Minggu 10 November 2019, 14:57 WIB

Apjati Catatkan Remitansi 2019 Sebesar Rp218 Triliun

ahmad Fauzi | Ekonomi
Apjati Catatkan Remitansi 2019 Sebesar Rp218 Triliun

Antara/Lucky R
Para tenaga kerja Indonesia di negara Timur Tengah.

 

MAYORITAS penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) selama ini adalah melalui sektor swasta (private to private).

Perusahaan swasta yang dikenal dengan Perusahaan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) merupakan institusi terbesar dalam menyumbangkan devisa ke negara setelah pemasukan negara dari sektor minyak dan gas bumi.

“Apjati akan terus membantu pemerintah dalam  menyumbangkan devisa melalui penempatan PMI yang terampil ke seluruh manca negara. Mengutip data Bank BRI sampai 2019 tercatat total volume transaksi remitansi sebesar Rp218 triliun,” ujar Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati), Ayub Basalamah dalam kiriman rilisnya yang diterima redaksi, Jakarta, Sabtu (9/11/2019).

Menurut Ayub, tantangan ekonomi Indonesia dalam lima tahun ke depan diakui cukup berat. Mengutip pendapat Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath, Ayub mengatakan ekonomi dunia akan menghadapi masa 'genting' pada 2020 mendatang.

Kegentingan yang tersirat dalam update outlook ekonomi dunia kuartalan meramalkan ekonomi dunia pada tahun ini hanya akan menyentuh 3,2% atau turun jika dibandingkan proyeksi April yang masih 3,3%.

Sementara itu untuk 2020, IMF (Dana Moneter Internaisonal) meramalkan ekonomi dunia akan tumbuh 3,5%, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang 3,6%.

Ayub menjelaskan, kelambanan pertumbuhan ekonomi dunia ini juga akan berimbas kepada Indonesia yang salah satunya ialah dalam hal penciptaan lapangan kerja di dalam negeri.

Apalagi Indonesia juga mendapatkan bonus demografi yang diprediksi akan terjadi pada 10 tahun ke depan. Diprediksi jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) pada 2020-2030 akan mencapai 70%, sedangkan 30% adalah penduduk dengan usia non-produktif (di bawah 15 tahun dan diatas 65 tahun).

Bila dilihat dari jumlahnya, penduduk usia produktif mencapai sekitar 180 juta, sementara penduduk non-produktif hanya 60 juta.

Karena itu, lanjut Ayub tidak ada pilihan lain kecuali Apjati akan mendorong penyiapan PMI yang terampil dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan para pengguna di luar negeri.

Kami memahami bahwa pidato Presiden Jokowi tentang perlunya bangsa ini menyiapkan agenda sumber daya manusia (SDM) unggul untuk bisa bersaing dengan negara-negara lain itu memang merupakan agenda yang kita persiapkan untuk 5 tahun ke depan.

Negeri Filipina, kata Ayub, mengandalkan pemasukan utama dari sektor pekerja migran yang memiliki kompetensi tinggi. Padahal, jumlah penduduknya lebih kecil dari Indonesia tetapi nilai remitansinya setahun US$24 miliar.
   
Ayub menambahkan, peningkatan remitansi ini berkaitan dengan PMI yang terampil, bersertifikat,  memiliki kemampuan bahasa di negara penempatan, termasuk mampu berbahasa Inggris merupkan bonus utama bagi PMI.

Apjati memahami, bahwa sumber pemasukan dari bahan baku fosil tentu suatu saat akan habis. Karena itu, Apjati bersama stakeholder terkait terus mendorong pengembangan kompetensi PMI agar memiliki daya saya tinggi.

Asumsinya, dengan  dengan jumlah penempatan PMI yang besar seharusnya remitansi yang dihasilkan juga besar.

Pada saat bersamaan, lanjut Ayub, Apjati juga terus melakukan peningkatan kualitas PMI melalui  Sistem Penempatan Satu Kanal (SPSK) ke Arab Saudi yang sudah berjalan saat ini. Selama 8 tahun devisa kita dari Timur Tengah menurun drastis lantaran tidak ada penempatan PMI.

"Karena itu, dengan pembukaan penempatan PMI ke Arab Saudi diharapkan akan meningkatkan remitansi  dari Arab Saudi.  Selain itu, Apjati juga sedang menjalin kerja sama dengan negeri Tiongkok  di sektor awak buah kapal (ABK), perikanan dan sektor manufaktur lainnya," papar Ayub.

Catatan Apjati selama kunjungan ke negeri Tirai Bambu dua bulan lalu melihat adanya permintaan yang tinggi untuk penempatan PMI berketerampilan di sektor kelautan dan perikanan.

Saat ini sudah banyak pekerja asing dari Kamboja, Vietnam, Myanmar, dan Bangladesh yang bekerja di sektor kelautan dan perikanan.

“Galangan industri kapal perikanan laut China banyak membutuhkan ABK dan PMI di sektor manufaktur pengolahan hasil ikan. Intinya, Apjati dalam 5 tahun ke depan akan terus membantu peningkatan remitansi kepada negara melalui penempatan PMI berkualitas, kompeten dan memiliki daya saing yang tinggi,” pungkasnya. (Faw/OL-09)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More