain. "Seluruh segmen kita coba dorong. Baik yang sangat kecil tapi memiliki potensi besar, seperti pesantren, UMKM, itu kita coba bangunkan struktur holdingnya," jelasnya.

Untuk memperkuat ekonomi, lanjutnya, Indonesia harus bisa menggunakan produk bangsa sendiri, yakni dengan mengurangi ekspor dan juga melakukan substitusi impor.

"Sehingga dengan teknologi yang akan mendorong efisiensi, mudah-mudahan produktivitas akan merata. Tentunya kalau merata, stabilitas ekonomi kita akan jauh lebih baik," katanya.

Pilar kedua adalah penguatan sistem keuangan syariah. Pasar keuangan syariah di Indonesia harus dikuatkan karena dalam skala global negara ini memiliki potensi yang luar biasa.

"Sehingga pada saat ada liquidity shock, bank syariah bisa lebih kuat dalam menghadapi gejolak-gejolak seperti itu," tuturnya.

Satu sektor lain yang sedang dibangun adalah pasar keuangan sosial syariah yang di dalamnya ada zakat dan wakaf.

"Yang kita dorong untuk islamic social finance adalah level dari governance-nya. Jadi governance-nya harus kuat.

Sebagai informasi, BI bersama Baznas (Badan Amil Zakat Nasional), BWI (Badan Wakaf Indonesia), dan lembaga internasional lain sudah meluncurkan zakat wakaf all principle untuk memperkuat standar-standar," pungkasnya.

Wakil Presiden Indonesia Ma'ruf Amin yang berkesempatan membuka ISEF 2019 memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, ISEF akan membawa pengaruh besar dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Baca juga : Pemerintah akan Maksimalkan Teknologi untuk Dorong Perekonomian

"Pemerintah sudah punya sikap untuk mendorong percepatan pertumbuhan daripada ekonomi dan keuangan syariah," katanya di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (13/11).

Ma'ruf menegaskan bahwa Presiden Joko Widodo ingin Indonesia menjadi pusat keuangan syariah dunia.

"Sukuk kita sudah menjadi sukuk terbesar di dunia, yaitu SBSN (Surat Berharga Syariah Negara). Tapi perbankan, asuransi, pasar modal, belum," imbuhnya.

Lebih lanjut, Wapres juga ingin Indonesia bukan hanya jadi tukang stempel pengakuan kehalalan suatu produk melalui sertifikat halal, industri halal, atau konsumen halal.

"Tapi juga menjadi produsen halal," tukasnya. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More