Senin 11 November 2019, 21:40 WIB

Kurangi Sampah Impor lewat Pembangunan Sistem Daur Ulang

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Kurangi Sampah Impor lewat Pembangunan Sistem Daur Ulang

ANTARA FOTO/Risky Andrianto/wsj.
SAMPAH IMPOR DI TPA BURANGKENG BEKASI:

 

BELAKANGAN ini Indonesia kerap menerima limbah impor dari sejumlah negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, dan Jerman. Sustainable Business Advisor Unilever, Sinta Kaniwati, mengatakan, sampah impor muncul karena adanya kebutuhan tetapi pasokan tidak mencukupi.

"Sebenarnya secara bahan baku di Indonesia nggak kurang, tapi bagaimana caranya agar kualitas dari kemasan bekas pakai bisa bersaing dengan sampah impor," kata Sinta dalam acara Indonesia Circular Economy Forum (ICEF) 2019 di Hotel Harris Vertu, Jakarta, Senin (11/11).

Selain itu, sistem pengumpulan sampah di Tanah Air dinilai belum evisien sehingga harga sampah daur ulang relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan sampah impor dari luar negeri.

Sinta mengatakan, Indonesia dapat mengurangi, bahkan menghentikan impor sampah jika sistem daur ulang di dalam negeri sudah terbangun dengan baik. Selain kesadaran masyarakat, dibutuhkan pula perhatian dari pemerintah agar ekosistem daur ulang dapat berkembang.

"Sebenarnya industri ini (daur ulang) akan tumbuh jika dari pemerintah memberikan regulasi yang kondusif salah satunya regulasi tentang bagaimana untuk bahan daur ulang plastik diterapkan," kata Director of Sustainable Development Danone Indonesia, Karyanto Wiboyo.


Baca juga: Kemenkes Didorong Terbitkan Regulasi Rokok Elektrik


Di samping itu, Karyanto berharap pemerintah juga dapat memberikan insentif secara keseluruhan agar industri daur ulang bisa terus berkembang.

"Contohnya seperti pajak terkait dengan PPN, karena kalau kita lihat di Indonesia industri daur ulang akan banyak berhubungan dengan sektor informal yang mereka juga bukan perusahaan yang kena PPN jadi ada gap terkait dengan pajak," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Head of Environment Unilever Indonesia Maya Tamini menambahkan, pemerintah bersama industri perlu bersama-sama mengkoordinasi sektor informal, dalam hal ini pemulung dan pelapak yang sebenarnya memiliki peran besar dalam industri daur ulang namun hampir tidak pernah tersentuh program-program pembangunan.

"Industri harus dibantu agar lebih ideal, agar pelaku industri daur ulang bisa bertumbuh terus. Sementara ini adalah kunci terjadinya circular economy dan hasil produksi dari mereka sangat dibutuhkan untuk menjadi supply material," imbuhnya.

Pada akhirnya, pembangunan infrastruktur yang memadai dengan turut melibatkan pemerintah daerah dan adanya sinkronisasi antara pemerintah daerah dan pusat, turut menjadi syarat agar sistem daur ulang di Indonesia dapat dibangun dengan baik, baik di kota maupun di desa. (OL-1)

 

Baca Juga

DOK ENESIS

OTG dapat Vitamin C 1000mg Gratis dari Amunizer

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 14:26 WIB
Gerakan 'Amunizer Bantu Indonesia Bangkit' ini dapat diikuti oleh seluruh masyarakat yang terkonfirmasi positif dan tanpa gejala di...
ANTARA/Iggoy el Fitra

3 Tips Atasi Kecanduan Internet pada Anak

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 12:45 WIB
Kecanduan internet dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental...
ANTARA/ Indriyanto Eko.S

1.542 Relawan Vaksin Covid-19 Telah Dapatkan Suntikan Kedua

👤Atalya Puspa 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 11:35 WIB
Masyarakat menunggu uji klinis vaksin covid-19 sukses dan aman digunakan untuk mencegah penyebaran virus korona yang hingga kini masih...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya