Senin 11 November 2019, 20:17 WIB

Kementan dan IPB Bangun Kolaborasi Untuk Pertanian 4.0

mediaindonesia.com | Ekonomi
Kementan dan IPB Bangun Kolaborasi Untuk Pertanian 4.0

DOK KEMENTAN
Mentan SYL menerima Rektor IPB Arif Satria di Kantor Kementan.

 

Kementerian Pertanian (Kementan) berkolaborasi dengan IPB (Institut Pertanian Bogor) beserta jajarannya untuk bangun pertanian menuju era 4.0. Dalam kunjungannya, rektor IPB beserta tim diterima langsung oleh Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo untuk membicarakan perihal kolaborasi yang akan dilakukan antara IPB dan Kementan dalam waktu dekat.

Mentan mengungkapkan bahwa kementerian sangat membutuhkan peran serta kampus dalam memberikan saran untuk perkembangan pertanian ke depannya.
    
“Saya butuh bapak rektor, saya butuh teman teman dari IPB semua. Jangan tinggalkan saya di sini. Pak Rektor dan teman teman IPB tentu lebih tahu secara akademik perihal pertanian dari yang saya pahami. Saya mau kerja Pak, tentu saya harus punya sandaran,” ungkap Syahrul saat menerima Tim IPB sewaktu berkunjung ke Kantor Pusat Kementan, Senin (11/11/19).

Mentan juga turut mengungkapkan perasaan senangnya melihat kedatangan langsung Rektor IPB beserta Tim yang tujuannya untuk membicarakan kolaborasi program Kementan yang bisa disinergikan dengan program IPB.

“Saya besar hati hari ini karena ternyata saya tidak sendiri, ada IPB. Jadi selama ada IPB bersama saya, kalau Kementerian Pertanian salah berarti IPB yang salah. Oleh karna itu 'guidance' saya yang mana kita bisa sama-sama. Maaf saya 25 tahun jadi kepala daerah, Pak. Selalu perguruan tinggi yang jadi sandaran saya. Cuman memang biasa saya combine antara teori yang ideal yang hitungannya biasanya mahal mahal dengan kondisi yang seperti apa yang kami temui di lapangan seperti itu. Saya engak biasa jalan sendiri ada perguruan tinggi di balik saya,” tutur Syahrul.

Mentan mengakui jika saat ini hasil di lapangan akan menjadi skala prioritas yang penting. Di mana hasil yang didapatkan dari kinerja yang dilakukan juga harus cepat apalagi di era 4.0 ini.

“Saya orang lapangan dan seperti mana implementasinya dan kelemahannya saya yakin saya orang yang ingin cepat lihat hasilnya. Jadi tidak bisa kita komit tapi lapangannya seperti apa nih,” tuturnya.

Syahrul juga meminta seluruh jajarannya untuk selalu belajar melihat kondisi lapangan negara maju saat ini seperti apa. Bagaimana perkembangan di negara lain saat ini. Serta melihat level pertanian Negara saat ini sehingga Kementan bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju.

“kita sudah di level mana nih dan itu yang harus dikejar. Saya butuh kampus untuk mem-backup saya. Kita kejar Pak ketertinggalan kita. Mulai dari seperti apa supporting mekanisasi yang baik, juga bijaksana melihat demografi kita yang juga sangat besar,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor IPB, Prof Dr Arif Satria, SP, MSi, mengatakan Mentan sangat luar biasa menyambut baik kedatangannya bersama tim. Karena memang Mentan punya keinginan besar agar polose polose ke depan yang ditampilkan Kementan itu punya basis sainstifik yang demikian kuat.

“oleh karena itu institusi IPB diharapkan bisa mensupport polose polose dan program pemerintah dan tadi sudah saya sampaikan juga bahwa era ke depan adalah era di mana data itu menjadi kekuatan dan kebetulan ini sinergis dengan apa yang dilakukan Pak Menteri bahwa kita sama sama bicara akurasi data penting untuk mengambil keputusan yang tepat,” ucap Arif.

Arif mengungkapkan akan terus menggali data, terus perkuat data yang ada dan termasuk juga di dalamnya perihal bagaimana perkembangan untuk regenerasi petani di mana kondisi saat ini petani Indonesia rata-rata sudah berumur di atas 47 tahun.

“Petani di Indonesia akan mengalami krisis 10 tahun lagi sampai 15 tahun lagi. Dan itu kalau tidak diantisipasi maka akan benar-benar krisis. Program Kementan dan IPB ada program generasi petani membangun petani-petani milenial untuk memperkuat ketahanan pangan dari sisi hulu dan dan pelaku pelaku usaha di lapangan,” tambahnya.

Di samping itu, Arif mengatakan jika saat ini IPB memiliki program untuk mencetak technopreneur serta mencetak sociopreneur dengan pemanfaatan hasil di lapangan yang akan semakin terjamin.

“Technopreneur adalah pelaku usaha, sosiopreneur adalah orang-orang yang memanfaatkan inovasi untuk pendampingan. Apalagi di era 4.0, di mana teknologi berbasis artificial intelegent dan blockgent ini kan sudah luar biasa. Nah ini akan kita perkuat dan semoga akselerasi penerapan 4.0 ini akan bisa kita lakukan dan pada saat yang sama sehingga kita akan lakukan proses percepatan transformasi masyarakat di pedesaan supaya mereka bener-benar siap dengan teknologi baru ini,”kata Arif.

Arif mengungkapkan juga bahwa tim IPB beserta jajarannya dalam waktu dekat akan mensupport war room yang akan segera dibentuk oleh Kementan.

“Dalam waktu dekat ini IPB akan mensupport War Room jadi pusat pengendalian data pertanian nasional. Dan Pak menteri minta agar penguatan IT dan penguatan substansi aspek digitalisasi itu menjadi penting,” imbuhnya.

Arif turut menambahkan jika dalam waktu dekat Mentan beserta jajarannya akan datang ke IPB untuk mendiskusikan lebih jauh perihal apa yang bisa dikerjakan bersama khususnya untuk menyongsong 2020.

"Apa yang harus disinergikan research-nya. Dan saya sampaikan juga bahwa saatnya Litbang Kementan dengan IPB ini harus makin kuat sinerginya. Jadinya seperti yang terjadi di Belanda dan Jepang. Di mana university besar punya sinergi kuat untuk research antara kampus dan pemerintahan. Dan di sana tidak ada dualism lagi namun sudah menyatu. Kita berharap sinergitas ini saling menguntungkan, saling memanfaatkan, saling membesarkan, dan lebih terarah dan teratur karena fokus pada hal yang bisa kita lakukan bersama," pungkasnya. (RO/OL-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More