Rabu 13 November 2019, 20:05 WIB

Satu Nyawa Melayang Tiap 39 Detik

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Satu Nyawa Melayang Tiap 39 Detik

AFP
Manneken Pis, patung perunggu berbentuk anak lelaki yang telanjang di Brussels, Belgia, mengenakan pakaian dan masker untuk menandai Hari Pn

 

HARI Pneumonia Sedunia diperingati pada 12 November setiap tahunnya. Namanya sudah sering sering disebut, tetapi tidak banyak yang tahu betapa mengerikannya penyakit ini.

Hasil riset terbaru badan kesehatan dunia menyebutkan, pneumonia telah membunuh lebih dari 800 ribu bayi dan anak-anak pada 2018 atau satu anak setiap 39 detik. Angka ini jauh melampaui kematian yang disebabkan penyakit-penyakit berbahaya lainnya, seperti malaria dan campak.

"Kasus pneumonia tertinggi itu terjadi pada usia bayi, terutama di bawah 1 tahun. Kelompok lain yang juga memiliki risiko tinggi terserang pneumonia, yaitu anak dengan penyakit jantung bawaan, HIV, talasemia, dan anak yang sedang mendapatkan kemoterapi, serta kondisi medis lain yang menyebabkan kekebalan tubuh berkurang," terang dokter spesialis anak, Arifianto, di Jakarta, pekan lalu.

Dikenal juga sebagai radang paru akut, pneumonia ini sebenarnya bisa dicegah melalui pemberian vaksin pneumokokus atau pneumococcal conjugate vaccine (PCV). Vaksin PCV pada anak bisa diberikan dalam 3 kali dosis dasar dan 1 kali dosis boosting. Pada anak di bawah usia 1 tahun, vaksin diberikan dengan dosis tiga kali, yaitu pada usia 2, 4, dan 6 bulan.

"Vaksin ini sebaiknya diberikan saat anak sedang dalam kondisi sehat meski vaksin pneumokokus memiliki efek samping yang lebih kecil jika dibandingkan dengan vaksin jenis lain, seperti vaksin DPT," sebut Arif.

Menurutnya, penelitian yang dilakukan Sekolah Kedokteran Universitas Catanzaro Magna Graecia, Italia, menyebutkan pemberian PCV pada anak cukup efektif dalam mencegah pneumonia.

Pemberian PCV ditambah dengan HiB (vaksin untuk virus Haemophilus influenzae tipe b), bahkan dapat menurunkan 50% angka kematian balita akibat pneumonia.

"Di sini efikasi/efektivitasnya 89% untuk mencegah IPD (invasive pneumococcal disease)," ungkapnya.

Meski mematikan, pada 2018, sedikitnya 1 juta anak Indonesia tidak mendapatkan vaksinasi PCV sehingga meningkatkan risiko mereka untuk terjangkit pneumonia. Padahal, vaksin ialah alat pencegahan penyakit menular yang efektif.

Ditemui seusai diskusi bertajuk Urgensi Optimalisasi Pengadaan Vaksin Baru Terkait Efisiensi Anggaran, spesialis sistem kesehatan dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Soewarta Kosen menegaskan, kasus pneumonia di Indonesia mendapat sorotan dunia karena abai terhadap imunisasi PCV.

Dalam pengadaan vaksin untuk masyarakat, Indonesia jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Bangladesh, Korea, dan India.

"Indonesia ini salah satu negara besar yang belum mulai imunisasi (wajib) PCV. Padahal sudah 147 negara, lebih dari separuh negara di dunia, termasuk India yang sudah memberikan imunisasi PCV," bebernya di Jakarta, kemarin.

PCV belum bisa masuk program imunisasi dasar di Indonesia. Perusahaan vaksin milik pemerintah, yakni Bio Farma, belum mampu memproduksi PCV sehingga harus impor dengan harga mahal.

Menurut dia, harga vaksin yang mahal bukan alasan mengabaikan imunisasi untuk mencegah pneumonia. Bantuan dari lembaga donor seperti Global Alliance for Vaccines and Immunizations (GAVI) maupun membeli lewat Unicef PBB, bisa jadi solusi untuk mengatasi terbatasnya anggaran vaksin.

Harga vaksin PCV ialah Rp250 ribu per dosis, sedangkan bila mengikuti program Unicef, pemerintah bisa membeli dengan harga US$3 atau setara dengan Rp42 ribu per dosis. Peraturan Presiden No 16/2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah memberikan ruang untuk bisa mengakses vaksin impor, seperti yang ditawarkan Unicef.

"GAVI sudah tawarin dari 10 tahun lalu, tapi kita tolak karena anak kita banyak, anggaran enggak cukup. Padahal kematian tidak diukur dari uang," pungkasnya.

 

Organ vital

Saat ini Indonesia menempati peringkat ke-7 negara dengan angka kematian bayi berusia di bawah 5 tahun akibat pneumonia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi pneumonia pada balita di Indonesia terus naik, dari 1,6% pada 2013 menjadi 2% (2018).

Diketahui, bakteri penyebab pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae dan Hemophilus influenza tipe b (Hib). Sementara itu, virus penyebab pneumonia, yakni adenoviruses, rhinovirus, influenza virus, respiratory syncytial virus (RSV), dan parainfluenza virus.

Pneumonia bisa menyebabkan infeksi akut sampai ke jaringan paru. Dokter spesialis anak, Nastiti Kaswandani, mengungkapkan infeksi bakteri virus yang pada anak lebih mudah menyebar ke paru-paru dan menimbulkan masalah.

"Karena paru sebagai organ vital pertukaran udara. Untuk pencegahannya, daya tahan tubuh bayi harus kuat, gizinya baik, pola makan sesuai, ASI eksklusif, dan yang paling penting imunisasi harus dilakukan," katanya, saat dihubungi terpisah. (Ata/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More