Rabu 13 November 2019, 14:15 WIB

Pulang dari Uzbekistan, Kurash Siap Berlaga di SEA Games

Despian Nurhidayat | Olahraga
Pulang dari Uzbekistan, Kurash Siap Berlaga di SEA Games

ANTARA/INASGOC/Helmi Afandi
Pertandingan Kurash di ajang Asian Games 2018

SELEPAS pelaksanaan pelatihan khusus di Uzbekistan selama dua bulan, Pengurus Besar Federasi Kurash Indonesia (PB Ferkushi) menyatakan siap berlaga di ajang SEA Games 2019.

Sebanyak 10 atlet yang terdiri dari 5 atlet putra dan 5 atlet putri menyatakan siap mencapai target dua medali emas yang telah ditetapkan.

Target dua emas itu diyakini mampu diraih dari dua nomor yakni kelas -63 kg putri atas nama Khasani Najmu Shifa yang berhasil meraih medali perunggu Asian Games 2018 dan dari kelas -66 kg putra atas nama Hendi Hadiat.

Sekretaris Jenderal PB Ferkushi Lukman Husain mengungkapkan atlet-atletnya akan segera kembali ke Indonesia untuk bergabung dengan kontingen lain menjelang keberangkatan ke SEA Games.

Selain itu, dia menambahkan, sebelum mengadakan pelatihan di Uzbekistan, atlet-atletnya sempat mengikuti Kejuaraan Kurash di Korea.

Baca juga: Skateboard Waspadai Ambisi Besar Tuan Rumah

"Anak-anak itu besok tanggal 15 baru pulang dari Uzbekistan setelah training camp selama 2 bulan di sana. Setelah itu, nanti dua minggu mereka akan stay di Jakarta dan gabung dengan kontingen lainnya," ungkapnya kepada Media Indonesia, Rabu (13/11).

"Sebelum ke Uzbekishtan, mereka ikut kejuaraan di Korea. Setelah itu mereka dua bulan di Uzbekistan untuk mengikuti semua kegiatan terkait cabor kurash di sana. Negara itu kan gudangnya kurash. Jadi, mereka ada sparring, tanding, dan setiap saat bisa dikatakan ada pertandingan di sana," lanjut Lukman.

Melihat peta kekuatan di Asia Tenggara, Lukman pun optimistis Indonesia unggul di antara negara-negara lainnya di cabang olahraga kurash.

Mengingat pencapaian di ajang Asian Games tahun lalu, Indonesia berhasil meraih medali perunggu dan unggul di antara negara-negara Asia Tenggara.

Namun, rasa optimistis itu nyatanya tidak membuat Lukman jemawa, karena dia memikirkan banyak faktor lain yang bisa mengubah keadaan. Mulai dari tuan rumah, juga beberapa negara lain yang patut diwaspadai menjadi catatan penting baginya.

"Karena melihat peta kekuatan Asia Tenggara bisa dikatakan kita yang terkuat. Karena di ajang Asian Games kemarin kan kita dapat satu perunggu, kalah dari Uzbekistan, India, dan Iran. Nah parameternya kalau kita bicara masalah Asia Tenggara kan kita yang terkuat," tambahnya.

"Meskipun begitu, kita tidak bisa semata-mata menapikan kekuatan tuan rumah, Vietnam, dan Thailand. Semua negara sebenarnya harus diwaspadai, tapi kita juga fokuskan kepada atlet untuk memikirkan bahwa semua lawan itu sama," kata Lukman.

Di atas kertas, Indonesia bisa dikatakan memiliki titel sebagai negara terkuat di cabor kurash. Tapi, Lukman menambahkan, di pertandingan bela diri, sering kali faktor keberuntungan menjadi pembalik keadaan.

Bukan tidak mungkin seorang juara dunia sekali pun dalam pertandingan kurash ini bisa lengah dan mengalami kekalahan. Artinya, dia tetap menekankan kepada para atlet agar tetap waspada dan melihat semua lawan memiliki kapasitas sebagai juara.

"Sebenarnya melihat dari kekuatan, kita bukan hanya dua medali emas yang bisa kita dapatkan, mungkin lebih. Tapi kita tidak bisa mengatakan sekian, jadi cukup dua medali saja. Mudah-mudahan lebih dari target yang kita canangkan, nggak mau jemawa lah intinya karena masih ada Tuhan. Tapi Insya Allah mudah-mudahanan tidak akan meleset dari yang kita canangkan," lanjutnya.

Saat ini, Lukman pun menambahkan bahwa cabor kurash memiliki kesulitan untuk melaksanakan latih tanding atau sparing. Hal ini dikarenakan cabor kuras terbilang belum banyak tersebar di Indonesia.

Selain itu, dia pun tidak mempermasalahkan mengenai anggaran mau pun fasilitan pelatnas. Berlangsung di Icuk Sugiarto Training Camp Sukabumi, Lukman juga memuji fasilitas lengkap yang dimiliki oleh tempat yang berada di bawah naungan mantan pebulutangkis tersebut.

"Kita mungkin kendala di Indonesia hanya sparing yang sulit ya, makanya kenapa kita lari ke luar negeri. Sparing di Indonesia kan kurang, karena bagaimana pun juga basic kurash itu larinya ke judo, nah kita sparring sama anak-anak judo. Kendala kita permasalahan teknik aja sih," papar Lukman.

"Kalau dari segi anggaran dana dan sebagainya, pemerintah dalam hal ini Kemenpora sangat membantu dan tidak ada masalah. Fasilitas juga nggak masalah, karena awalnya kita training di Ciloto, Puncak. Nah setelah itu beberapa bulan kita beralih ke Icuk Sugiarto Training Camp di Sukabumi, di situ fasilitas bagus dan nggak ada masalah," tutupnya. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More