Minggu 10 November 2019, 18:09 WIB

Genjot Produktivitas Pertanian Lewat Pelatihan dan Teknologi

Hilda Julaika | Ekonomi
Genjot Produktivitas Pertanian Lewat Pelatihan dan Teknologi

MI/Susanto
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (tengah) di Raker dengan Komisi IV DPR RI

 

PRODUKTIVITAS pertanian Indonesia masih dinilai rendah di tengah pertumbuhan populasi penduduk yang berkembang. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan untuk mengusung pertanian yang lebih produktif membutuhkan cara-cara baru. Pemanfaatan teknologi diiringi penguatan skill petani menjadi hal yang pasti.

"Dibutuhkan pelatihan-pelatihan secara intensif dan teknologi sudah bisa memfasilitasi itu. Sekarang para petani hampir sudah memiliki android dan memiliki akses," kata Syahrul seusai mengisi acara talkshow Membangun Komunitas Petani, Peternakan, Nelayan Cyber Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0, Harapan dan Tantangannya di Jakarta, Minggu (10/11).

Sebagai informasi, sejak empat tahun lalu Kementerian Pertanian (Kementan) telah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk berbagai alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti autonomous tractor, drone sebar benih, drone sebar pupuk granule, alsin panen olah tanah terintegrasi dan penggunaan obat tanam.

Pendekatan teknologi semacam ini tetap dapat beriringan dengan teknologi berbasis kearifan lokal seperti pola tanam jajar legowo pada padi sawah dan jarak tanaman hortikultura. Jarak tanam yang sesuai akan mampu meningkatkan produktivitas tanaman.

Baca juga: DPR Yakin Mentan Mampu Siapkan Basis Awal Pembangunan Pertanian

Mengenai pemanfaatan pesawat tanpa awak yang dimiliki Kementan, Syahrul tidak menjawab detail. Namun, ia mengatakan bisa dilihat dari program Pasar Gagasan yang dimiliki Partai NasDem. Banyak anak-anak yang bisa menghasilkan drone dengan kualitas bagus untuk pertanian. Drone tersebut pun memiliki teknologi penginderaan yang lebih bagus dan harus dimanfaatkan.

"Kemarin kita melakukan uji coba termasuk mesin-mesin penetasan kita ambil dari sini (Pasar Gagasan)," tuturnya.

Ia pun sempat menyinggung perihal kepastian data pertanian yang akan berdampak banyak pada dunia pertanian Indonesia.

"Tidak ada yang bisa diperbaiki tanpa data. Caranya memperbaiki data adalah dengan melakukan analitik yang baru. Kita mempunyai teknologi baru. Kita punya pencitraan satelit, Artificial Intellegence (AI) hingga Robotic Construction yang bisa mendata ini," pungkasnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More