Selasa 12 November 2019, 20:35 WIB

Pahlawan dan Keteladanan Berpancasila

Aris Heru Utomo - Direktur Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) | Opini
Pahlawan dan Keteladanan Berpancasila

Facebook
Direktur Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Aris Heru Utomo

PADA 10 November setiap tahunnya, masyarakat Indonesia memeringati Hari Pahlawan Nasional. Penetapan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional yang bukan hari libur dilakukan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 1959 pada 16 Desember 1959 untuk mengenang pertempuran di Surabaya, 10 November 1945.

Pada tanggal tersebut, tentara dan milisi indonesia yang prokemerdekaan berperang melawan tentara Inggris dan Belanda yang merupakan bagian dari revolusi nasional Indonesia.

Memeringati hari nasional seperti Hari Pahlawan tentu saja bukan sekadar seremonial tanpa pengamalan nilai-nilai perjuangan terhadap bangsa dan negara. Peringatan hari nasional merupakan momen untuk mengingat kembali warisan nilai-nilai perjuangan para pahlawan nasional pendiri bangsa seperti nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Pancasila merupakan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendiri bangsa, seperti takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, pantang menyerah, jujur dan adil, percaya kepada kemauan diri sendiri, serta kerja keras untuk membangun Indonesia yang sejahtera, sebagaimana cita-cita para pahlawan.

Sayangnya, seiring derasnya arus informasi terjadi paradoks informasi yang justru memunculkan perselisihan dan penurunan pengamalan atas nilai-nilai Pancasila di masyarakat. Pancasila sebagai pegangan hidup bangsa Indonesia, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya semakin tidak dihayati masyarakat,
Pahlawan Masa Kini

Memeringati Hari Pahlawan 2019, pemerintah menetapkan tema 'Aku Pahlawan Masa Kini'. Melalui tema tersebut, pemerintah mendorong seluruh elemen masyarakat Indonesia kembali memelihara semangat Pancasila yang diamalkan para pahlawan dan tergerak hatinya untuk berjuang membangun negeri sesuai kemampuan dan profesi masing-masing.

Dengan menjadi pahlawan masa kini, setiap insan masyarakat Indonesia kiranya dapat menjaga keharmonisan berbangsa dan bernegara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan selalu mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Sikap dan tindak pahlawan dan keteladanan berpancasila menjadi penting karena merupakan panutan atau mercusuar dalam kegelapan, di tengah situasi yang dinilai semakin banyak dipenuhi dengan permainan politik identitas yang mengumbar kebanggaan primordial.  

Kehadiran sosok-sosok pahlawan sangat dibutuhkan untuk dapat melawan kerasnya penjajahan politik identitas yang dapat merusak perdamaian bangsa. Kisah-kisah kepahlawanan dalam arti luas, bukan sekadar mereka yang berjuang mengangkat senjata di medan perang, mesti memberikan pengaruh yang kuat bagi moralitas masyarakat.

Sosok pahlawan masa kini bisa muncul dari suatu kejadian biasa saja dan dari kejadian sehari-hari yang berlangsung di sekitar kita. Pahlawan bisa jadi adalah mereka yang tidak terliput media massa dan seringkali luput dari perhatian kita semua. Seorang guru adalah pahlawan yang berjasa mendidik anak-anak dan mengenalkan dunia luar. Istilah 'pahlawan tanpa tanda jasa' mempersonifikasikan kepahlawanan guru yang terabaikan.

Seorang olahragawan pun bisa menjadi sosok pahlawan ketika prestasinya mampu mengharumkan nama bangsa dan negara dengan menjadi juara pada kejuaraan internasional yang diikutinya. Begitupun dengan seorang ilmuwan yang bisa menjadi sosok pahlawan saat temuannya bermanfaat bagi banyak orang.

Namun meski pahlawan masa kini bisa datang dari kehidupan kita sehari-hari dan bahwa setiap orang pada dasarnya adalah pahlawan, setidaknya untuk dirinya sendiri ataupun keluarga. kita pun mesti berhati-hati dengan sosok pahlawan yang sengaja diciptakan oleh media. Banyak contoh memperlihatkan masyarakat bisa saja tertipu dengan pencitraan yang dibuat media mengenai sosok pahlawan. Bahwa seorang pahlawan adalah sosok yang sempurna, padahal pahlawan juga manusia biasa.

Kuatkan Pancasila
Menjadi pahlawan masa kini sesungguhnya bukanlah hal yang mudah. Seperti kata peribahasa 'barang siapa yang ingin memiliki mutiara, harus kuat menahan napas dan berani terjun menyelami samudra yang dalam'. Maka untuk menjadi pahlawan tetaplah perlu perjuangan dan kerja keras.

Sadar menjadi pahlawan masa kini bukan suatu hal yang mudah, banyak orang yang kemudian menempuh jalan pintas dengan menjadi pahlawan kesiangan yaitu orang-orang yang ketika masa sulit sembunyi dan susah dicari dan baru tampil ketika masa sulit teratasi serta kemudian mengaku-ngaku bahwa kesuksesan yang diraih berkat usahanya. Pahlawan kesiangan tentu saja tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan tidak layak diteladani.

Di tengah problem seperti itu dan Pancasila yang dinilai surplus ucapan dan terlalu minus tindakan, penguatan pemahaman Pancasila sebagai ideologi bangsa menjadi solusi dalam menghadirkan pahlawan masa kini yang mampu menerima warisan kultural yang dapat meleburkan beragam perbedaan bangsa.

Untuk itu, Pancasila harus terus disosialisasikan dan ditanamkan sebagai ideologi bangsa. Ideologi bukanlah warisan biologis, ideologi adalah warisan kultural yang harus dirawat, dibina dan disosialisasikan secara terus menerus. Pasalnya, tidak ada jaminan bila ada orang tua yang anti Pancasila lalu anaknya juga anti Pancasila, begitu pula sebaliknya.

Proses edukasi dan sosialisasi yang terus menerus dilakukan bukan semata menjadi tanggung jawab Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang dibentuk melalui Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2018, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Dalam menghadapi berbagai ancaman ideologi transnasional dan masalah-masalah intoleransi, radikalisme dan terorisme, kita semua memiliki peran sama besarnya untuk kembali menguatkan Pancasila sebagai bekal dan inspirasi dalam menjadikan generasi muda bangsa sebagai pahlawan-pahlawan masa kini.

Saat ini, radikalisme dan terorisme berkembang karena pengaruh ideologi kekerasan yang menyebar begitu masifnya, antara lain melalui media sosial. Bahkan anak muda sampai orang tua, pegawai negeri sampai anggota TNI/Polri, bisa terpapar paham intoleran dan radikal.

Karena itu, penguatan Pancasila sebagai ideologi negara yang dilakukan BPIP dan seluruh masyarakat diperlukan untuk menetralisir kehadiran ideologi-ideologi yang membahayakan tersebut.

Penguatan Pancasila diharapkan dapat menyadarkan kembali kelahiran Indonesia dari bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang merdeka, bangsa yang berpikir merdeka. Menyadarkan kembali bahwa Indonesia bukanlah bagian dari orang-orang yang tidak merdeka dalam berpikir. Pengalaman yang terjadi di Suriah, Irak, atau Afghanistan yang peradaban-peradaban besarnya hancur karena pikiran yang tidak merdeka dan saling meneror, kiranya tidak menimpa Indonesia.

Karena itu, dalam rangka penguatan Pancasila, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengisahkan dan mengabarkan keteladanan para pahlawan secara terus menerus agar generasi penerus bangsa mengenal gambaran karakter bangsa yang diharapkan.

Ibarat sebuah lukisan, karakter adalah lukisan jiwa yang mencetakkan dasar kepribadian seseorang/kelompok orang, yang terkait dengan kualitas-kualitas moral, integritas, kesegaran serta kekhasan potensi dan kapasitasnya, sebagai hasil dari suatu proses pembudayaan dan pelaziman. Pahlawan dengan segala kelebihan dan kekurangan manusiawinya bisa menyadarkan sesama manusia lain untuk meniru keteladanannya.  

Dalam kaitan ini, Pancasila sebagai dasar dan cita-cita bangsa Indonesia yang terpatri dalam diri setiap pahlawan merupakan hal yang sudah seharusnya ditiru dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai dalam setiap sila Pancasila memiliki arti yang sangat jelas untuk dapat digunakan dalam keseharian hidup bangsa Indonesia yang beragam.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More