Rabu 13 November 2019, 03:20 WIB

Laktasi di Tempat Kerja sebagai Investasi

MI | Humaniora
Laktasi di Tempat Kerja sebagai Investasi

Ilustrasi
Menyusui

 

PEMBERIAN air susu ibu (ASI) eksklusif untuk bayi dalam 6 bulan pertama kehidupannya, khususnya bagi ibu bekerja harus mendapatkan dukungan, baik dari keluarga maupun perusahaan tempatnya bekerja. Untuk itu, model promosi laktasi di setiap tempat kerja harus dianggap sebagai investasi.

Penerapan model laktasi yang jelas dan tepat terbukti membuat pekerja perempuan delapan kali lebih produktif untuk mencapai target kerjanya. Peneliti dari Ikatan Alumni Magister Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Dr dr Ray Wagiu Basrowi menyebut, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 angka pemberian ASI eksklusif untuk bayi 0-6 bulan (prevalensi ASI eksklusif) di Indonesia masih berkisar 32%. Angka itu jauh ketimbang negara-negara lain antara 50%-60%.

"Artinya, tujuh dari 10 ibu tidak berhasil memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kelahiran bayinya," kata Ray di Jakarta. Salah satu faktor utama rendahnya angka prevalensi itu ialah besarnya jumlah ibu pekerja yang berhenti memberikan ASI eksklusif.

Saat ini 55 juta dari 138 juta pekerja di Indonesia ialah perempuan. Sayangnya, sebagian besar dari mereka terpaksa menghentikan pemberian ASI eksklusif di tengah jalan karena cuti melahirkan yang hanya tiga bulan dan tidak tersedianya ruang laktasi memadai di tempat kerja.

Hasil penelitian FKUI, hanya 21 dari 100 pekerja perempuan di Indonesia yang memperoleh fasilitas laktasi memadai, tujuh dari 100 pekerja menikmati program dan edukasi laktasi di tempat kerja dan 98% pabrik tidak memiliki konselor laktasi siaga. Akibatnya, hanya dua dari 10 pekerja yang mampu memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. "Yang menyedihkan, lima dari 10 pekerja perempuan memompa ASI di toilet/kamar mandi karena tidak ada ruang laktasi yang memadai dan privat," tukas Ray.

Menurut Ray, terdapat tujuh model promosi laktasi di tempat kerja. Pertama, perusahaan memberi waktu kerja yang fleksibel untuk memompa ASI atau menyusui bayi serta memperpanjang cuti. Kedua, menyiapkan fasilitas ruang laktasi yang privat dan memenuhi standar kesehatan. Ketiga, menyiapkan materi edukasi laktasi, termasuk manajemen stres.

Berikutnya, menjadikan semua pekerja sebagai target edukasi. Kelima, metode edukasi berupa bimbingan, konseling, maupun grup media sosial. Keenam, pengalokasian waktu konsul konselor minimal satu kali seminggu. Terakhir, penyiapan dokter perusahaan atau konselor laktasi di tempat kerja.

Dokter spesialislaktasi Ameetha Drupadi mengingatkan, posisi menyusui yang benar sangat menentukan kelancaranASI. Caranya, dengan memastikan posisi ibu senyaman mungkin, bisa dalamposisi duduk atau agak berbaring. Ameetha juga mengimbau ibu agar lebihmengutamakan pemberian ASI secara langsung jika dibandingkan dengan memompa. (Ata/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More