Senin 11 November 2019, 12:17 WIB

Kementan Beli Drone yang Mampu Baca Kesuburan Tanah

Andhika prasetyo | Ekonomi
Kementan Beli Drone yang Mampu Baca Kesuburan Tanah

Antara
Ilustrasi Drone

 

KEBERADAAN teknologi yang semakin hari semakin canggih tidak bisa lagi dihindari dari kehidupan manusia. Berbagai kegiatan akan semakin efektif dan efisien jika dilaksanakan dengan memanfaatkan kekuatan teknologi, termasuk dalam bidang pertanian.

Hal itulah yang akan mulai digalakkan Kementerian Pertanian demi mendorong kinerja sektor agrikultur Tanah Air ke arah yang lebih baik. Kementan telah membeli dua pesawat nirawak Aeropro Type B yang diproduksi Inaero.id, perusahaan lokal yang berbasis di Yogyakarta.

Pesawat tersebut memiliki kemampuan untuk memetakan dan membaca kesuburan tanah, hasil pertanian, waktu panen dan berbagai hal lain.

"Kita tidak bisa menampik kekuatan teknologi yang ada. Semua itu bisa membangun pertanian dengan produktivitas yang makin baik dengan biaya produksi yang makin rendah," ujar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di kantornya, Jakarta, Senin (11/11).

Baca juga:Kementerian KUKM Rebranding Koperasi ke Milenial

Aeropro Type B memang memiliki jangkauan pemetaan yang cukup luas dalam waktu singkat yakni maksimal 10 ribu hektare dalam dua jam terbang.

SYL menyebut pihaknya masih akan melakukan uji coba terhadap dua drone yang sudah dibeli.

Bagaimanapun, selain melihat dari segi efektivitas dan efisiensi, pemerintah juga harus memandang dari segi tenaga kerja yang akan tergantikan dengan keberadaan teknologi.

"Kita harus ingat bahwa penduduk kita sangat besar, jumlah demografi tenaga kerja kita sangat besar. Tapi di sisi lain kita tidak boleh mengelak dari kekuatan teknologi. Jadi kita harus menyikapi ini dengan bijaksana," tuturnya.

Secara lebih rinci, CTO Inaero.id Rake Silverrian menjabarkan kemampuan drone yang pihaknya ciptakan.

Melalui pemetaan udara, Aeropro Type B bisa melihat kesuburan tanah. Dengan kemampuan itu, pemerintah bisa menentukan daerah mana saja yang perlu diberikan alokasi pupuk bersubsidi.

"Kalau tanahnya sudah subur, tapi dikasih pupuk terlalu banyak kan malah jadi tidak bagus. Jadi ini penting untuk manajemen pupuk," jelas Rake.

Selain itu, drone yang dihargai Rp150 juta per unit itu juga mampu mengetahui kapan tanaman akan panen. Dengan begitu, para offtaker bisa langsung mengambil hasil panen ke petani tanpa melalui tengkulak.

"Jadi perusahaan bisa langsung ambil dari petani karena sudah tahu daerah mana saja yang panen. Tanpa melalui tengkulak, harga pembelian juga pasti lebih murah. Ini bisa menekan harga di tingkat konsumen," ucap dia.

Rake mengatakan pihaknya sudah menjual drone-drone secara komersial.

Terkait penjualan kepada Kementan, ia melakukan modifikasi dengan menambah sensor-sensor yang dibutuhkan untuk membaca situasi lahan pertanian.

"Sudah dibeli dua. Ada peluang untuk ditambah. Nanti kami bertemu dulu dengan Pak Mentan (SYL)," paparnya.

Ia menyebut drone yang dihasilkan Inaero.id memiliki harga yang jauh lebih murah ketimbang pesawat nirawak buatan asing dengan spesifikasi dan kemampuan yang sama.

"Kalau impor itu bisa US$60 ribu (setara Rp840 juta) per unit," tandasnya. (Pra/A-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More