Selasa 12 November 2019, 21:30 WIB

Penanganan Skoliosis Harus Sejak Dini

Eni Kartinah | Humaniora
Penanganan Skoliosis Harus Sejak Dini

Istimewa
Dokter spesialis ortopedi konsultan tulang belakang Siloam Hospitals Kebon Jeruk, dr. Phedy, Sp.OT-K.

 

SKOLIOSIS adalah kelainan pada rangka tubuh yang berupa abnormalitas bentuk tulang belakang di mana tulang belakang melengkung seperti huruf C atau S.

World Health Organization (WHO) mencatat setidaknya 3% warga di dunia rentan terkena penyakit skoliosis dan di Indonesia prevalensi skoliosis sekitar 3%-5%.

Kelainan tersebut biasa ditemukan pada anak-anak sebelum masa pubertas, yaitu pada usia 10-15 tahun. Jika dibiarkan, skoliosis dapat semakin parah sehingga dapat menghambat aktivitas seharihari, bahkan dapat menyebabkan penderitanya mengalami gangguan jantung, paru-paru, atau kelemahan pada tungkai.

 “Skoliosis di atas 70 derajat dapat menyebabkan gangguan fungsi paru-paru, sedangkan di atas 100 derajat dapat mengganggu fungsi jantung,” terang dokter spesialis ortopedi konsultan tulang belakang Siloam Hospitals Kebon Jeruk, dr. Phedy, Sp.OT-K. Sebagian besar kasus skoliosis tidak ditemukan penyebabnya atau idiopatik.

Namun,  menurut dr Phedy, beberapa kondisi juga dapat memicu terjadinya skoliosis antara lain cedera tulang belakang, infeksi tulang belakang, bantalan dan sendi tulang belakang yang mulai aus akibat usia (skoliosis degeneratif), bawaan lahir (skoliosis kongenital), serta gangguan saraf dan otot (skoliosis neuromuskular), misalnya penyakit distrofi otot atau cerebral palsy.

Skoliosis dapat semakin parah, kata dr Phedy,  jika dibiarkan atau ditangani dengan cara yang tidak tepat. Akan tetapi, tidak semua penanganan skoliosis harus dengan cara operasi.

“Tidak selalu operasi. Penanganan skoliosis sebenarnya 3O, yaitu: observasi, ortosis atau brace, dan operasi. Observasi dilakukan untuk sudut di bawah 30 derajat. Selain itu, pasien juga dianjurkan melakukan latihan dengan stretching untuk memperbaiki imbalance otot. Untuk pasien dengan sudut 30-40 derajat dan masih dalam usia pertumbuhan biasanya akan diberikan brace,” lanjut dr. Phedy, Sp.OT-K.

Operasi akan dibutuhkan untuk skoliosis dengan sudut di atas 40 derajat. Hal ini karena kondisi tersebut akan menghambat aktivitas dan pada tingkat tertentu bisa menimbulkan ancaman bagi organ tubuh lainnya seperti jantung dan paru-paru. Melihat risiko yang cukup berat, deteksi dini skoliosis harus dilakukan sejak dini disertai pengobatan dan pemantauan yang tepat.

 “Banyak kasus yang datang pada stadium lanjut. Padahal, deteksi dini skoliosis sangat mudah, dapat dilakukan oleh siapa saja, dan tidak membutuhkan alat khusus. Deteksi dini dianjurkan untuk dilakukan pada anak perempuan usia 11 dan 13 tahun dan anak laki-laki usia 13 sampai 14 tahun,” tambah dr. Phedy, Sp.OT-K.

Beberapa tanda–tanda kemungkinan seorang anak menderita skoliosis antara lain bahu tidak sama tinggi, tonjolan punggung tidak sama tinggi, lipat pinggang tidak sama tinggi, panggul tidak sama tinggi, jarak siku ke tubuh tidak sama, dan tonjolan punggung atas atau bawah tidak sama tinggi saat membungkuk ke depan.

“Bila ditemukan salah satu tanda di bawah ini, maka kemungkinan seorang anak menderita skoliosis. Bila ditemukan tiga atau lebih tanda di atas maka segeralah berobat ke dokter orthopedi khusus tulang belakang,” papar dr Phedy di Jakarta, Selasa (12/11).

Penanganan skoliosis kini tersedia di Sports, Shoulder, & Spine Clinic Siloam Hospitals Kebon Jeruk, klinik khusus yang memiliki fokus untuk penanganan otot dan tulang yang berhubungan dengan cedera olah raga, kaki, pergelangan kaki, bahu, dan tulang belakang.

Menurut dr Phedy, penanganan cedera pada area tersebut di antaranya cedera ligamen, cedera bantalan sendi lutut, dislokasi sendi, maupun patah tulang dapat dilakukan melalui pemberian obat, fisioterapi, radiofrekuensi (prosedur untuk mengurangi nyeri dengan gelombang radio) hingga tindakan operasi kompleks. (OL-09)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More