Senin 11 November 2019, 19:40 WIB

Kemenperin Dukung Pameran Internasional SIAL Interfood 2019

Hilda Julaika | Ekonomi
Kemenperin Dukung Pameran Internasional SIAL Interfood 2019

ANTARA
Pameran SIAL Interfood

 

PADA Triwulan III 2019 ini, kontribusi industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia mencapai 6,25% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyumbang sebesar 37% terhadap PDB dari industri pengolahan non-migas.

Untuk memperkuat peran industri mamin pada pertumbuhan ekonomi ke depannya, Kementerian Perindustrian mendukung diselenggarakannya pameran internasional tahunan, SIAL Interfood 2019 yang akan digelar pada 13-16 November 2019 ini.

CEO PT Kristamedia Pratama, Daud Darmasalim, mengatakan, SIAL Interfood 2019 sudah diadakan ke 19 kali di Jakarta, Indonesia. Pameran ini merupakan pameran yang menyediakan makanan dan minuman secara global atau global food market.

"SIAL telah memiliki jaringan pameran terbesar di dunia yang bertempat di Paris dan di Asia ada di China, Benua Amerika Utara di Kanada, Tmur Tengah ada di Abu Dhabi, India, dan kita di Indonesia juga sebagai partner," ujar Daud.

Pameran yang akan digelar di JIExpo Kemayoran ini diikuti oleh 880 perusahaan dari 30 negara. Perusahaan-perusahaan ini akan menghadirkan produk-produk makanan berkualitas tinggi dari berbagai bangsa di dunia.

Daud menambahkan, penyelenggaraan pameran tahun ini mengalami peningkatan dalam hal jumlah peserta sebanyak 9-10%. Tahun ini, para peserta menampilkan kebih dari 28 sektor. Antara lain, produk susu dan telur, keju, daging, ikan dan produk hasil laut, produk makanan organik, hingga peralatan memasak.


Baca juga: Daya Saing Industri Mamin Indonesia masih Rendah


Sementara itu, untuk transaksi ekonomi yang terjadi pada penyelenggaraan SIAL Interfood 2018, Daud tidak bisa memberikan informasi dengan pasti. Dia hanya bisa memperkirakan transaksi yang terjadi pada penyelenggaraan tahun lalu.

Menurutnya, ada dua hal yang harus dicatat, yakni transaksi saat pameran dan transaksi setelah pameran berlangsung.

Dari data yang Daud lontarkan, ada pengusaha yang memang menjual barang dari produk sampel yang dibawa saat pameran. Namun, ada transaksi penjualan dan pembeliah setelah pameran berlangsung. Hal ini disebabkan terdapat sampel produk yang tujuannya untuk tes pasar dan belum mendapatkan izin dari BPOM. Lantas setelah mendapat izin penjualan, barulah terjadi transaksi ekonomi tersebut dengan pembeli yang tertarik saat penjualan di pameran SIAL Interfood.

"Namun, kalau untuk memperkirakan transaksi yang terjadi pada 2018 mencapai Rp300-Rp400 miliar. Hanya saja ini tidak eksak," ungkapnya.

SIAL Interfood 2019 merupakan sebuah platform B2B yang memberikan peluang bisnis bagi seluruh peserta pameran. Untuk mempromosikan produk, melakukan bisnis dan mencari solusi untuk kebutuhan bisnis bersama. Pameran ini turut didukung oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Kemenperin, Kementerian Perdagangan Indonesia dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. (OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More