Selasa 12 November 2019, 09:17 WIB

Kemenkes: Kolera Babi tidak Menular ke Manusia

Rifaldi Putra Irianto | Humaniora
Kemenkes: Kolera Babi tidak Menular ke Manusia

ANTARA/Septianda Perdana
Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut mengamati bangkai babi yang dibuang pemiliknya di Danau Siombak Marelan, Medan

 

KASUS kematian babi akibat virus hog cholera (kolera babi) terus bertambah. Berdasarkan laporan dari 11 kabupaten dan kota di Sumatra Utara, tercatat sekitar 5.800 ekor babi mati akibat virus tersebut.

Kasus kolera babi tersebut mulai meresahkan banyak masyarakat di Sumatra Utara. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir. Pasalnya, penyakit tersebut tidak menular ke manusia.

"Kolera babi dan african swine fever sejauh ini tidak menularkan kepada manusia. Tidak menular dari hewan kepada manusia. Itu prinsipnya," kata Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Anung Sugihantono di kantor Kemenkes, Jakarta, Senin (11/11).

Baca juga: Kemenkes Didorong Terbitkan Regulasi Rokok Elektrik

Kendati tidak menular, Anung mengatakan virus tersebut dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, Akibat dari pembuangan bangkai ke sungai.

"Kejadian kolera babi di Sumut itu yang kita pikirkan justru pembuangan bangkai di sungai. Padahal, pengguna air tanah di sekitar Sumut sangat tinggi. Hal itu bisa menimbulkan pencemaran lingkungan," jelasnya.

Anung menilai pembuangan bangkai babi yang dilakukan masyarakat ke sungai, dikhawatirkan dapat memicu penyebaran bakteri E coli yang akan berdampak pada manusia.

Sebab, bakteri E coli dapat muncul di resapan air tanah yang kerap kali digunakan masyarakat baik untuk konsumsi maupun sebagai kebutuhan rumah tangga.

"Semua tempat yang dijadikan tempat buangan bangkai babi agar mewaspadai air tanah di sekitar situ. Meski tidak ditemukan kumannya kolera babi, tapi malah E coli yang sebabkan pencemaran lingkungan," ujarnya.

Disebutnya, tidak ada ciri khusus secara kasat mata yang membedakan air yang tercemar bakteri E coli. Namun, air tanah yang tercemar bakteri E coli memiliki bau yang tidak sedap dan tidak enak dikonsumsi.

"E coli itu bisa menularkan diare, yang paling bahaya jika kemudian bisa menjadikan infeksi di saluran pencernaan, " tuturnya.

Ia juga akan meminta dinas kesehatan setempat untuk melakukan pengecekan terhadap daerah yang tercemar tersebut.

"Saya minta secara periodik Dinkes melakukan pengecekan. E coli ini berbahaya bisa merusak indikator mutu air," tukasnya. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More