Rabu 13 November 2019, 10:00 WIB

Tanamkam Pancasila lewat Jalur Budaya

M Iqbal Al Machmudi | Politik dan Hukum
Tanamkam Pancasila lewat Jalur Budaya

MI/ADAM DWI
Direktur Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP Aris Heru Utomo.

 

BADAN Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menilai saat ini nilai-nilai Pancasila ditanam bukan hanya melalui jalur formal, tetapi harus ditanam menggunakan jalur budaya yang kekinian.

Pemetaan ideologi antara Indonesia dan negara lain berbeda. Negara maju sudah melibatkan seluruh elemen masyarakat dan menggunakan cara-cara kekinian seperti pendekatan budaya. Namun, di Indonesia, yang diperhatikan hanya pendekatan melalui jalur formal lewat pendidikan, sedangkan jalur budaya belum dimaksimalkan.

Menurut Direktur Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP Aris Heru Utomo saat sosialisasi nilai-nilai Pancasila di Malang, jalur pendidikan kembali menerapkan mata pelajaran Pancasila di sekolah-sekolah.

Saat ini belum sepenuhnya, masih proses dan sedang siapkan untuk disebarkan di setiap sekolah.

"Ternyata jalur budaya tak kalah efektif seperti jalur pendidikan. Jadi, pendekatan melalui budaya seperti penguatan komunitas ke jalur media sosial komunikasi dan jaringan kelompok masyarakat komunitas, kita harus garap bersama, salah satunya melalui film," ujar Aris.

Ia juga mencontohkan peran budaya dalam penanaman ideologi seperti penyebaran agama Islam di Indonesia yang menggunakan budaya menggunakan objek wayang oleh Wali Songo di Pulau Jawa.

Direktur Eksekutif Yayasan Nawala M Yamin El Rust menambahkan saat ini hal yang utama menangkal hoaks ialah mengatur akses penggunaan internet bagi pemula (anak-anak).

"Jadi orang yang baru belajar internet tidak diberikan seluruhnya ke rimba belantara internet," kata Yamin.

Pengguna awal harus diberikan pendidikan melalui literasi pendidikan yang harus ditanam sejak dini, seperti keluarga, sekolah, dan terakhir masyarakat.

Menurut Yamin, selama ini dalam sistem pengenalan internet pada anak ada yang salah karena awal pengenalan diawali oleh masyarakat sekitar, bukan melalui dari keluarga.

"Sayangnya yang terjadi saat ini terbalik, dari masyarakat, baru ke rumah, ketika anak sudah terpapar dan sudah sulit sekali dengan kandungan negatif yang berbau radikalisme dan candu. Seharusnya pengenalan internet diawali dari keluarga yang berada di ring satu, dilanjut dari sekolah, dan baru dari masyarakat,'' jelasnya.

Hoaks diketahui mempunyai ciri-ciri yang mudah dikenali, seperti diawali kata-kata yang bombastis atau sugestif, lalu tidak diberitakan pada media mainstream. (Iam/P-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More